Cakrawala

Pemimpin dengan Jiwa Roh Pahlawan

Written by Arfendi Arif

Di antara rakyat banyak, hadirnya seorang pemimpin adalah orang yang menonjol di tengah massa yang luas. Ia bisa tampil karena memiliki kelebihan,  boleh jadi karena kepemimpinannya, kecerdasannya, kharismanya, kemampuan manajemen dan  lainnya.

Yang menarik adalah seorang pemimpin punya jiwa patriotik dan keyakinan yang kuat dalam memperjuangkan cita-citanya. Ini adalah merupakan sumber energi utamanya dalam menggerakkan massa atau pengikutnya.

Adakalanya persoalan yang dihadapi luar biasa berat, yang kalau dilihat secara teori  mungkin sulit untuk dihadapi, namun dengan keyakinan seorang pemimpin yang tak pernah lelah meyakinkan perjuangan, endingnya bisa berbahagia dengan kesuksesan dan kemenangan diperoleh dan dipersembahkan.

Kita bisa mencontohkan perjuangan rakyat Indonesia menghadapi penjajahan Belanda dan Jepang. Siapa yang bisa menduga Indonesia bisa merdeka setelah dijajah 3,5 abad oleh negara kuat dan maju, sedangkan kita bangsa yang sederhana dan terkebelakang. Disinilah, peran pemimpin yang punya keyakinan kuat dan tak pernah lelah memotivasi rakyatnya untuk berjuang. Pada akhirnya, musuh yang kuat dan besar bisa dikalahkan.

Banyak negara yang memiliki kemiripan dengan Indonesia. Melawan musuh raksasa dengan persenjataan moderen dan militer yang kuat, bisa ditundukkan dan dipukul tentaranya. Itu semua dilakukan dengan perjuangan pemimpinnya yang tidak pernah surut  semangatnya.

Sebuah buku menarik berjudul ” 11 Macan Asia Musuh Amerika ” ditulis Amir Hendarsah( Galangpress, Yogyakarta, 2007) memaparkan tampilnya beberapa tokoh pemimpin di beberapa negara yang melawan politik superioritas Amerika Serikat di dunia.

Dulu di masa perang dingin Amerika adalah salah satu negara adidaya disamping Rusia atau Uni Soviet. Persaingan ideologis di antara dua negara itu menyebabkan Amerika menanamkan pengaruhnya di banyak negara untuk melawan ideologi komunis.

Setelah perang dingin selesai politik superioritas Amerika ini rupanya masih berlangsung, dan tentunya menimbulkan perlawanan, baik dalam bentuk konflik militer maupun dalam campur tangan untuk menjatuhkan rezim yang tidak disukai, atau dalam rangka menumpas apa yang disebutnya pelaku terorisme

Dalam buku ini ditampilkan beberapa figur dan tokoh-tokoh yang mencoba memberikan perlawanan terhadap politik arogansi Amerika. Ada tokoh-tokoh yang cukup berhasil melawan pengaruh Amerika, disamping tentu juga yang gagal dan terbunuh.

Nyuyen Tat Thanh atau dikenal Ho Chi Minh, misalnya, adalah pemimpin Vietnam yang berhasil memerdekakan Vietnam dari penjajah Perancis. Namun, yang paling terkenal dari Vietnam adalah  ketika mereka mampu mengalahkan Amerika dalam perang moderen atau Perang Vietnam (disebut juga Perang Indocina).  Meski Amerika dengan menggunakan persenjataan canggih dan maju,  namun bisa dikalahkan oleh rakyat Vietnam yang miskin dengan persenjataan yang tidak seimbang. Namun, semangat dan penghargaan terhadap pemimpin mereka Ho ChiMinh merupakan motivasi dan memberikan semangat yang tinggi untuk mengusir tentara Amerika.

Di samping Ho Chi Minh, dalam buku ini disebutkan juga Ayatullah Khomeini. Pemimpin  spritual Iran yang lama di pengasingan, kemudian juga sukses menyingkirkan Reza Syah Pahlevi yang dianggap dekat dengan Amerika. Ayatullah Khomaini kemudian menjadi pemimpin tertinggi di Iran, sedangkan Presidennya Mehdi Bazargan.

Menarik bahwa di masa perang dingin konflik dunia berdasarkan pertentangan ideologi, dan dunia dipecah dalam blok negara komunis dan kapitalis. Dalam hal ini Indonesia mempelopori terbentuknya negara non-blok, netral tidak berpihak pada kubu tertentu.

Peran pemimpin dalam sejarah Islam

Jika kita merujuk ke dalam sejarah Islam  maka kepemimpinan yang harus dijadikan model adalah kepemimpinan Rasul dan kepemimpinan khulafa ur rasyidin. Kepemimpinan Rasul bisa dilihat dalam sejarah perjuangan selama 23 tahun di Mekkah dan Madinah.

Kepemimpinan Rasul adalah menegakkan tauhid. Membangun kepercayaan kepada Allah dan meyakini bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat Tauhid  : Asyhadu Allah illallah wa asyhadu anna Muhammad  Rasulullah. Inilah tema pokok dari missi perjuangan Nabi, yang tonggak utamanya dicanangkan di Makkah. Dan misi utama itu menghancurkan dan memberantas kepercayaan jahiliah pada berhala Lata, Uzza dan Manata. Dengan demikian kedatangan Nabi adalah melakukan revolusi aqidah, dari kepercayaan yang bersifat tahayul pada keyakinan yang benar, lurus dan membawa keselamatan.

Misi Kerasulan Nabi mengalami perkembangan dan kemajuan setelah hijrah atau pindah ke Madinah. Di sini Nabi sudah menjadi pemimpin, kepala pemerintahan, mengatur berbagai kebijakan baik di bidang hukum, politik, dakwah,  militer atau peperangan.

Setelah mengalami kemantapan di bidang aqidah, syariah dan dasar-dasar yang cukup bagi perkembangan sebuah “pemerintahan”, kontinuitas perjuangan Nabi setelah beliau wafat  diteruskan oleh khulafa ur rasyidin. Pemerintahan yang disebut khilafah ini dipimpin oleh khalifah yang empat, yang terkadang disebut amirul mukminin. Mereka itu adalah Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Kepemimpinan khulafa ur rasyidin berkembang dengan pesat, baik secara teritorial dalam bentuk perluasan kekuasaan maupun secara kualitas pemerintahan.

Empat khulafaur rasyidin adalah sahabat Nabi yang utama. Mereka terlibat dengan Nabi sejak awal-awal penyiaran Islam, pada masa sulit hingga harus hijrah ke Medinah. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Nabi dan memahami dengan baik dan secara total mengikuti perilaku Nabi  dan ajaran Islam.

Di tangan mereka kekuasaan dijalankan secara amanah dan jauh dari sifat kekuasaan yang ambisius. Pemahaman Tauhid yang mendalam disertai ke-Imanan yang kuat serta ibadah yang total kepada Allah menjadikan mereka tidak tergoda dengan kekuasaan dan hidup keduniawiaan yang hanya cenderung pada kesenangan.

Mereka memerintah dengan adil, mengutamakan kesejahteraan rakyat, membantu orang miskin dan terlantar. Sebagai khalifah, meski punya peluang untuk hidup mewah dan bersenang-senang, tetapi mereka menjauhi hal itu. Justru para khalifah itu hidup sederhana, tidak jauh beda dengan rakyat biasa. Bahkan, hidupnya pas-pasan.

Karena itu pemerintahan khulafa ur rasyidin hanya mencari ke ridhoaan Allah. Dengan semangat tersebut kepemimpinannya  hanya tertuju untuk mensejahterakan rakyat, menegakkan hukum dengan adil, dan mengelola keuangan negara (baitul maal) dengan bersih dan kejujuran. Oleh karena itu kepemimpinan dan pemerintahan khulafa ur rasyidin adalah model dan contoh yang terbaik bagi kaum muslimin.

Dalam konteks kepemimpinan sekarang rasanya sulit meneladani kepemimpinan khulafa ur rasyidin yang dilandasi  semangat akhlakul karimah. Dalam konteks sekarang, dari segi ekonomi, misalnya, para pemimpin, terutama yang formal di pemerintahan baik eksekutif, legislatif dan yudikatif kehidupan mereka jauh di atas kecukupan, bahkan bisa disebut sudah berlebih. Bila dibaca laporan kekayaan pejabat pada KPK sungguh luar biasa kekayaannya, yang rata-rata di atas miliaran rupiah. Belum termasuk kekayaan tidak bergerak seperti tanah, mata uang asing, properti, tabungan maupun saham dan surat berharga.

Tentu sulit untuk mengajak mereka hidup sederhana layaknya rakyat kecil. Dan, memang untuk menanamkan kepedulian dan empati pada rakyat miskin, tidak logis kalau mereka diminta untuk. hidup miskin dan sederhana. Namun, paling tidak kita mengharapkan bahwa dalam mengelola pemerintahan dan melahirkan. kebijakan mereka berpihak pada rakyat kecil, pada kaum dhuafa, dan mereka yang kesejahteraannya belum meningkat.  Dalam bahasa sekarang suatu kebijakan yang pro poor, pro people dan pro job. Bukan kebijakan yang pro pada mereka yang sudah mampu dan kalangan pengusaha kaya saja.

Kalau ide di atas  bisa dilakukan,  maka itulah pemimpin yang punya jiwa pejuang dan patriotik. Punya roh dan jiwa pahlawan. Allahu ‘alam bissawab.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda