Cakrawala

Alquran Sumber Pahala dan Kebajikan

Written by Arfendi Arif

Membaca Alquran tidak bisa disamakan dengan membaca buku biasa. Alquran adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Membaca Alquran, mendengarkannya dan mengajarkannya mengandung nilai ibadah serta  mendatangkan pahala. 

Boleh dikatakan  Alquran adalah kitab suci yang sakral. Umat Islam membacanya dengan penghayatan dan menyadari bahwa dalam kandungannya merupakan pedoman bagi manusia untuk mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat. 

Memang di masyarakat kita orang yang membaca Alquran belum merata pemahamannya. Ada yang pandai membaca, tapi tidak sepenuhnya memahami artinya. Ada yang pandai membaca dan paham artinya, tapi mungkin belum sepenuhnya memahami maksudnya.  Ada yang pandai membaca dan tahu maksudnya. Dan, tentu saja dalam masyarakat masih ada yang buta aksara Alquran, meski jumlahnya makin berkurang.

Suatu hal yang patut kita bangga adalah bahwa Alquran menjadi kitab suci yang dicintai masyarakat. Buktinya, banyak orang yang suka menghafal Alquran, bukan hanya orang dewasa, tapi juga remaja dan pelajar, tertarik dan bangga  jika mampu menghafal Quran. Apalagi jika mampu menjadi qari dengan bacaan yang baik dan qiraat yang bagus, ia akan menjadi kebanggaan orang tua dan masyarakat.

Sudah tentu harapan kita ke depan adalah bahwa Alquran makin banyak dipahami isinya, makin dimengerti konsep-konsepnya, dan makin banyak diamalkan isinya serta  diterapkan ajarannya dalam kehidupan sosial, ekonomi dan bahkan di bidang politik-kenegaraan.

Sumber Pahala dan Solusi Keresahan Jiwa

Seperti disebutkan, setiap muslim yang membaca Quran, dalam batinnya ada keyakinan bahwa kitab suci ini adalah Kalamullah atau perkataan  dan firman Allah. Isinya sarat petunjuk dan tuntunan hidup untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, kebahagiaan lahir dan batin. Membaca Quran memberikan banyak kebaikan dan pahala di sisi Allah dan kehidupan.

Satu sisi, misalnya, untuk membuat jiwa tenang dan terjauh dari gelisah. Sebuah kisah diceritakan terjadi di zaman sahabat. Seorang bertanya kepada Ibnu Mas’ud. ” Wahai Ibnu Mas’ud, berilah  nasehat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang sedang gelisah. Dalam beberapa hari ini aku merasa tidak tenteram, jiwaku gelisah dan pikiranku kusut, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak.”

Ibnu Mas’ud memberikan nasehatnya. “Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu tempat orang membaca Quran, engkau baca Quran atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya; atau engkau pergi ke majelis pengajian yang mengingatkan hati kepada Allah.”

Setelah orang itu kembali ke rumahnya, diamalkannyalah nasehat Ibnu Mas’ud r.a. Dia pergi mengambil air wudhu kemudian diambilnya Alquran, terus dia baca dengan hati yang khusu. Selesai membaca Al-Qur’an berubahlah kembali jiwanya, menjadi jiwa  yang tenang dan tenteram, fikirannya jernih, kegelisahannya hilang sama sekali (Lihat, AlQurandanTerjemahannya, Juli Depag RI, 1989, hal. 121).

Memang, bagi orang yang memiliki iman yang mendalam kepada Allah maka Alquran itu bisa menjadi obat penawar, menenangkan hati yang sedang gelisah. “Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (Al-Isra: 82).

Alquran merupakan mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad. Dan kita sendiri menikmati pahalanya apabila ikut mendengar,  membaca dan mengamalkannya. Sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan. “Ada dua golongan manusia yang sungguh-sungguh orang dengki kepadanya, yaitu orang yang diberi oleh Allah kitab suci Alquran, dibacanya siang dan malam; dan orang yang dianugerahi Allah kekayaan harta, siang dan malam kekayaan itu digunakannya untuk segala sesuatu yang diridai Allah.”

Suatu hal yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad adalah agar umat Islam sering membaca Quran dalam rumah tangga. Sebab, rumah yang acap dikumandangkan bacaan Quran akan mendapatkan rahmat dari Allah. Hadis riwayat Baihaqi dari Anas r.a. Rasulullah menyatakan, “Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan salat dan dengan membaca Alquran.”

Bahkan, Nabi mengatakan rumah tangga yang tak pernah diperdengarkan Alquran akan menjadi rumah tangga yang tidak damai, suasana menjadi gelisah, jiwa penghuninya sempit dan susah, bahkan memunculkan kejahatan. Hadis dari Anas r.a. yang diriwayatkan Darul Quthni, Rasulullah menyatakan, “Perbanyaklah membaca Alquran di rumahmu sesungguhnya di dalam rumah yang tak ada orang membaca Quran, akan sedikit sekali dijumpai kebaikan di rumah itu, dan akan banyak sekali kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah”.

Mengenai pahala membaca Quran sahabat Ali bin Abi Thalib menjelaskan, tiap-tiap orang yang membaca Quran dalam salat pahalanya lima puluh kebajikan tiap huruf yang diucapkannya, membaca Quran di luar sembahyang dengan berwudu dua puluh lima kebajikan tiap huruf yang diucapkan, membaca tanpa wudu di luar salat sepuluh kebajikan pahalanya tiap huruf yang dibaca.

Yang menarik bukan hanya orang yang membaca Al-Quran yang mendapatkan pahala dan rahmat dari Allah, orang yang mendengarpun mendapat pahala. Ini sesuai dengan firman Allah dalam Alquran. “Dan apabila dibacakan Quran, maka dengarkanlah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang, agar kamu mendapat rahmat (Al-A’raf: 204).

Rahmat yang dimaksud adalah menghibur hati yang sedih, menenangkan jiwa yang gelisah, melunakkan hati yang keras dan mendapat petunjuk dari Allah. Tentu saja apabila kita mendengarkan Al-Qur’an yang dibaca dengan baik. Inilah yang dimaksud dengan mukjizat wahyu Ilahi, apalagi kalau dibaca dengan suara yang merdu, lidah yang fasih akan memberi pengaruh pada jiwa yang mendengarkannya, bertambah takjubnya kepada Allah, menambah tebal imannya, dan makin memikat terus untuk mendengarkan, membaca dan memahami Alquran.

Menarik juga disini dikemukakan pendapat Syeikh Muhammad Al-Ghazali, ia mengungkapkan disamping membaca Quran untuk mendapatkan berkahnya, juga harus diusahakan untuk mendalami dan memahami isinya.  Menurut Al-Ghazali, Alquran yang ada di tengah-tengah kita membutuhkan pemahaman yang mendalam dan perlu dipelajari. Menurutnya, sekarang ini ada kecenderungan sekedar membaca Alquran tanpa memahami isinya. Menurut Al-Ghazali, kemunduran umat Islam disebabkan kurang mendalami aspek isi dari Alquran. Al-Ghazali menjelaskan, bangsa Arab yang menemukan sebuah peradaban baru yaitu peradaban Islam yang memiliki peran sangat tinggi dalam sejarah peradaban, melebihi peradaban bangsa bangsa besar waktu itu, justru diilhami Alquran yang memang banyak memberikan perhatian pada masalah kemanusiaan ( Lihat Syaikh Muhammad Al-Ghazali, AlQuran Kitab ZamanKita, Mizan Pustaka, Bandung, 1991, hal. 32-33).

Buat  umat Islam di Indonesia, di samping aspek kecintaan untuk membaca Alquran  baik hafalan, seni qiraat dan lainnya, aspek pemahaman,  pendalaman isi dan pengamalannya harus diaktifkan dan ditingkatkan. Kita berharap kemajuan peradaban Indonesia diilhami dan dinafasi Alquran. Aamiin Yaa Mujibas Saailiin.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda