Hamka

Buya Hamka: Bakhil Pangkal Syirik

Syirik adalah mempersekutukan Tuhan dengan yang lain. Memandang ada yang berkuasa selain Tuhan di alam ini juga dinamakan syirik. Seorang Muslim hanyalah mencintai Allah, tidak terbagi pada yang lain. Jika pun cinta kepada yang lain,  hanya karena yang lain itu nikmat Allah. Misalnya, mencintai anak, istri dan harta benda, tempat kita dilahirkan dan sebagainya. Semuanya itu karena nikmat dari Dia.

Seorang Muslim tidak dapat mencintai yang lain secara langsung, di samping mencintai Allah. Karena kalau ada cinta lain di samping cinta kepada-Nya, itulah cinta yang terbagi. Apabila cinta telah terbagi, maka itulah pangkal syirik. Dan tidak ada pula yang lain yang kita puja kita sembah yang berupa ibadat. Karena yang lain itu semuanya adalah makhluknya belaka.

Ketika kita diperintah Allah untuk mengasihi ibu-bapak, setia kepada negara dan kepala negara, dan hormat kepada guru, itu semua kita laksanakan karena Allah yang menyuruh. Tetapi kita akan sampai beribadat kepada ayah-bunda, atau kepada negara dan kepala negara, atau kepada guru.

Syirik dapat terjadi ketika seseorang menghormati manusia melebihi atau menyamai kehormatan kepada Allah. Atau sebaliknya, takut kepada manusia melebihi atau menyamai takut kepada Allah. Syirik juga terjadi karena seseorang memuja sesuatu, sehingga pujaan kepada Allah menjadi samar.

Diingatkan akan dampak bahaya dari paham yang mendewa-dewakan konsep “cinta tanah air”, yang kemudian melahirkan slogan right or wrong is my  country. Sikap demikian ini melahirkan kolonialisme, merasa bangsanya menjadi bangsa yang paling baik, serta memecah belah umat manusia hanya ke dalam ikatan cinta tanah air. Padahal tanah air adalah sebagian kecil dari dunia yang luas. Dunia pun hanya bagian kecil dari luasnya jagat galaksi.

Dalam pada itu, seseorang dikatakan berada di ambang kemusyrikan ketika ia mendiamkan dan tidak menegur penguasa yang zalim,  tidak menjalankan pemerintahannya berdasarkan prinsip-prinsip keadilan. Sebagai contoh, ketika Umar bin Khattab memerintah, ia mengatakan di hadapan orang ramai agar taat dan mengikutinya selama ia masih di jalan kebenaran. Kalau salah, ia minta ditegur. Seketika bangkit seseorang dan berkata lantang, “Amirul mukminin, jika Tuan keluar dari garis kebenaran kami akan menegurmu, kalau perlu dengan pedang ini.”

Mendengar perkataan itu, Umar tidak bersedih apalagi takut. Ia justru gembira. Sebab, itu adalah pertanda bahwa tauhid masih tumbuh subur di dalam dada kaum muslimin. Sehingga tidak ada tempat ketakutan di hatinya, selain takut kepada Allah, dalam menegakkan kebenaran agama Allah.

Apabila cinta dan takwa telah berpusat kepada Allah, maka harta benda dunia tidak lagi mengikat hati orang yang beriman. Hidup yang dermawan adalah bukti yang amat nyata dari iman dan tauhid. Kalau hati masih lekat kepada harta benda sehingga menimbulkan bakhil, kikir, tandanya sisa syirik masih ada dalam hati. Tandanya, harta benda itu masih dipersekutukan dengan Allah. Oleh sebab itu Tuhan memberikan didikan agar kita murah hati, murah-tangan, terutama di dalam menegakkan jalan Allah. Dan jalan Allah itu amat luas dan mengandung berbagai macam segi, yang semuanya menghendaki pengorbanan harta benda.

Bakhil adalah satu gejala dari syirik. Kebakhilan adalah gejala dari diri yang diperbudak harta. Dia telah mencintai harta melebihi cinta kepada Tuhan yang mengkaruniakan harta.  Umat yang telah mengaku keesaan Allah tidak mungkin menjadi orang bakhil. Umat ini akan tetap berdiri kokoh selama mereka masih berani melepaskan darinya dari pengaruh harta benda.  

Sumber: Hamka, Pelajaran Agama Islam (1978)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda