Panji Milenial

Kasus Aktif Turun, Satgas Covid-19: Khawatir Jumlah Kasus Akan Kembali Naik Pasca Idul Fitri

PANJI MASYARAKAT – Pandemi corona di Indonesia saat ini telah menginjak satu tahun. Berbagai macam upaya telah dilakukan oleh pemerintah guna meredam angka kasus positif, mulai dari diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro.

Upaya tersebut menjadi salah satu cara untuk “memaksa” masyarakat agar terbiasa dalam situasi saat ini. Selain itu mewajibkan masyarakat untuk patuh pada protokol kesehatan di setiap aktivitas. Publikasi terkait kasus Covid-19 juga selalu dilakukan pemerintah, sehingga masyarakat bisa mengetahui perkembangannya.

Lantas, setelah satu tahun pandemi, apa kabar Indonesia saat ini?

Ketua Komunikasi Publik Satuan Tugas (satgas) Covid-19 Hery Trianto mengatakan kasus positif mengalami perubahan yang cukup baik, terutama pada satu bulan belakangan ini. Angka kasus aktif menurun hampir 27 ribu.

“Apakah ini dapat disebut sudah terkendali? Saya rasa memang belum, tetapi kita punya progres yang bagus ketika kita menjalankan PPKM skala mikro,” ujar Hery dalam seminar online Panji Masyarakat “Satu Tahun Pandemi, Apa Kabar Indonesia?”, Sabtu (6/3/2021).

Hery membandingkan angka kasus Covid-19 di Indonesia dengan dunia. Rata-rata kasus aktif di Indonesia saat ini adalah 10,87 persen, sementara di dunia mencapai 18,75 persen. Angka kesembuhan di Indonesia berada di rata – rata 86,42 persen, sedangkan rata-rata kesembuhan di Indonesia hanya 79, 02 persen.

“Artinya Indonesia tidak terlalu buruk bila dibandingkan dengan rata – rata global dalam menanggulangi pandemi corona,” ucapnya.

Semenjak diberlakukannya PPKM mikro, terdapat beberapa perubahan angka kasus aktif di beberapa daerah, salah satunya Jakarta. Beberapa bulan lalu, jumlah kasus harian di Jakarta berada di angka 5.000, namun saat ini jumlah kasus hariannya dapat menyentuh angka 1.000.

“Jakarta menjadi salah satu daerah yang jumlah kasusnya mengalami penurunan,” katanya.

Karena adanya penurunan kasus di beberapa daerah, membuat ketersediaan ruangan di rumah sakit cukup memadai. Meski begitu, ia sangat berharap tidak lagi ada penambahan kasus seperti sebelumnya.

“Harapannya adalah kasus itu akan terus turun. Kalau dalam satu bulan, kita bisa konsisten mengurangi 25 ribu atau 26 ribu kasus, maka dalam lima bulan lagi kita dapat tekan kasus itu pada titik terendah,” paparnya.

Hery menambahkan angka positivity rate di Indonesia masih terbilang cukup tinggi, terutama pada Januari hingga Februari yang jumlah rata-ratanya menyentuh 40 ribu. Apabila jumlah positivity rate dapat ditekan, maka Indonesia bisa dikatakan mampu mengendalikan pandemi Covid-19 dengan baik.

Masuknya B117 dan Prediksi Lonjakan Kasus Pasca Idul Fitri

Munculnya virus corona mutasi dari Inggris membuat pemerintah semakin waspada. Pasalnya virus varian baru ini bisa menyebar lebih cepat dibandingkan dengan virus lama.

Hery mengungkapkan sejak Desember lalu, satgas Covid-19 telah melakukan screening terhadap 60 ribu orang lebih yang datang dari luar Indonesia.

Hasilnya, sebanyak 1.500 orang di pintu kedatangan beberapa bandara terindikasi membawa virus B117. Bisa jadi dua kasus B117 yang ditemukan di Karawang merupakan bagian dari 1.500 orang tersebut.

Padahal pemerintah telah memperketat peraturan dengan mewajibkan semua orang yang datang dari luar negeri untuk melakukan isolasi mandiri selama 10 hari.

Adanya kasus B117, membuat Hery khawatir, kasus Covid-19 akan kembali melonjak. Apalagi lagi sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadan. Setiap Ramadan selesai, seluruh umat muslim di Indonesia merayakan hari raya Idul Fitri.

“Kenaikan angka positif kerap terjadi setelah periode libur panjang, terutama libur natal 2020 yang mana terjadi kenaikan signifikan pada PPKM 1 dan 2 di bulan Januari. Walaupun jumlah kasus aktif mengalami penurunan pada masa PPKM mikro, saya khawatir jumlah kasus akan kembali naik setelah Idul Fitri 2021 yang akan datang,” ungkapnya.

Pandemi ini tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja. Apabila satu negara dapat mengatasi namun negara tetangga tidak, tentu saja risiko melonjaknya kasus Covid-19 akan terbuka. Maka dari itu, penyelesaian wabah Covid-19 harus menjadi agenda dunia.

Hery juga berharap baik pemerintah maupun masyarakat dapat saling bekerjasama untuk menanggulangi Covid-19 di Indonesia.

About the author

Firhan Aziz Hanafi

Firhan Aziz Hanafi adalah content writer magang Panji Masyarakat batch 2. Ia saat ini tengah berkuliah di Universitas Pertaminan jurusan Ilmu Komunikasi.

Tinggalkan Komentar Anda