Jejak Islam

Meneladani Wali Songo : Ketika Dakwah Dikelola Sistemik

Wali Songo: sebuah episode historis yang pantas diungkap kembali, agar bangsa muslim Indonesia menegaskan jati-dirinya. Bahwa pengislaman bangsa ini, sedemikian sistemik. Saya mengeksplorasi sekelumit tentang Wali Songo dengan kesadaran, betapa banyak dimensi yang masih perlu didalami. Dari sejarahnya yang tidak sebentar,  setidaknya sejak abad 7 hingga 22 M (14 abad). Pembaca bisa mengetahui, betapa sistematis ulama Indonesia (saat itu masih berwujud kerajaan-kerajaan, belum dalam rangkaian satu negara).

Mengantarkan Walisongo, kita dihadapkan fakta sejarah, bahwa yang disebut Walisongo, bukanlah person atau hanya satu dua orang saja. Sejarah menjelaskan tentang wali songo itu enam angkatan. Itu saja menunjukkan betapa panjangnya sejarah dan berkesinambungannya ikhtiar dakwah yang dijalankan mubaligh kita di Indonesia. Untuk singkatnya, keenam angkatan itu masing-masing sembilan wali: angkatan I (1404-1421), angkatan II (1421-1436), angkatan III (1436-1463), angkatan IV (1463-1466), angkatan V (1466-1478) dan angkatan VI (1478-…). Dari sejumlah nama, Sunan Ampel disebut angkatan II hingga VI (masyarakat Islam di Jawa umumnya, mengenal hanya Walisongo ada lima di Jawa Timur,  tiga di Jawa Tengah dan seorang di Jawa Barat. Rachmad Abdullah memaparkan lebih dalam tentang para wali yang berjuang di Tanah Jawa). Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara merujuk Rachmad Abdullah (2015), mengutip Abdurrahman Elqudsy, bahwa penggunaan istilah “kerajaan Islam” walau dipimpin oleh sultan, meski rancu tapi masyarakat pembaca sejarah memahaminya. Tentang artikel ini, membetot ingatan lama saya, betapa walisongo, menganggapnya, saya terutama, lebih sarat mitos atau dongeng ketimbang sejarah. Saya bersyukur, buku Rachmad Abdullah salah satunya, menepis anggapan salah itu.

Mengawali pengutaraan ini, saya ketengahkan pasca Rasulullah. Bahasan mengerucut pada 1402 M, Sultan Muhammad I sebagai Khalifah Turki Utsmani, membentuk tim dakwah yang dikirim ke Jawa dipimpin Syaikh Maulana Malik Ibrahim terdiri dari sembilan tokoh yang kemudian dikenal dengan sebutan Wali Songo angkatan pertama. Dunia disemangati “balas dendam ”pasca kemenangan Shalahuddin Al-Ayyubi pada perang Salib hingga jatuhnya Kontantinopel di tangan tangan Sultan Turki Utsmani, Muhammad Al-Fatih (1453) yang disambung jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia (Spanyol) di Eropa (1492). Sejarah menggurat kuat jejak itu, bahwa bangsa akhir Eropa memerangi Islam bertahun-tahun, puncaknya, runtuhnyaa Khilafah Islam Turki Utsmani (3 Maret 1924) oleh serangan Zionis Yahudi dan Salibis Kristen Barat. Bagi dunia, eksistensi muslim pulau Jawa sangat penting, bahkan secara geopolitik saat ini sekalipun. Abad keempatbelas, Pulau Jawa kelima di Nusantara pulau terpadat, mungkin sedunia.

Jawa: Pilihan Sadar Ulama

Walisongo adalah sejarah dakwah, dinamika mengenalkan Islam terutama bagi orang Jawa. Karena itu, seorang Raffles pun dalam History of Java yang bertarikh 1817 (setebal 479 halaman) menyebutkan Syekh Jumadil Kubro, pembimbing wali yang pertama. Dikisahkan, Raden Rahmat (Sunan Ampel) mulanya datang dari Champa ke Palembang kemudian meneruskan perjalanan ke Mojopahit. Sejarah Walisongo bisa dikatakan, tentang pengorganisasian pengislaman Jawa. Pengorganisasian itu sedemikian serius, mengerahkan sumberdaya dan energi, bahkan melintasi batas bangsa dan negara (semangat itu yang mengilhami kemerdekaan).

Kitapun menyebut para da’i atau muballigh itu Walisongo Angkatan Pertama. Berawal dari Syekh Maulana Malik Ibrahim yang datang ke Pulau Jawa bersama delapan tokoh lain, atas perintah resmi Sultan Muhammad I (1404 M/808 H). Begitu panjang “dokumen” tentang itu, bahwa termasuk proklamasi kita-pun dalam bingkai sejarah itu. Walisongo Angkatan I itu: 1. Maulana Malik Ibrahim; 2. Maulana Ishak; 3. Maulana  Ahmad Jumadil Kubro; 4. Maulana Muhammad Al-Maghribi; 5. Maulana Malik Isra’il; 6. Maulana Muhammad Ali Akbar, 7. Maulana Hasanuddin; 8. Maulana Alyuddin; 9. Syekh Subakir —  datang naik kapal ke pulau Jawa. Mereka pun berbagi tugas wilayah dakwah. Syekh Maulana Malik Ibrahim mengemban dakwah bersama Maulana Ishak dan Maulana Ahmad Jumadil Kubro di Jawa bagian timur. Sedangkan Maulana Muhammad Al-Maghribi, Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin dan Maulana Aliyuddin merintis dakwah di Jawa bagian Barat.

Tentang dakwah di Jawa masa awal itu, tersebutlah Sultan Al-Gabah – dari negeri Rum. Sultan Gabah menurut historiografi, sosok yang mencoba mengislamkan Jawa dengan mengirim 20,000 keluarga muslim ke Pulau Jawa. Namun niat mulia ini tidak langsung mulus. Karena banyak keluarga muslim yang ia kirim tewas terbunuh. Bahkan menurut R. Tanoyo, orang-orang muslim itu tersisa hanya 200 keluarga. Sultan pun marah atas tewasnya ratusan muslim itu, lalu mengirim ulama dengan kemampuan olah batin yang tinggi ke Jawa untuk membersihkan anasir-anasir jahat yang menyerang orang-orang Jawa itu. Diantara orang sakti itu, tersebutlah Syekh Subakir. Tokoh alim ini dari Persia, dengan keahliannya melakukan ruqyah syar’iyyah daerah-daerah angker yang dihuni jin jahat.

Syekh Subakir (bersama Muhammad Ali Akbar dan Syekh Maulana Al-Maghribi) berdakwah di Jawa bagian tengah. Di sejumlah tempat di pantai utara dikenal sebagai “Makam Panjang”, baik yang terdapat di Gresik, Lamongan, Rembang, dan Jepara diyakini sebagai kuburan atau bekas petilasan Syekh Subakir, berkaitan dengan “usaha ruhani” – menyucikan dengan cara menanam “tanah” di tempat yang dianggap angker.

Demak Men-Tauhid-Kan Jawa   

 “Memperjuangkan Islam” menunjukkan (kepada dunia),bukan tentang strategi dakwah atau sekadar kepandaian, tetapi menekankan akhlak, tindak-tanduk penuh adab yang sangat berbeda dibandingkan umat-umat lain dalam menjejakkan ajaran. Misalnya, bahan internal Islampun, memperhatikan stratigi yang memudian diperbaiki ulama untuk menjaga prinsip-prinsip dakwah. Perlu kehati-hatian mengungkap tokoh-tokoh penting Demak masa lalu. Anasir syi’ah misalnya, yang dalam sejarah dibawa Muntadzar dari Baghdad datang ke Jawa lalu menetap di Pengging. Penutur yang tidak mamahami perspektif akidah yang benar, menonjolkan wira-carita tokoh-tokoh tertentu. Misalnya Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging II) dan putranya yang bernama Joko Tingkir. Sejarah tentang Wali Songo episode kerajaan Islam Demak, meluruskannya.  Rujukan mengenai agama yang membahas kekuasaan menegaskan, diantaranya menyebutkan, Setiap negara yang hukum Islam berkuasa atasnya maka disebut darul Islam. Sebaliknya, jika negara itu dikuasai oleh hukum kuffar maka disebut darul kufri (Ibnu Muflih Al-Hambali, Al-Adab Asy-Syariyyah).

Sari sejarah kita tahu bagaimana Wali Songo mentransformasi cita-cita tauhid, terutama melalui Maulana Malik Isra’il (siyasyah syar’iyyah). Sebagai Wali Songo Angkatan I, beliau memiliki murid-murid yang dipersiapkan menjadi raja, diantaranya Maulana Ainul Yakin (Sunan Giri) dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Tak heran jika beliau mengajarkan fiqh siyasah Islamiyah kepada murid-muridnya. Kitab karya para alim yang diajarkan antara lain: Al-Mukaddimah (Ibnu Khaldun), Al-Siyasah Asy-Syar’iyyah fi Ishlah Ar-Ra’i wa Ar-Ra’iyyah, Al-Hisbah fi Al-Islam (Ibnu Taimiyah), dan Al-Ahkam Ash-Shultaniyyah (Al-Mawardi). Belajar dari masa itu, sebagian besar kita tidak mendapat pelajaran tentang itu meski tidak demi politik.

Kita bisa mengatakan, kesultanan Demak abad 15 itu sebagai daulah Islamiyah. Kekuasaannya dipimpin Sultan Syah Alam Al-Fattah dan Wali Songo sebagai ahli halli wal aq’di sekaligus dewan ulama. Di wilayahnya berlaku hukum Islam berdasarkan kitab Salokantoro dan Angger Suryo Alam. Isi kitab undang-undan kerajaan ini dibuat Sultan Fattah berdasarkan ajaran gurunya, Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) dan mayoritas umat yang berada di daerah kekuasaannya adalah umat Islam. Dalam perkembangannya, ekspansi yang beliau lakukan ke Kudus, Jepara, Pati, Juwana, Rembang, Lasem, Jipang Panolan, Tuban, Sidayu, Gresik, Ampel Denta ke arah timur maupun Semarang, Kendal, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Sunda Kelapa, dan Banten ke arah Barat. Masa itu, eksistensi Kerajaan Islam Demak bertetangga dengan Pajajaran dan Mojopahit, sebagai darul kufar pemeluk Syiwo-Budho.

Babakan tentang sejarah kesultanan Demak, menyinggung “prolog” yang memberikan perspektif ajaran yang berkembang dalam masyarakat. Islam sebagai ajaran yang disampaikan secara utuh, agar menjadi pemahaman (al-fahm) yang menjelma menjadi keyakinan hati (al-I’tiqad fil qalb) serta ucapan lisan (al-qaul bil lisan). Proses dakwah para wali ini menghadapi praktek-praktek Hindu Syiwoisme dan Budhisme (individual maupun kolektif). Makhdum Ibrahim (Sunan Mbonang) me-wanti-wanti agar kaum muslimin menjauhi bid’ah dan kesesatan (dhalalah), sebagaimana terekam dalam dokumen Het boek van Bonang,” E Mitroningsun? Kerono siro iki apoposihono sami-sami niro Islam lan mitroniro kan isih ing siro lan anjegoho siro ing dholalah lan bid’ah.”  

Perkembangan kerajaan Islam Demak ketika itu, menorehkan pergumulan dengan kekuatan darul kuffar. Disebutkan, pada masa meredupnya Majapahit, masih muncul sentakan-sentakan seperti kesepakatan Alfonso d-Albuquerque dengan Prabu Udhoro (Prabu Brawijoyo VIII). Sebelum terjadi kerjasama Mojopahit-Portugis terjadi, Demak telah menggagalkannya bahkan merebut tahta Mojopahit. Sejak itu kekuasaan Mojopahit benar-benar lenyap (ketika Sultan Fattah telah wafat, pada 1527 M). Sejarah menegaskan, kekuasaan berhasil digunakan sedemikian sistematis. Dalam masa itu Sultan Fattah memberlakukan Kitab Salokantoro (pemerintahan dan pegawai) dan Angger  Suryo Alam (berisi hukum pidana, etika dan kemasyarakatan) – yang merevolusi hukum di wilayah Kerajaan Demak dan efektif.  Sekadar memberikomparasi hukum, zaman Kekuasaan Mojopahit berlaku kitab Kutoro Manowo Dharmo Sashtro (ada 19 Pasal, secara ringkas: 1. Peraturan umum tentang bebasnya anak bawah umum/belum baligh dalam hal-hal terlait dengan denda; 2. Astodusto, hukuman menyangkut tindakan melukai dan membunuh. Dari denda hingga hukuman mati; 3. Kawulo, aturan tentang hamba-sahaya/budak menyangkut asal-usul dan perlakuannya sebaga budak; 4. Astocorah, hukum menyangkut 8 jenis pencurian, mulai denda, potong tangan, potong kaki, sampai hukuman bunuh; 5. Sahoso, tentang rudopekso (kekerasan) dan penistaan, mulalui hukuman denda hingga hukuman mati; 6. Adol tinuku, hukum jual-beli dan konsekuensinya; 7. Sando, hukum tentang pegadaian; 8. Hutang-pihutang,  hukum menyangkut yang berhutang dan yang dihutangi; 9. Titipan, menyoal pengaturan barang titipan, hewan, dan uang; 10. Tukon, mengatur mengenai mas kawin mulai jumlah, pengambalian oleh pihak wanita, mas kawin milik istri, dan pembatalan mas; 11. Kawarangan, hukum tentang perkawinan; 12. Porodoro, hukum tentang perbuatan mesum, pelecehan seksual, pemerkosaan. Hukumannya, mulai paling  seperti denda sampai hukuman mati; 13. Drewe Kaliliran, tentang warisan dari keturuan sedarah hingga anak pungut; 14. Wakporusyo, hukum mengenai cacian dan penghinaan; 15. Dandoparusya. Hukuman atas tindakan kekerasan terhadap manusia dan hewan – mulai hukuman badan, penjara, penjara sampai hukuman mati; 16. Kagelehan, hukuman atas kelalaian yang berakibat orang lain celaka; 17. Atukaran, tentang hukuman perkelahian terbuka dan disaksikan banyak orang; 18. Bhumi, mengatur kepemilikan, penggarapan sawah, perkebunan, perikanan, sewa-menyewa; 19. Duwilatek, hukum mengenai fitnah-memfitnah, ini dihukumi dengan hukuman badan, denda sampai hukuman mati).

Pada masa Kerajaan Islam Demak, syariat Islam yang berlaku mengungkap beberapa tema pembahasan yang substansinya tetap difahami kaum muslimin hingga saat ini. Tema-tema itu: aqidah, ibadah, tingkatan Islam, iman dan takwa, amal harian seorang Muslim, penyebab gelapnya hati, larangan melanggar syari’at, anjuran berbuat kebaikan kepada orang Islam, kewajiban mengikuti Sunnah Rasulullah, tanda-tanda seorang syekh, jalan masyayikh menuju kesempurnaan, adab terhadap tetangga, musuh-musuh orang Islam, penyebab kekafiran, hukum orang murtad. Apa yang terhidang dalam syari’at, pasti tak pudar oleh waktu sejak Rasulullah mengajarkan kepada umatnya. Hal itulah dengan konsisten membekas dalam ajaran Wali Songo hingga ulama saat ini dan para guru agama Islam (asaatidz). Ajaran itulah pendorong Kerajaan Islam Demak menjadikan Kerajaan Islam Demak Bintoro sebagai “kekuasaan dakwah”, dengan dakwah Kerajaan Demak Bintoro mengIslamkan Tanah Jawa – dan spektrum pengaruhnya hingga ke banyak tempat di Nusantara dan dunia.

Kerajaan Islam Demak Bintoro menjadikan Masjid Agung Demak sebagai center of gravity. Secara sistematik, Demak mengawali revolusi  dengan Islam, dari Jawa ikhtiar itu dirintis sangat rapi, berlapis-lapis. Wali Songo dalam sejarahnya, menunjukkan makna konsistensi, kesabaran, keberanian, ketekunan, riyadah/latihan yang intens. Wakaf diri Wali Songo dan jamaahnya, menunjukkan motivasi ukhrawi, tak ada sama sekali cerita tentang misi menguasai wilayah, harta, dan keduniaan lainnya. Secara sadar, orang-orang terpanggil itu berpikir untuk bergiat sistemik demi Allah, sejak awal karena itu tak tanggung-tanggung, yang ditemui Khalifah saat itu. Bukan dengan perbincangan bagi-bagi kekuasaan atau wilayah, tetapi langsung atas nama Allah. Mereka semula tokoh agama di daerahnya, tapi tanpa mengatasnamakan daerah asal atau kekuasaan, sadar untuk melebur ke dalam Islam. Kesadaran itulah kesatuan Islam, ukhuwah Islamiyah.

Tentang itu, seharusnya difahami semua bangsa, bahkan dilihat sebagai “hak semua orang” untuk mengekspresikannya. Disebutkan, (1474-1567), seorang pastor Dominican, mengungkap bagaimana perilaku tentara Kristen Spanyol terhadap penduduk asli Amerika. Mereka membantai siapa saja yang ditemui, tanpa peduli wanita, anak-anak atau orangtua . Dan juga membuat aturan jika seorang Kristen terbunuh, maka sebagai balasannya, 100 orang Indian juga harus dibunuh. (Philip J. Adler, World Civilization). Kekejaman penjajah Kristen Barat terhadap manusia, khususnya terhadap Muslim, misalnya apa yang dilakuan Alfonso de-Albuquerque terhadap keturunan Arab yang menduduki Maluku. Salah satunya menyebutkan, pasukan de Albuquerque selalu memisahkan antara penduduk Arab dengan penduduk asli setiap menaklukkan suatu kota, Mereka lalu memotong tangan kaum laki-laki dan memotong hidung dan telinga kaum wanita yang berketuturunan Arab (lihat Jackson J. Spielvogel, Belmont: Wadsworth, Western Civilisazion, 2000, h.395). Karen Amstrong menyebutkan, penaklukan Jerusalem oleh pasukan Islam dibawah kepemimpian Umar bin Khathab (636 M), “Ia  (Umar) memimpin suatu penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang kota itu belum pernah menyaksikan sepanjang sejarahnya yang panjang dan sering tragis. Saat kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada penghancuran property, tidak ada pembakaran simbol-simbol agama lain, tidak ada pengusiran atau pengambilalihan, dan tidak ada penduduk Jerusalem memeluk Islam.” ( A History of Jerusalem: One City, Three Faiths, London: Harper Colins Publisher, 1997).

——————-

Rujukan:

Jackson J. Spielvogel, Western Civilization, 2000, Belmont: Wadsworth, Canada

Philip J. Adler dan Randall L Pouwels, World Civilizations, 2018, Eighth Edition,  Boston (Amerika Serikat)

Karen Amstrong, A History of Jerusalem: One City, Three Faith, 1997, London: Harper Colin Publisher

Rachmad Abdullah, Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad Di Tanah Jawa, 2015, Al Wafi, Sukoharjo

R. Tanojo, 1954, Riwajat Wali Sanga: Babat Djati, Surabaja: Trimurti.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda