Muzakarah

Untuk Apa Mubahalah (1)

Awal Maret lalu Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3)  mengundang lima personel polisi, termasuk Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, untuk melakukan mubahalah bersama phak keluarga korban yang tewas dalam kasus “Penembakan Laskar FPI KM 50”. Menurut Abdullah Hehamahua, anggota TP3, langkah ini diambil untuk mencari tahu siapa yang berbohong, pihak kepolisian atau keluarga korban. “Jadi kalau betul misalnya keluarga korban mengaku bahwa tidak ada pistol dan tidak ada senjata mereka berbohong, ya mereka dilaknat Allah. Begitu pula dari pihak kepolisian. Kalau mereka mengatakan bahwa betul FPI punya senjata, kalau mereka berbohong dilaknat juga oleh Allah. Itu penyelesaian jalan keluar,” kata Hehamahua (3/3/20021). Ia menegaskan bahwa sumpah mubahalah merupakan jalan keluar jika kedua pihak mengklaim paling benar. “Jadi polisi merasa paling benar, yang kemudian keluarga korban merasa paling benar, menurut sistem Islam maka mubahalah,” kata dia.

Persoalan mubahalah ini juga pernah ditanyakan dalam forum Muzakarah Majalah Panji Masyarakat oleh Sdr Gilang P, menyusul kasus kelompok keagamaan pimpinan Lia Aminuddin yang dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia. Lia dkk kemudian menantang siapa pun yang menuduh kelompoknya sesat untuk mubahalah. “Sebenarnya apa sih mubahalah itu?Apakah benar dari ajaran Islam?” Demikian pertanyaan Sdr. Gilang dari Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.   

Jawaban:  Prof. Dr. Fathurrahman Djamil

Mubahalah, secara etimologis bermakna mula’anah, saling mengutuk. Sedangkan menurut istilah, mubahalah adalah suatu cara yang dilakukan oleh dua kelompok orang yang berbeda pendapat untuk mempertahankan keyakinannya tentang suatu masalah yang tidak memungkinkan adanya saksi. Misalnya, atas suatu kejadian di masa silam. Atau kalaupun saksi ditemukan, pihak yang menentang tidak menerimanya karena bertentangan dengan keyakinannya.

Bentuk yang mirip dengan mubahalah adalah masalah li’an. Apabila seorang suami menyaksikan atau menduga kuat istrinya berzina, tetapi ia tidak bisa mengajukan empat saksi yang membenarkan, maka antara suami dan istri itu dilakukan li’an. Bedanya, mubahalah dilakukan antarorang atau antarkelompok, tidak pernah antara suami dan istri.

Mubahalah memang ada dasar hukumnya. Yaitu Q. 3: 61: “Siapa yang membantumu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita ber-mubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Dari ayat tersebut kita memahami, mubahalah itu merupakan perang tanding melalui doa, yang menyertakan anak-anak (keturunan) tiap-tiap pihak berikut istri. Setiap pihak memohon kepada Allah dengan penuh keikhlasan agar orang yang berdusta dikutuk Tuhan dalam kehidupannya, demikian juga kehidupan anak dan istri. Juga mendapat siksa dan murka Tuhan di akhirat. Kalau salah satu pihak yang bersengketa ternyata berdusta, taruhannya adalah keselamatan diri, anak dan istri dalam kehidupan ini, serta mendapat azab pada hari pembalasan.

Persyaratan mengikutsertakan orang-orang yang paling disayangi – anak, istri, keluarga dan keluarga dekat – dalam mubahalah merupakan bukti kuat tentang keyakinan seseorang dengan kebenaran pendapatnya. Sehingga ia berani mempertaruhkan keselamatan hidup dunia-akhirat orang-orang yang disayanginya. Bagaimana praktiknya pada masa Nabi dan sahabat?

 Bersambung  

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 28 Juli  1999

*Prof. Dr. Fathurrahman Djamil, M.A., pernah menjabat  Dekan Fakultas Agama Islam  Universitas Muhammadiyah Jakarta, kini Guru Besar Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.  

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda