Cakrawala

Salat di Tengah Problem Kehidupan

Written by Arfendi Arif

Salat adalah ibadah yang wajib dikerjakan seseorang yang mengaku muslim.  Dalam hukum fiqh ia disebut fardhu ain atau wajib ain . Ini beban ibadah yang tidak boleh ditinggalkan bagi seorang yang sudah baligh dan  berakal.

Mereka yang sudah diberikan beban hukum (taklifi) maka dalam setiap hari (pagi,siang dan malam) menurut waktu-waktu tertentu, wajib mengenakan salat 5 kali sehari, yaitu subuh, zuhur, ashar, magrib dan isya. Bila diakumulasi jumlah keseluruhannya 17 rakaat. Disamping salat wajib ini ada juga salat sunat yang disebut qalbiyah (sebelum salat wajib) dan ba’adiyah atau sesudah salat wajib.

Salat telah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat kita yang mayoritas beragama Islam. Salat yang rutin dilakukan tiap hari menyertai berbagai problematika kehidupan yang  kita hadapi. Seorang yang konsisten salat   mungkin menghadapi problem ekonomi, ia mungkin miskin dan kekurangan biaya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Saat ini dalam kehidupan kita  sedang menghadapi pandemi virus Covid 19 dan multi efeknya ke berbagai kehidupan, antara lain, terbatasnya aktifitas, tidak bisa bekerja, munculnya pengangguran, banyaknya kasus kematian, larangan berkumpul dan lain sebagainya. Bahkan, kegiatan beribadah pun tidak semarak hari biasa.

Tidak hanya sebatas persoalan Covid 19, muslim yang shalat harus akrab dengan berbagai persoalan politik, sosial,hukum yang menimbulkan ketegangan dan kegaduhan terjadi  dalam masyarakat.

Dialog H.Agus Salim dan Sutan Takdir

Apakah makna salat bagi kehidupan yang kita  jalani baik di kala senang maupun saat susah?

Salat adalah  perwujudan iman kita kepada Allah. Tauhid dengan kalimat syahadat hanya akan berarti jika kita mengerjakan salat dengan baik. Dalam shalat kita mengakui kebesaran Allah. Kita yakini Dia Maha Pengasih dan Penyayang. Kita memohon dan meminta kepada-Nya agar dalam hidup ini dibimbing ke jalan yang lurus. Dalam salat kita juga memohon ampunan kepada-Nya. Minta disayangi, minta diangkat derajatnya, minta diberi rezeki yang baik dan semacamnya.

Salat adakah sebuah pengakuan dari manusia atas kelemahan dirinya. Dan menggantungkan serta memasrahkan diri ini hanya kepada Allah. Allah pencipta alam semesta dan mengatur semua kehidupan di alam jagat raya ini. Manusia yang hadir di dunia ini hanya untuk beribadah dan menghamba kepada Allah. Manusia beribadah kepada Allah untuk kepentingan manusia, bukan untuk Allah.

Dengan salat yang rutin dilakukan tiap hari manusia merasa hidup ini punya tujuan. Ada optimisme dan kebahagiaan bahwa hidup ini ada yang mau dicapai, yaitu kebahagiaan yang abadi dan kekal, yakni kampung akhirat. Ibarat bercocok tanam, dunia ini ladang pertanian yang akan menjanjikan panen dan dipetik buahnya pada hari perhitungan atau hisab.

Salat adalah pegangan hidup orang beriman. Dengan shalat manusia terjauh dari segala kebimbangan, ketidakpastian dan keterombang-ambingan. Sebuah ilustrasi dan kisah pentingnya hidup punya pegangan dikisahkan dalam dialog dua tokoh penting  Indonesia, yaitu antara  H. Agus Salim dan Sutan Takdir Alisyahbana.

Kisah ini saya kutip dari tulisan Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam tulisannya Tauhid Sebagai Pegangan Hidup (Bulletin Mimbar, No.6  tahun 1986 diterbitkan Masjid Islam Sunda Kelapa hal. 7).

” Ada suatu kisah menarik yang diceritakan oleh seorang kiyai terkemuka  dari Jawa Timur tentang dua orang tokoh  yang sama-sama dari daerah Minang, yakni H.Agus Salim dan Sutan Takdir Alisyahbana. Diceritakannya, dikala H. Agus Salim masih hidup Sutan Takdir Alisyahbana yang tentunya pada saat itu masih muda bertanya pada H.Agus Salim. ” Pak Agus, kenapa bapak yang sudah demikian intelek, dapat menguasai banyak bahasa asing masih bisa melakukan sembahyang? ” Oh, iya kenapa?,”ujar H.Agus Salim. Kata Sutan Takdir selanjutnya. ” Iya, bapak kan seorang yang rasionil, tentunya tidak akan menerima sesuatu yang tidak rasionil,”. H. Agus Salim nenjawab,” Memang, tapi kan saya mau pulang, karena itu saya memerlukan pegangan. Demikian juga anda, suatu saat anda tentu pulang ke Minang”, kata H.Agus Salim  ” Iya. Memang,”ujar Sutan Takdir. Lalu kata H.Agus Salim selanjutnya,” Kalau anda mau konsisten dengan jalan pikiran anda, tentu anda pulang ke Minang tidak akan naik kapal, karena anda tidak mengerti tentang kapal. Dikala anda naik kapal yang ada adalah percaya sepenuhnya kepada nakhoda dan awak kapal bahwa itu akan mengantarkan anda ke Minang.

Jika anda ingin mengerti kapal tentu anda harus belajar dahulu tentang seluk beluk kapal, dan itu tentu akan memakan waktu lama. Tapi okelah, anda tidak naik kapal karena anda tidak mengerti tentang kapal, karenanya anda berenang. Namun dikala anda berenang menuju Minang, di Selat Sunda anda akan berhadapan dengan gelombang yang cukup besar, dan pada saat-saat seperti itu  pasti anda akan mencari pegangan. Kalau anda tidak menemukan pegangan yang besar, pasti apapun yang anda temui, kendatipun ranting sekecil apapun, akan anda pegang sebagai pegangan anda agar selamat dari ancaman gelombang atau ombak yang ada di hadapan anda”.

Metafora di atas menggambarkan kepada kita bahwa sesungguhnya hidup ini perlu pegangan. Dan pegangan hidup kita sebagai muslim yang utama dan kuat adalah salat.

Kedua, salat adalah pegangan  untuk  membentengi diri dari perbuatan keji dan mungkar. Dalam Al-Qur’an dikatakan,” Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain. Dan  Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan “(al-Ankabut ayat 45,).

Kehidupan dunia menawarkan dan menggoda dengan banyak kesenangan  Baik dalam bentuk harta, kekayaan, pangkat, jabatan dan juga kenikmatan ragawi atau seksuil. Manusia bisa tergoda  dan mengorbankan prinsip, keyakinan dan moral yang dipegangnya demi jabatan, kekuasaan dan materi  Jika prinsip hidup tidak teguh dan tidak  kuat maka cara yang illegal, tidak halal dan menjauhi etika akan mudah dilakukan demi kepuasan dan kenikmatan duniawi.

Salat yang dikerjakan –tepatnya didirikan–dengan kesungguhan dan khusyu karena Allah, untuk membangun dan melahirkan akhlak dan moral untuk melawan kecenderungan hati pada kejahatan atau perbuatan mungkar.

Salat yang terbaik,menurut Muhammad Bahnasi, adalah shalat  yang memiliki ruh, yaitu muncul dari perasaan  pengagungan kepada Allah dan ketundukan kepada-Nya. Shalat inilah yang memberikan pengaruh yang baik pada pembentukan akhlak dan pendidikan jiwa bagi yang melaksanakannya.

Sedangkan salat yang tidak memberikan efek.pada akhlak dan tidak mampu mencegah dari perbuatan jahat dan mungkar adalah shalat yang kosong dan hanya timbul dari kebiasan dan rutinititas, perbuatan yang diulang-ulang, tidak memiliki makna (Lihat Muhammad Bahnasi, Shalat Sebagai Terapi Psikologi, PT Mizan Pustaka, Bandung, 2008/1429 H, hal. 190-191). Hal yang sama dikemukan Ir. H. Zaid M. Bachmid, bahwa salat yang didalamnya terdapat bacaan yang merupakan permohonan kita kepada Allah untuk mendoakan kehidupan yang lurus dan baik, sejatinya harus diusahakan terwujud dalam kehidupan, sebaliknya jika manusia tetap dalam menjalani kejahatan dan kemungkaran berarti salat yang  dilakukannya sia-sia, kosong dan hampa ( Lihat dalam Bekal Hidup, CV Haji Mas Agung, Jakarta, 1989,hal.28-29).

Ketiga, salat adalah membangun komunikasi dan berdialog dengan Sang Pencipta. ” Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku,” (Thaha 14). Shalat adalah ibadah yang paling istimewa. Ia disampaikan kepada Rasul tidak melalui wahyu, melainkan langsung bertemu dengan Allah di Sidratul Muntaha pada saat Isra Mikraj. Betapa tingginya nilai ibadah salat, yang tentunya harus dipelihara dan dilaksanakan dengan baik

Dalam sebuah hadist dikatakan, ” Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka engkau harus yakin bahwa Dia melihatmu”.

Manusia berkomunikasi dengan Allah Sang Pencipta adalah sebuah kebahagiaan. Sebab, Allah merupakan sumber kehidupan dan ketergantungan manusia. Dalam surat al-Ikhlas ayat 2 Alllah berfirnan,” Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”.

Dalam ibadah kaum sufi yang dicari adalah pertemuan dengan Allah. Kaum sufi beribadah bukan karena takut neraka dan berharap surga.Tapi, didorong rasa cinta kepada Allah. Dan cinta itu tentu mengharapkan pertemuan dengan orang yang dicintai. Ini antara lain yang menonjol dari sufi wanita Rabiah al- Adawiah, pelopor tasauf cinta atau mahabbah.

Jika salat didasarkan pada cinta dan berharap mendapat cinta dari Allah, maka salat menjadikan setiap muslim terjauh dari segala kejahatan dan godaan kehidupan  dunia yang merusak.

Masyarakat kita dan negara yang sekarang menghadapi banyak masalah, sebaiknya merevisi diri dan bertanya tentang makna kehidupan beragama yang dijalani. Kebijakan beragama harus diarahkan agar masyarakat dan negara membangun kehidupan beragama yang sehat dan positif. Masyarakat jangan dijauhkan dari agama, hanya agama yang intens menjauhi kejahatan. Sedangkan hukum masih bisa ditawar manusia. Allahu ‘alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda