Berbagi Cerita Corona

Suka Duka Corona

Written by Alfiah Khairiatul

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19. Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com –Pemimpin Redaksi

Jakarta – Akhir-akhir ini semuanya terasa berbeda. Kebutuhan sosial semakin sulit didapat, toko-toko sepi, jalan-jalan dialihkan, sekolah tutup. Hanya rumah yang menjadi tempat bernaung, seperti istana sekaligus penjara. 

Banyak berita-berita membawa duka, banyak punya yang mengumumkan betapa mengerikannya dunia kita saat ini. Itu dimulai ketika virus corona dari Wuhan- China mewabah ke seluruh dunia, termasuk negeri tercinta kita, Indonesia.

Virus corona menjadi salah satu ancaman nyata yang ditakuti hampir semua orang. Sudah puluhan ribu orang meninggal di Indonesia. Entah berapa banyak lainnya yang masih harus bertahan hidup di ruangan isolasi. Berapa banyak lagi tenaga medis yang harus dikerahkan demi menyelamatkan mereka.

Semua orang waspada jika menemui ciri-cirinya, ketakutan menyebar dimana mana, dulu boleh bersama sekarang harus terpisah. Kisah- kisah penderita terdengar pilu di telinga. Mereka hanya bisa diam, entah sampai kapan. Dijauhi banyak orang, tanpa teman, bagai tanpa masa depan.

Rasanya mereka ingin mengakhiri hidup saja, namun ingat Tuhan. Satu satunya penolong, hanya Tuhan, kita harus tetap berusaha hidup dan mati bukan permainan. Ini adalah takdir yang sudah digariskan. 

Orang-orang berlomba lomba taat peraturan, memberi perhatian lebih terhadap setiap tempat yang disinggahi. Semprot sana-sini, olahraga tiap pagi, berjemur di bawah matahari, pakai masker setiap hari. Semua menjadi kebiasaan saat ini, dan wajib diikuti untuk mengurangi efek pandemi.

Hingga suatu hari, orang satu kampungku geger ketika ada yang meninggal dengan tiba-tiba. “Gejalanya sesak, sakit tenggorokan,” kata keluarganya, meneruskan keterangan dokter yang menanganinya.

Kerabat yang datang bertakziah di periksa, semua menggunakan pelindung lengkap. “Kita di cek suhu, pakai masker, tidak boleh melihat atau menyentuh almarhum, ngaji juga di luar,” kata salah seorang yang bertakziah.

Semua merasa tidak wajar, namun keluarga yakin ini bukanlah efek pandemi, suaminya selalu mematuhi protokol kesehatan dan sebagainya.

Tetapi tokoh masyarakat setempat menyarankan untuk menggunakan tata cara yang sesuai dengan keadaan saat ini. Sedih memang, keluarga harus berlapang dada mengikuti semua ketentuan yang ada saat ini.

Suara ambulans berdengung, menjemput jenazah ke pemakaman khusus. Padahal hasil pemeriksaan belum juga terlihat. Istrinya tidak rela jika almarhum suaminya dimakamkan di tempat nan jauh yang tidak bisa dikunjungi. Tetapi apalah daya, semua protokol sudah siap, ia hanya bisa menagis dipelukan anak-anaknya. Sambil berdoa kepada Tuhan, semoga suaminya ditempatkan di sisi-Nya.

Dunia saat ini dimusuhi, entah sampai kapan ini berlangsung. Sulit untuk percaya, tetapi kita harus tetap saling menjaga.

Beberapa hari kemudian setelah kejadian, rumah sakit melayangkan surat kepada sanak keluarga almarhum. Dibaca oleh istrinya bahwa suaminya meninggal karena memiliki riwayat penyakit bawaan, bukan karena virus.

“Ya, sedih banget, penggennya di sini saja tapi sudah keburu dibawa. Doakan saja semoga bapak diterima segala amal ibadahnya dan diampuni dosanya” tutur sang istri tercinta.

Namun mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur, waktu tidak bisa diputar, makam tidak mungkin dibongkar. Semua harus memahami, dan harus mengikhlaskan walau tidak rela. Seraya tokoh masyarakat meminta maaf. Keluarga pula memaafkan, ” mungkin memang sudah takdirnya,” tambahnya sambil tersenyum. 

Beban benar kita hidup di masa ini. Mungkin inilah ujian untuk kita sebagai manusia, agar selalu mengingat sang pencipta. Semua orang hanya bisa pasrah, berdoa kepada Tuhan agar cepat dikabulkan. Semoga dimusnahkan semua keburukan dan marabahaya.

About the author

Alfiah Khairiatul

Alfiah merupakan content writer internship Panji Masyarakat batch 2.

Tinggalkan Komentar Anda