Tasawuf

Penyakit yang Menjadi Obat

Written by A.Suryana Sudrajat

Inilah cerita Syekh Abul Qasim Al-Junaid (w. 297 H/910 M), sang pemimpin sufi yang anak penjual kaca.

Suatu malam ia susah tidur. Syekh yang ke mana-mana selalu membawa tasbih ini (Kata dia, “Melalui ini aku dapat sampai kepada Tuhan, dan karena itu aku tidak akan melepasnya,” ketika ditanya mengapa orang semulia dia masih juga bawa-bawa tasbih) bangun dan berzikir. Tapi, ah, tetap saja gelisah. Lalu, dalam suasana galau itu ia kembali mencoba tidur lagi. Tetap gak bisa. Ia lalu duduk. Siapa tahu bisa tenang. Hasilnya sami mawon, sama saja.

Pak Al, ya Al-Junaid, pun memutuskan ke luar rumah. Eh, ada orang yang sedang berbaring di tengah jalan, rupanya. Tapi orang itu, menyadari kehadiran Pak Al, mengangkat kepalanya.

“Wahai Abul Qasim (bapak si Qasim), lihatlah waktu,” kata orang tak dikenal itu.

“Maaf, tidak ada ketentuan waktu,” jawab Al-Junaid.

“Bahkan aku sudah memohon kepada Penggerak Hati agar menggerakkan hatimu kemari.”

“Dia sudah melakukannya. Apa mau Anda?”

“Bilakah penyakit nafsu menjadi obatnya sendiri?”

“Jika nafsu menentang keinginannya, penyakitnya menjadi obatnya.”

Laki-laki itu kemudian berpaling dan berkata kepada dirinya, “Nafsu, dengarlah! Aku sudah tujuh kali menjawab pertanyaanmu dengan jawaban seperti itu. Tapi kamu menolaknya, sampai kamu dengan sendiri jawabannya dari Al-Junaid.”

“Aku tidak tahu siapa laki-laki itu. Setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi,” kata Pak Al. Lengkapnya Abul Qasim Al-Junaid ibn Muhammad Al-Baghdadi. Orang Baghdad ini digelari Al-Junaid karena ia pemimpin para  tentara.

Rasulullah s.a.w menyebut perang melawan hawa nafsu sebagai jihad. Ini dikatakannya sepulang Perang Badar, yang berakhir dengan kemenangan di pihak muslimin itu. “Kita kembali dari jihad kecil ke jihad besar,” kata Nabi.

“Apa yang dimaksudkan dengan jihad yang akan kita hadapi itu?” tanya sahabat.

“Berjihad melawan hawa nafsu.”

Nabi bersabda pula, ”Ketakutan yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah godaan dari perut kalian, kemaluan kalian, dan kesesatan hawa nafsu. (H.R. Imam Ahmad).

Yang terakhir ini, agaknya, tidak jauh dari keinginan untuk melahap apa saja alias serakah  pada harta, mengumbar dan mengeksploitasi hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas, dan gila kuasa. Dan untuk ketiga hal itu, orang bisa menghalalkan segala cara.  

Bisakah kita menjadikan penyakit hati itu menjadi obat?

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda