Tafsir

Tafsir Tematik: Umat Terbaik dan Tafsiran Baru (2)

Written by Panji Masyarakat

Adalah kamu umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah.. (Q. 3: 110)

Tujuan liberasi (penjabaran nahi mungkar), dalam pada itu, adalah “pembebasan bangsa dari kekejaman kemiskinan, keangkuhan teknologi, dan pemerasan kelimpahan,” demikian Kunto. Juga pembebasan mereka “yang terperangkap dalam kesadaran teknokratis, dan mereka yang tergusur oleh kekuatan ekonomi raksasa. Kita ingin bersama-sama membebaskan diri dari belenggu-belenggu yang kita bangun sendiri.”

Adapun perihal transendensi (dalam ayat: “beriman kepada Allah”), Kunto bicara tentang gaya hidup, yang di sini diluaskannya sebagai “kebudayaan”. Tujuan transendensi, katanya, adalah menambahkan dimensi transendental (yang berhubungan dengan ketuhanan; aslinya: yang di luar pengertian kita) dalam kebudayaan. “Kita sudah banyak menyerah kepada arus hedonisme, materialisme, dan budaya yang dekaden…. Kita ingin merasakan kembali dunia ini sebagai rahmat Tuhan. Kita ngin hidup kembali dalam suasana yang lepas dari ruang dan waktu, ketika kita bersentuhan dengan kebesaran Tuhan.” (Kunto, ibid.: 289).

Itulah transendensi itu. Kunto, tidak seperti mufasir klasik Al-Baidhawi (baca: “Siapakah Umat Terbaik” panjimasyarakat.com), tidak bicara tentang iman kepada Tuhan (iman billah) sebagai justru dasar dua kerja yang disebut terdahulu, amar makruf dan nahi mungkar, maupun motifnya – juga kalaupun amar dan nahi itu akan diartikan, seperti yang sudah ia lakukan dengan bagus, sebagai humanisasi/emansipasi dan liberasi. Dengan iman sebagai dasar maupun motif, seluruh kerja yang merupakan wilayah luas amar dan nahi itu sendiri akan bersifat transendental. Demikian pula budaya.

Masalah iman sebagai dasar atau motif  tindakan itu mengingatkan kita pada dimensi hidup yang dua buah: yang vertikal dan yang horisontal. Yakni yang dalam Q. 3: 112 diperkenalkan dengan istilah-istilah Tali Allah dan Tali Manusia. Yang pertama adalah hubungan dengan Tuhan (Hablun Minallah), yang kedua hubungan antarmanusia (Hablun Minannaas)/ tanpa iman, yang dimiliki orang dalam hidup hanyalah dimensi horisontal ang tak lain hubungan antarmanusia, seperti yang sering diberikan contohnya dengan kehidupan masyarakat Barat yang cantik dan tak beragama dengan segala penyakitnya.

Adapun yang terjadi pada kita di Indonesia, khasnya selama puluhan tahun era Soeharto, memang agak berbeda dari gambaran tipikal masyarakat Barat tersebut – dilihat dari bahwa yang vertikal itu, hablun minallah, diikutsertakan dalam pandangan tentang masyarakat. Hanya saja, harus kita katakan, dilakukan kekeliruan dalam pemberian posisi: dimensi vertikal, di sini disebut “pembangunan spiritual”, di letakkan sejajar dengan hablun minannaas yang horisontal, dan disebut “pembangunan materiil”, dua-duanya ibarat dua buah kotak yang tidak saling mempengaruhi.

Begitulah maka semua ikhtiar pembangunan, yang di sini ditekankan pada kehendak pertama memerangi kemiskinan, dan yang jatuhnya tak lain pembangunan ekonomi, dilaksanakan seratus persen di luar kaidah-kaidah agama. Dan terjadilah yang sudah disebut Kunto: terpenting pemerasan terhadap pihak yang lemah dan penggusuran mereka oleh kekuatan ekonomi raksasa.    

Bersambung.

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 2 Desember 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda