Muzakarah

Salat Sebelum Isra Mi’raj

Written by Panji Masyarakat

Saudara Husen Tan Canon di Makassar bertanya seputar peristiwa Isra Mi’raj yang baru kita peringati. Dalam peristiwa ini untuk pertama kali perintah salat disampaikan Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Mula-mula yang diwajibkan 50 kali. Tapi saat Nabi turun dari Sidratul Muntaha dan bertemu dengan Nabi Musa a.s., beliau disuruh naik lagi untuk minta keringanan. Nabi Musa merasa pesimistis, umat Muhammad yang punya postur tubuh yang lebih kecil akan dapat melaksanakan perintah itu. Beliau pun bolak-balik menghadap Allah hingga akhirnya tinggal lima waktu salat yang diwajibkan, seperti yang berlaku sekarang ini. Yang mengganjal di hati saudara Husen adalah, mengapa Nabi Musa a.s. lebih tahu keadaan umat Muhammad ketimbang Allah sendiri. Bukankah, tanyanya, Allah itu Maha Mengetahui?

Jawaban  KH Ali Musthafa Ya’qub:

Isra Mi’raj, Saudara Husen, merupakan peristiwa luar biasa pertama yang dialami Rasulullah sejak kenabiannya. Buat orang kebanyakan, sungguh sulit mempercayai mukjizat ini. Bagaimana mungkin dalam satu malam beliau bisa melakukan perjalanan pulang pergi ke Baitul Maqdis Al-Quds dan Sidratul Muntaha? Orang-orang Arab pun tidak percaya ketika diceritai Nabi Muhammad. Namun Abu Bakr dengan serta merta menyatakan kepercayaannya. Karena dia tahu, Muhammad adalah seorang yang jujur—sangat jujur malah. Sepanjang hidupnya tak pernah berbohong, sekalipun. Termasuk saat berdagang. Dan karena kejujurannya ini, sejak kecil ia diberi gelar “Al-Amin” (orang-orang yang jujur) oleh orang-orang sekitarnya. Semua orang sepakat mengenai kejujurannya, yang tidak ada duanya itu.

Isra Mi’raj adalah semacam kesempatan audiensi dengan Allah langsung yang diberikan kepada Nabi Muhammad ketika perjuangan beliau mencapai titik klimaks. Ketika tantangan dari kaum kafir mencapai puncaknya, sampai-sampai beliau hijrah ke Thaif. Sementara itu, kesedihan yang amat sangat mendera beliau gara-gara ditinggal oleh dua orang yang sangat dicintai, yaitu paman beliau, Abu Thalib, dan istri beliau, Khadijah. Inilah dua orang yang selalu setia melindungi beliau, meski pamannya itu tidak sempat beriman.

Peristiwa ini terjadi sebelum beliau berhijrah ke Madinah. Namun tidak ada kejelasan dari  sumber-sumber yang otentik tentang bulan apa peristiwa itu berlangsung. Ada ulama yang bilang di bulan Ramadan. Tapi kebanyakan berpendapat : pada bulan Rajab. Sampai sekarang belum ada yang membantah hasil ijtihad ulama yang terakhir ini.

Saudara Husen, memang betul, seperti Anda bilang, dalam perjalanannya Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa—juga dengan Nabi-nabi Adam, Ibrahim, dan lain-lain. Tentang bagaimana keadaan mereka dan perbincangan Rasulullah, sulit untuk dijelaskan sebab semua itu terjadi di alam gaib.

Benar pula bahwa Nabi Muhammad sempat bolak-balik menghadap Allah untuk minta keringanan kewajiban salat: dari 50 kali menjadi lima waktu saja. Ini dilakukan atas saran Nabi Musa a.s. Dan hadis-hadis yang menceritakan ini semua terbilang mutawatir (begitu banyak jumlah perawinya sehingga tidak mungkin mereka bersepakat bohong). Di kalangan sahabat sendiri, lebih dari 10 orang yang meriwayatkannya.

Dalam hadis-hadis itu, Saudara Husen, tidak ada satu keterangan pun yang menunjukkan bahwa Nabi Musa lebih tahu daripada Allah. Saya sependapat dengan Anda bahwa tidak benar Allah tidak mengetahui kondisi baik fisik maupun sosial umat Muhammad. Sebab Allah Maha Mengetahui. Namun mengapa sampai ada peristiwa “tawar-menawar”  tadi? Mengapa Allah tidak langsung mewajibkan salat lima waktu saja?

Menurut saya, maksud Allah mewajibkan 50 kali, kemudian meringankannya menjadi lima waktu saja, agar manusia merasa bersyukur karena diberi keringanan oleh Allah. Malah belum sampai kewajiban ini (salat) dikerjakan, sudah diringankan oleh Allah. Seandainya Allah memberikan perintah langsung salat lima waktu, maka manusia tidak akan merasa mendapat keringanan. Kalau mau dicontohkan, itu seperti membeli barang; seharusnya memang begitu. Saya kira itulah hikmahnya, dan ini sesuai dengan ajaran Islam yang dinamakan nasikh-mansukh (hapus-menghapus hukum).

Penghapusan hukum bisa terjadi sebelum kewajiban dilaksanakan, seperti salat tadi. Ada pula yang berlangsung setelah suatu kewajiban dilaksanakan, seperti puasa. Mula-mula puasa dimulai waktu sahur (terjaga) hingga magrib. Jadi, jika kita terjaga pukul 00.00, sejak saat itu kita sudah mulai berpuasa. Tak boleh makan dan minum. Cara ini berlaku sebelum Islam.

Ketika cara ini mulai diterapkan Nabi Muhammad, terjadilah kasus sahabat yang bekerja di ladang kurma. Pada sore hari, si petani pulang dan bertanya pada istrinya tentang makanan yang tersedia untuk berbuka puasa. Sang istri, dengan tergopoh-gopoh pergi ke warung mencari penganan. Selama ia pergi, suaminya yang letih tertidur dengan pulas. Nah, ketika terbangun, meski itu dari yang tidur yang tidak disengaja, ia tidak boleh berbuka. Ia harus berpuasa lagi. Sampai siang harinya, ia jatuh pingsan karena kelaparan.

Kabar ini akhirnya sampai kepada Rasulullah s.a.w. Maka Allah menurunkan ayat “…Makan dan minumlah sampai jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu waktu fajar…” (Q. 2: 187). Dengan turunnya ayat ini Allah memperingan pelaksanaan puasa. Kita dibolehkan, dengan ayat ayat ini, untuk makan dan minum menjelang waktu subuh. Dalam satu hadis Rasululllah mengatakan, “Perbedaan puasa umat Islam dengan orang sebelum umat Muhammad ada perbedaan makan sahur.” Keringanan demikian dianugerahkan Allah agar kita, umat Muhammad, merasa bersyukur. Kita tidak lagi harus menjalani syariat seberat yang berlaku pada orang-orang sebelum Nabi Muhammad.

Tempat Khusus

Salat, saudara Husen, diwajibkan untuk pertama kali dalam peristiwa Isra Mi’raj ini. Di antara ibadah-ibadah yang lain,  salat menempati tempat khusus dan nilainya sangat tinggi. Salat adalah satu-satunya kewajiban yang perintahnya diterima Nabi langsung dari Allah SWT. Sedangkan perintah ibadah-ibadah yang lain disampaikan melalui Jibril.

Tapi, bukan berarti sebelum itu tidak ada salat. Sebab, ada cerita bahwa setelah Umar ibn Khattab masuk Islam pada tahun keenam kenabian Muhammad, pengikut Nabi mulai berani ramai-ramai salat di Masjidil Haram. Dalam riwayat lain, Nabi pernah dilempari orang kafir saat salat (bersujud) di Masjidil Haram.

Bagaimana cara salatnya? Wallahu a’lam bish shawab. Tidak ada keterangan yang jelas mengenai ini. Yang pasti beliau mengikuti tata cara (syariat) Nabi Ibrahim, seperti sebagaimana haji dan lain-lain.

Ada kemungkinan caranya sama dengan salat kita sekarang. Meski tidak semuanya. Sangat mungkin, ada perubahan, pengurangan atau tambahan sana-sini. Itu sebabnya, dalam satu hadis Nabi mengajarkan secara detail tata cara salat. Dalam hadis lain Nabi bersabda, “Salatlah, sebagaimana kalian melihat aku salat” (riwayat Muslim).

Yang jelas-jelas pasti beda adalah waktunya. Dalam satu hadis diceritakan bagaiamana malaikat Jibril memberi tahu Nabi jadwal waktu pelaksanaan salat yang lima itu. Di samping itu, kiblatnya juga mengalami perubahan (setelah hijrah) : dari Baitul Maqdis ke Ka’bah.

Jadi yang disampaikan Allah pada peristiwa Isra Mi’raj itu hanya kewajiban salat. Sedang sebelum itu, belum ada kewajiban. Allah pun tidak menjelaskan tata caranya dalam peristiwa tersebut.

*Prof. Dr. KH Ali Musthafa Ya’qub  (19522006), pengasuh Ma’had Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Jakarta. Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) ini pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, dan anggota Komisi Fatwa MUI Pusat. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 8 Desember 1997.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda