Tasawuf

Menjadikan Setan Sekadar Numpang Lewat

Written by A.Suryana Sudrajat

Zikir tidak akan terwujud secara mantap di dalam hati, kecuali kita memakmurkan isi hati kita dengan takwa dan membersihkannya dari sifat-sifat tercela.

Bagaimana mencegah setan agar tidak memasuki hati kita?

Caranya dengan menutup rapat pintu-pintu masuknya. Yakni dengan membersihkan hati dari sifat-sifat yang tercela, ash-shifatul madzmuumah. Jika kita mampu menyiangi kalbu kita dari sifat-sifat yang sedemikian itu, maka setan hanya bisa “numpang lewat” saja, dan tidak betah bermukim di dalamnya.

Setan-setan itu juga bisa kita usir dengan cara berzikir. Namun, seperti diingatkan Imam Al-Ghazali, hakikat zikir itu sendiri tidak akan terwujud secara mantap di dalam hati, kecuali kita memakmurkan isi hati kita itu dengan takwa, dan membersihkannya dari sifat-sifat tercela. Tanpa upaya seperti itu, kata dia, zikir hanya merupakan ungkapan-ungkapan hampa belaka. Atau hanya bisikan-bisikan kosong, yang tidak punya pengaruh atau kekuasaan atas hati sehingga otomatis tidak bakal mampu menolak pengaruh setan.

Masih menurut pengarang Al-Ihya’, setan itu ibarat anjing yang sedang lapar. Jika dia menghampiri kita, sementara kita tidak membawa roti atau daging, kita cukup menggebahnya atau menghardiknya dengan ucapan “husss!!” Dan anjing itu akan lari terbirit-birit. Lain halnya kalau kita sedang memegang roti atau daging, anjing itu tidak cukup dengan di-”huss, huss!! Dengan lain perkataan, ucapan saja tidak bakal mempan untuk mengusir anjing yang lapar itu.

Nah. Begitu pula dengan hati. Jika kosong dari makanan setan, maka hati akan segera terbebas dari waswas dengan cara berzikir saja. Lain halnya kalau hati kita sudah dikuasai hawa nafsu. Zikir saja tidak cukup. Bahkan, hakikat zikir itu akan terdesak ke pinggiran hati, sementara setan menguasai di pusatnya. Jadi, kuncinya adalah takwa. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa manakala mereka disentuh oleh waswas dari setan, mereka akan segera berzikir mengingat Allah. Seketika itu pula hilanglah waswas itu dan mereka menjadi sadar kembali.” (Q. 7: 201)

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda