Bintang Zaman

Bisri Syansuri (2): Di Antara Hasyim Asy’ari dan Wahab Chasbullah

Written by Iqbal Setyarso

Kiai Bisri bersahabat dengan Kiai Wahab Chasbullah, dan sama-sama berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, Hadratusy Syekh  Hasyim Asy’ari. Ia pun dijadikan ipar oleh Kiai Wahab. Mereka menjadi dua figur terpenting di NU, selain Kiai Hasyim, yang turut mewarnai dakwah dan politik umat Islam di Tanah Air.

Bisri lahir pada 26 Dzulhijjah 1304 H/18 September 1886. ia nomor tiga dari lima anak pasangan Syansuri-Maiah. Tayu, tempat kelahirannya, adalah kota kecamatan di Kabupaten Pati, di wilayah pesisir utara Jawa Tengah, punya kultur keislaman yang khas. Selain tergolong miskin, pada umumnya daerah ini sarat takhayul. Inilah yang mendorong para pemuka Islam di pesisir utara Jawa menjadikannya lahan dakwah.

Bisri tumbuh di lingkungan keluarga yang menganut tradisi dakwah yang kuat. Sebagai bocah didikan kultur keulamaan, ia terbiasa hidup bersahaja sampai tua. Pada usia tujuh tahun ia mulai belajar mengaji Alquran kepada Kiai Soleh di Tayu. Ini dijalaninya selama dua tahun. Kemudian ia belajar ilmu-ilmu dasar keagamaan kepada Kiai Abdul Salam di Kajen, sekira delapan kilometer dari Tayu. Kiai Abdul Salam adalah seorang penghafal Alquran yang juga dikenal ahli fikih pada masanya.  Di sini  Bisri antara lain belajar bahasa Arab, tafsir, dalam pola didikan yang keras. Boleh jadi, dari didikan yang keras inilah ia kelak dikenal sebagai penggenggam fikih yang kukuh.

Pada usia 15, Bisri berguru kepada kiai legendaris Syaikhona Kholil di Demangan, Bangkalan, Madura. Kiai Kholil Bangkalan masyhur sebagai guru para kiai di Jawa pada zaman itu. Ia hampir seangkatan dengan Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Abdul Karim Tanara, dan Syekh Mahfudz At-Tirmasi. Ketiganya ulama Nusantara yang bermukim dan berkarier di Mekah.

Di pesantren Syaikhona, Bisri bersua dengan Abdul Wahab Chasbullah, santri asal Jombang, yang kemudian menjadi karibnya. Keakraban mereka kelak punya makna penting dalam pentas dakwah dan politik di Indonesia. Keduanya merupakan sosok penting Nahdlatul Ulama (NU), di samping KH Hasyim Asy’ari, tentu.

Seperti umumnya santri zaman itu, Bisri melanjutkan kelananya dengan berguru kepada sejumlah kiai lainnya. Di antaranya ia belajar kepada Kiai Syuaib di Sarang dan Kiai Kholil di Kasingan, dua ulama kondang di Rembang (Jawa Tengah). Dari sini ia melanjutkan ke Jombang. Kepada siapa lagi kalau bukan kepada KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Ada yang menduga, ini atas ajakan Wahab Chasbullah, sohibnya ketika mondok di Bangkalan, dan terhitung adik sepupu Kiai Hasyim.

Kiai Hasyim Asy’ari dikenal ahli hadis, sekaligus kritis terhadap praktik tarekat. Ia sempat terlibat polemik keras dengan Kiai Kholil Peterongan, Jombang. Ia mengeritik pengkultusan Kiai Kholil oleh para pengikut tarekat yang dipimpinnya. Ini, kata Kiai Hasyim, sudah menyimpang dari ajaran Islam, Gaya penyikapan Kiai Hasyim ini juga memberi pengarah atas diri Bisri, mengentalkan orientasi fikih yang puritan, kalau bukan kaku.

Suasana di Tebuireng sendiri terasa pas dengan watak Bisri, seakan memantapkan polesan ilmu dari Kiai Abdul salam Kajen dan Kiai Syuaib Sarang, yang sama-sama penggenggam fikih yang kukuh. Bisri juga menaruh hormat kepada Kiai Hasyim sebagai guru utamanya. Sehari-hari ia memanggil gurunya itu kiai saja, tanpa menyebut nama, hal yang tak dilakukannya kepada guru-gurunya yang lain. Sebutan ini kemudian ditiru santri lainnya, sehingga di kemudian hari muncullah gelar Hadratusy Syekh, sebagai ganti panggilan kiai kepada Hasyim Asy’ari.

Bisri belajar enam  di  Tebuireng.  Ia mendapat ijazah untuk mengajarkan sejumlah kitab, di antaranya Zubad, kitab fikih yang amat ia sukai, dan himpunan hadis yang menjadi spesialisasi Hadratusy Syekh, yakni Bukhari dan Muslim.

Studi di Tanah Air rupanya belum cukup memuaskan dahaga keilmuannya. Maka berangkatlah Bisri bersama Wahab Chasbullah ke Mekah pada 1921. Merteka belajar kepada sejumlah ulama terkemuka, antara lain Syekh Muhammad Bakir, Syekh Muhammad Said Yamani, Syekh Ibrahim Madani, dan Syekh Jamal Maliki, selain kepada guru Kiai Hasyim , seperti Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Syuaib Dagestani, dan Syekh Mahfudz Termas.

Dua tahun Bisri bermukim di Mekah, ia pun bertemu jodoh. Dan tak lain adalah adik perempuan sahabat karibnya, Wahab Chasbullah: Nur Khodijah. Nur ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji, dan sang kakak menjodohkannya dengan Bisri.

Bersambung

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda