Hamka

Buya Hamka tentang Isra’ Mi’raj

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam

dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya

agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.

Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Isra’ dan Mi’raj Nabi s.a.w.  merupakan peristiwa sejarah yang amat penting. Di dalam peristiwa ini, hanya Nabi Muhammad yang diangkat Tuhan, diperlihatkan ayat-ayat-Nya kepada Nabi. Malam itu tanggal 27 Rajab, tahun ke 11 dari kerasulannya. Artinya sudah 11 tahun sejak Nabi menerima wahyu yang pertama di Gua Hira.

Nabi sedang tidur di rumah Ummu Hani’ binti Abu Thalib. Salah seorang mukminat keluarga beliau. Sebelum tidur Nabi bersembahyang dua rakaat. Setelah datang Subuh Nabi bercerita kepada Ummi Hani’ bahwa tadi malam Nabi diperjalankan dari Masjid al-Haram ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha). Mendengar cerita Nabi ini Ummi Hani’ berkata: “Nabi Allah, janganlah engkau ceritakan pengalaman itu kepada orang lain. Nanti engkau akan didustakannya dan disakitinya. Jangan cerita kepada mereka Nabi.” Tetapi Nabi menjawab, ” Demi Allah, aku harus ceritakan kepada mereka, Ummi Hani’. Harus!”

Nabi lalu meninggalkan rumah Ummi Hani’ dan pergi ke Masjid al-Haram. Nabi termenung-menung. Saat itu Abu Jahal lewat di sana. Melihat Nabi bermenung-menung Abu Jahal bertanya: Ada berita baru, Muhammad?” “Ya ada,” jawab Nabi. “Hei ada?” tanya Abu Jahal sambil berolok-olok. ” Ya aku diperjalankan tadi malam dari Masjid al-Haram ke Baitul Maqdis, ” jawab Nabi pasti. “Ke Baitul Maqdis?” sanggah Abu jahal tidak percaya. “Ya, ke Baitul Maqdis.” Abu Jahal terus mengejek Nabi. Cerita Nabi itu baginya sungguh mengherankan. “Muhammad, mau kau bercerita di depan orang banyak mengenai perjalananmu itu?” kata Abu Jahal kemudian. “Mau ” jawab Nabi.

Abu Jahal segera mengumpulkan orang banyak. Sebentar saja lingkaran itu sudah penuh sesak. Mereka ingin mendengar cerita Nabi. “Mulailah Muhammad,” kata Abu Jahal kepada Nabi. “Kami sudah berkumpul semua di sini. Ceritakanlah kepada mereka apa yang mengaku ceritakan kepadaku tadi.” Setelah diam sejenak, Nabi lalu berkata: “Malam tadi aku diperjalankan dari sini.” “Ke mana? “tanya mereka. “Ke Baitul Magdis.” “Betul itu?” tanya mereka setengah mengejek. “Ya, betul”, jawab Nabi.

Orang-orang itu sangat heran. Ada orang-orang Quraisy yang bertepuk tangan, ada yang bersiul sebagai ungkapan cemooh. Pendeknya mereka mendustakan berita yang disampaikan oleh Nabi. Cerita nabi yang mereka anggap sebagai “dongeng bohong” itu cepat sekali tersebar ke segala pelosok kota Makkah. Ada kelompok orang Quraisy yang mendatangi Abu Bakar. Orang-orang ini bertanya kepada Abu Bakar, apa jawabnya jika mendengar dongeng Nabi Muhammad itu “Benarkah Nabi berkata begitu?” tanya Abu Bakar. “Betul begitu,” jawab mereka. “Jika Nabi yang berkata, maka aku menyaksikan, bahwa Nabi berkata benar.”

“Kamu percaya bahwa ia sampai ke Masjid al-Aqsha hanya dalam satu malam? Padahal kita membutuhkan waktu pulang pergi tidak kurang dari dua bulan. Bagaimana ia bisa semalam saja?” bantah mereka. “Betul saya percaya apa ceritanya. Bahkan lebih dari itu saya percaya kepadanya. Saya percaya akan berita dari langit.”Dan setelah Abu Bakar bertemu dengan Nabi, Abu Bakar membenarkan cerita Nabi seluruhnya Di depan orang-orang Quraisy itu. Sejak saat itu Nabi memberi gelar kepada Abu Bakar ash-Shiddiq.

Nabi menceritakan perjalannya bersama malaikat Jibril. Nabi Isra dan Mi’raj bahkan telah sampai ke Sidrat al-Muntaha, yang lebih tinggi dari langit. Nabi melihat Malaikat Jibril dalam keadaan yang sebenarnya. Seperti yang dilihatnya di Gua Hira. Sebelah kaki Malaikat Jibril itu menutupi ufuk. Maqlaikat Jibril memiliki tidak kurang dari 600 sayap.

Isra dan Mi’raj ini terjadi sekali jalan. Mula-mula Nabi naik Buraq terus menuju ke Baitul Maqdis. Dari sana Nabi terus naik ke langit. Di tiap tingkat Nabi bertemu dengan Nabi-nabi. Pada langit pertama Nabi bertemu dengan Nabi Adam. “Beliau sambut aku dengan baik,”kata Nabi. Kemudian Nabi dimi’rajkan ke langit  kedua. Di sana Nabi bertemu dengan Nabi Isa anak Maryam dan Nabi Yahya.” Keduanya menyambutku dengan baik dan mendoakanku dengan baik,” kata Nabi.

 Nabi dimi’rajkan lagi ke langit ketiga. Di sana beliau bertemu dengan Nabi Yusuf. “Beliau sambut aku dengan baik, dan beliau doakan aku dengan baik,” kata Nabi. Nabi Yusuf indah cemerlang wajahnya. Terus Nabi dimi’rajkan lagi. Pada langit keempat bertemu dengan Nabi Idris. Pada langit kelima bertemu Nabi Harun. Pada langit keenam bertemu Nabi Musa. Pada langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim. Nabi Muhammad Saw melihat Nabi Ibrahim sedang bersandar pada Baitil Makmur. Dan ke dalam Baitil Makmur itu setiap hari masuk untuk ber sembahyang 70.000 malikat. Dan jika mereka telah ke luar tidak kembali lagi.

Kemudian Nabi diangkat ke “Sidrat al- Muntaha” yang daun-daunnya laksana telinga gajah. Dan buahnya panjang-panjang laksana penggalah. Kalau tersentuh oleh suatu perintah Allah, berubahlah dia. Maka tiada seorang hamba Allah pun yang sanggup menceritakannya. Sangat indah. Kemudian Nabi memperoleh wahyu yang mewajibkan sembahyang. Mulanya 50 waktu. Tetapi atas saran Nabi Musa akhirnya menjadi 5 waktu. Namun pahalanya sama dengan mengerjakan 50 waktu.

Peristiwa itu dan semua pengalamannya itu diceritakan dengan jelas kepada mereka, kaum Quraisy. Namun orang-orang Quraisy itu tidak mau mempercayainya. “Kalau benar engkau baru saja kembali dari Baitul Maqdis, adakah engkau lihat di jalan rombongan kafilah kami? Berapa ekor untanya dan betapa keadaannya?” tanya seseorang kepada Nabi. Nabi Saw menjelaskan bahwa rombongan itu sekarang tengah berjalan menuju Makkah. Sekian banyak orangnya dan sekian bayak untanya.

Hari ini ketika matahari terbit sampailah rombongan itu. Unta yang di muka sekali putih warnanya. Mereka ingin membuktikan ucapan Nabi. Mereka menunggu di luar kota. Benar rombongan itu datang dan di muka sekali unta putih. Jumlah orangnya juga cocok seperti yang dikatakan oleh Nabi.

Sekalipun sudah jelas, orang-orang Quraisy tetap membatu. Tidak mau menerima kebenaran yang datang dari Allah. Mereka tetap mengingkari keterangan Nabi. Dan perlakuannya yang tidak sopan, yang sewenang-wenang siksa dan ancaman, berjalan terus terhadap Nabi dan pengikutnya. Namun jumlah kaum muslimin yang sedikit itu, benar-benar pilihan. Mereka tidak gentar dan tidak takut menghadapi cemoohan dan ejekan mereka. Kaum Quraisy yang musyrik.

Sumber: Ensiklopedia Buya Hamka

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda