Tasawuf

Kisah Zulkifli dari Bani Israil

Jika seseorang melakukan dosa, maka di hatinya akan muncul setitik noda hitam. Jika dia berhenti dari perbuatan maksiatnya itu dan kemudian bertobat, maka noda hitam itu akan hilang. Bagaimana dengan orang yang bermaksiat, dan segera mengikutinya dengan kebaikan?

Adalah Zulkifli dari Bani Israil yang tidak pernah mampu menahan diri dari perbuatan dosa.

Suatu hari ia didatangi  seorang perempuan. Lalu diberinya 60 dinar agar ia  mau bersetubuh dengannya. Ketika Zul siap melakukan aksinya, perempuan itu menggigil ketakutan.

“Kenapa kamu menangis? Ada yang kurang berkenan?” Zul bertanya.

“Tidak. Tapi sekalipun aku belum pernah melakukannya?”

“Sekarang kamu siap melakukannya? Kamu bilang belum pernah melakukannya?”

“Saya terpaksa.”

“Pergilah. Dan ambil uang itu.”

Kata Rasulullah, demikian Imam Tirmidzi yang meriwayatkan kisah di atas dalam kumpulan hadisnya,  “Demi Allah, setelah itu Zulkifli  tidak pernah maksiat lagi kepada Allah selamanya. Malam itu juga dia mati. Di atas pintu rumahnya tertulis: ‘Semoga Allah mengampuni Zulkifli’.”

Menurut Maimun ibn Marham, jika seseorang berbuat dosa, maka di hatinya akan timbul setitik noda hitam. Jika ia berhenti dari perbuatan itu dan benar-benar bertobat, maka hilanglah noda itu dan hatinya bersih kembali seperti semula. Tetapi, jika ia mengulanginya lagi, maka ditambahkan lagi titik hitam di atasnya sehingga akhirnya meliputi seluruh hatinya. Karena itu, seperti kata Imam Al-Ghazali, kepatuhan kepada Allah mengilapkan hati, sedangkan maksiat kepada-Nya akan menghitamkannya.

Nah, bagaimana dengan orang yang berbuat dosa, lalu segera mengiringinya dengan kebaikan?

Menurut Hujjatul Islam (gelar atau julukan untuk Al-Ghazali lantaran kehebatannya ber-hujjah atau berargumen dalam hal agama Islam), hatinya tidak otomatis hitam atau sebaliknya. Cuma cahayanya menjadi kurang. Sama seperti sebuah cermin yang tertutup hembusan napas lalu disapu, kemudian dihembusi lagi lalu disapu lagi. Meski bersih, masih menyisakan keruh.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda