Mutiara

Gurunya Guru Ulama Besar Tanah Jawa

Written by A.Suryana Sudrajat

Ketika memimpin Pesantren Langitan yang didirikan ayahnya,  Kiai Ahmad Sholeh memiliki sejumlah murid yang kelak menjadi ulama besar dan berpengaruh di Indonesia. Tapi di tempat lain ia juga mengajarkan ilmu kanuragan kepada  para santri dan penduduk setempat. Untuk apa?     

Kiai Haji Ahmad Sholeh Langitan adalah gurunya  guru sejumlah  kiai besar di Tanah Jawa.  Ia adalah adalah pengasuh Pesantren Langitan,  Tuban, Jawa Timur. Ia menggantikan ayahnya,  K.H. Muhammad Nur, sang  pendiri, yang wafat pada 1879. 

Mula-mula Ahmad Sholeh belajar mengaji pada orang tuanya. Setelah itu ia melanjutkan ke   Pesantren Sidoresmo, Surabaya,  asuhan  K.H. Abdul Qohar. Ia  kemudian nyantri dan berguru pada K.H. Hasbullah di Pesantren Sambilangan, Madura. Ketika menunaikan ibadah haji  tahun 1289 H/1872 ia menyempatkan diri berguru kepada ulama-ulama Mekah, di antaranya  Syekh Ahmad Zaini Dahlan,   yang  menjadi tempat para santri Nusantara mencari ilmu.

Pulang dari Mekah,  Kiai Ahmad Sholeh diserahkan amanah untuk  memimpin Pesantren Langitan, seetelah ayahnya wafat.  Pesantren Langitan pun segera masyhur dan banyak didatangi santri dari berbagai daerah. Di bawah bimbingan Kiai Sholeh, sejumlah santri Langitan menjadi ulama besar, yang kemudian menurunkan ulama-ulama terkemuka lagi. Di antara para santrinya adalah  Syaikhona  Kholil Bangkalan, K.H. Hasyim Asy’ari Tebuireng, K.H. Abdul Wahab Chasbullah Tambakberas, K.H. Syamsul Arifin Situbondo, K.H. Muhammad Shiddiq Jember, K.H. Mas Mansur, pendiri Tashwirul Afkar dan tokoh Muhammadiyah, dan K.H. Faqih Maskumambang,  Gresik.

K.H. Ahmad Sholeh Langitan wafat tahun 1320 H/1902. Ia dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Mandungan, Widang, Kabupaten Tuban, kurang lebih 400 meter dari loaksi pesantren, berdekatan dengan makam ayahnya. Kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan oleh menantunya,  K.H. Muhammad Khozin  yang wafat pada tahun 1921, yang kemudian dilanjutkan oleh KH  Abdul Hadi Zahid (wafat 1971).

Semasa hidupnya Kiai Ahmad Sholeh pernah ditugasi untuk berdakwah di daerah aliran Sungai Berantas. Tepatnya di Desa Gondanglegi, Prambon, yang waktu itu dikuasai para preman. Di sana ia mendapat lahan sekitar 4 hektar dari sahabatnya, Haji Romli, yang juga menjadi mertuanya. Di sini Kiai Ahmad Sholeh juga mendirikan Pondok Pesantren Gawang, yang kemudian hilang ditelan banjir dan menjadi rawa. Namun demikian, masjid yang dibangun Mbah Sholeh Langitan masih berdiri kokoh sampai sampai sekarang, tentu setelah direnovasi. Yakni Masjid Masjid Jamik Al-Falah di Desa Gondonglegi.

Dikisahkan, dalam menghadapi para preman itu Mbah Sholeh mengajarkan ilmu kanuragan kepada para santri dan penduduk lokal. Konon, berkat penguasaan ilmu yang di atas rata-rata inilah warga desa tidak lagi kecut dalam menghadapi ulah para preman. Mereka siap berhadapan dan sekaligus melawan.   

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda