Mutiara

Sa’di Asy-Syirazi Sang Bapak Rohani

Waspadalah terhadap sikap plinplan para penguasa, yang satu saat bisa merasa terhina karena diberi salam, dan saat lain melimpahkan kehormatan sebagai upah pengkhianatan.

“Benar, dia sudah membebaskan aku dengan 10 dinar. Tapi ia membikin aku jadi budak untuk 100 dinar.”

Itulah komentar Sa’di pada istrinya tentang ayah mertuanya.

Pada mulanya sebuah insiden kecil. Sa’di sedang hiking di hutan-hutan Syam, sebuah kawasan yang sekarang meliputi wilayah Suriah dan Palestina. Sial sekali, ia ditangkap. Bersama sekelompok Yahudi, ia dijadikan pekerja rodi di Tripoli. Ketika bertugas menggali parit, ia dikejutkan sebuah suara. “Hai, Sa’di, kau rupanya!” Ternyata sahabat lama, yang entah bagaimana lewat di tempat galian itu. Dua bait syair lalu meluncur dari mulut Sa’di. Isinya menggugah si kawan terhadap seseorang yang sedang mencoba menghindari masyarakat manusia, lalu dipaksa hidup di antara hewan.

Sahabat itu terharu. Ia pun membebaskan Sa’di dengan tebusan 10 dinar. Malahan juga menikahkannya dengan putrinya dengan mahar 100 dinar. Sayang, selain angkuh, istri Sa’di bawelnya minta ampun.  Sampai suatu hari ia mengungkit Sa’di agar selalu ingat bahwa mertuanyalah yang membebaskan dirinya. Itulah sebabnya Sa’di mengingatkannya bahwa mertua itu juga yang menjadikannya “budak” dengan mengawinkannya.

Sa’di As-Syirazi, yang nama aslinya Musyarifuddin, salah satu tokoh besar dalam sastra klasik Persia. Dilahirkan di Syiraz, sekarang bagian Iran, sekitar 1184. Ia ditinggal wafat ayahnya, Mushlihuddin, di masa kanak-kanak. Ia dititipkan kepada penguasa setempat, Atabek Sa’d ibn Zangi. Dari nama pangeran yang mengirimnya belajar ke Madrasah Nizamiah di Bagdad inilah Musyarifuddin mengambil Sa’di sebagai nama kepengarangannya.

Di perguruan tinggi kenamaan itu, tempat Al-Ghazali juga pernah mengajar, Sa’di muda berguru pada Ibnul Jauzi dan sufi besar Suhrawardi. Pada 1226 ia mulai melanglang buana – hingga Anatolia, Suriah, Irak, Mesir, Afrika Utara, Afrika Tengah, bahkan India. Ia tidak pulang kampung. Mongol baru saja menginvasi Persia. Tidak seperti Ibn Bathuthah, yang keluar masuk istana di negeri-negeri yang disinggahinya, Sa’di bepergian dalam gaya seorang darwis tulen, ia tidur di pinggir jalan dan bercampur dengan segala macam orang. Ia menyelam ke dalam hidup yang sebenarnya.

Sa;di kembali ke Syiraz, di usia sangat tua, pada 1256. Atau dua tahun sebelum Bagdad jatuh ke tangan Hulagu Khan, yang kelak ia tulis dalam sebuah elegi – meski ia harus bertentangan dengan Abu Bakr Zangi, penguasa lokal yang bersekutu dengan tiran Mongol itu. Ia menghabiskan sisa usianya untuk menekuni bidang penulisan.

Di usia senja inilah dia menghasilkan dua karya terpentingnya, Bustan (Taman, 1257) dan Gulistan (Kebun Mawar, 1258), yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Yang pertama puisi, melukiskan nilai-nilai kebajikan. Yang kedua prosa, kumpulan anekdot, kisah-kisah pengalaman, dan renungan etis yang diperkaya dengan hikmah. Ia juga mengkritik para pejabat yang korup dan jahat. Tidak heran jika Sa’di, yang pernah jadi tawanan bangsa Frank (di abad Perang Salib itu), dipandang sebagai moralis besar dan guru etika.

Syahdan, suatu hari berlangsung pawai meriah di Tabriz—diikuti para petinggi, termasuk putra Raja Hulagu Khan, Wazir Syamsuddin, dan saudaranya, Alauddin. Sa’di menonton. Tiba-tiba arak-arakan berhenti. Syamsuddin dan Alauddin turun dari kereta. Mereka membungkuk dan menciumi kedua tangan orang renta itu.

“Bagaimana Bapak bisa di sini? Mestinya Bapak memberkahi rumah kami yang hina dengan kehadiran Bapak yang memberi kebajikan,” kata Syamsuddin.

“Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu ketika berpapasan dengan piawai ini. Ah, mestinya aku tidak mengganggu Saudara di sini.”

Putra Hulagu Khan hanya bisa bengong. Tanyanya, “Siapa, sih, orang tua yang mendapat penghormatan dari dua orang tepelajar seperti kalian itu?

“Ayah kami,” ujar Wazir Syamsuddin.

“Yang bener. Ayah kalian ‘kan sudah meninggal.”

“Beliau ayah rohani kami,” Syamsuddin menimpali, “Paduka, tentu sudah mendengar nama Sa’di, penyiar terkenal dan orang bijak dari Persia.”

Tidak jelas apakah putra Hulagu yang baru diusahakan masuk Islam oleh kedua pembantunya itu pernah mendengar nama Sa’di, tetapi dia ingin bertemu. Sa’di sendiri sesungguhnya malas berurusan dengan raja. Tetapi karena yang memohon bekas muridnya sendiri, ia pun berangkat. Sebelum pulang, ia dimintai nasihat oleh sang raja muda. Sa’di menjawab, “Sesudah mati, hanya perbuatan-perbuatan baik yang bisa menolong Saudara. Sekarang terserah, mau mengumpullkan dan membawa perbuatan baik atau yang buruk.”

Banyak penguasa kemudian berlomba menyenangkan Syekh Sa’di. Syamsuddin pernah mengiriminya 50.000 keping uang emas, tetapi ditolak. Setelah dibujuk agar uang itu didermakan di jalan Allah, syekh menerima untuk membangun rumah persinggahan kafilah.

Di akhir hidupnya, Sa’di yang wafat 9 Desember 1291, tinggal di gubuk kecil di pinggir kota. Ia hanya bersembahyang dan berpuasa. Salah satu pesannya: “Waspadalah terhadap sikap plinplan para penguasa, yang satu saat bisa merasa terhina karena diberi salam, dan saat lain melimpahkan kehormatan sebagai upah pengkhianatan.”

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda