Bintang Zaman

Bisri Syansuri (1): Pecinta Fikih Sepanjang Hayat

Sosok KH Muhammad Bisri Syansuri sangat lekat dengan perdebatan soal RUU Perkawinan pada 197374. Dia pula pelopor aksi walkout pada SU MPR 1978 yang sangat fenomenal. Seorang figur yang santun dan sederhana, tapi mendadak jadi sosok yang galak kalau urusan agama menjadi pertaruhan. Di kalangan nahdliyin  Mbah Bisri dikenal sangat ketat dalam penerapan hukum Islam. Mungkin lantaran kakek Gus Dur dari pihak ibu ini amat mencintai fikih.  

Bila seorang KH M. Bisri Syansuri ditinggal mati anaknya, apa yang menyita perhatiannya? Ketika Kiai Achmad Athaillah meninggal, Bisri teringat almarhum anak keduanya ini dulu pernah berutang kepada seorang santri Lasem (Jateng), pada zaman Belanda dulu. (Si pemberi utang malah mungkin sudah lupa). Kiai Bisri ingat, anaknya itu mencatat utangnya di sampul sebuah kitab. Maka disuruhlah orang mencari kitab itu, sampai ketemu. Dan berhasil.

Berapa jumlah utangnya? Cuma beberapa sen gulden. Jumlah utang yang remeh temeh, rupanya. Tapi Kiai Bisri memerintahkan orang untuk mengkurskannya ke dalam rupiah. Ternyata jumlahnya menjadi besar: ratusan ribu rupiah. Sejumlah itulah utang lalu dibayar.

Bisri Syansuri memang sosok ulama yang sangat berhati-hati dalam urusan agama. Dialah ulama yang konsisten menerapkan hukum fikih dalam berbagai persoalan, termasuk di bidang politik. Biasanya dia memilih pandangan fikih yang berat. Kesetiannya yang nyaris tuntas terhadap fikih membuat H. Abdurrahman Wahid menyebut kakeknya dari garis itu sebagai “pecinta fikih sepanjang hayat”. Dan ia sangat gigih untuk memperjuangkan pandangan fikihnya ini.

Ambillah contoh saat ramai-ramainya perdebatan mengenai RUU Perkawinan pada 1973-1974. Inilah rancangan kontroversial yang telah memicu protes dan gelombang aksi demonstrasi oleh umat Islam karena banyak pasalnya yang bertentangan dengan hukum Islam. Sosok Bisri pun lekat dengan peristiwa ini karena dia tampil sebagai tokoh utama yang sangat gigih dan paling berperan untuk mengganjal RUU tersebut.

Apa yang ia perbuat. Dikumpulkannya para ulama Jawa Timur, terutama dari kalangan NU, di Jombang, guna dibawa ke dalam forum rapat pleno PBNU. Rapat itu secara aklamasi menyetujui RUU tandingan untuk dibawa ke dalam forum Majelis Syuro PPP. Bisri kala itu menjadi Rais Am lembaga ini. Ternyata Majelis Syuro menyetujui pula dan memerintahkan PPP untuk menjadikannya sebagai materi yang diperjuangkan di DPR. Akhirnya, lewat perjuangan yang Panjang, RUU tandingan tersebut akhirnya disetujui DPR dengan sedikit revisi di sana-sini.

Walaupun berkecimpung di dunia politik, kata Gus Dur, orang tak pernah melihat tindakannya sebagai langkah politis. “Moralnya utuh dan bulat. Dalam hal prinsip beliau terasa keras, tidak memikirkan akibat politik tindakannya,” kata Abdurrahman Wahid. “Kalau kita tidak memperjuangkan syariat Islam di tengah-tengah masyarakat Pancasila ini, lalu siapa lagi. Siapa yang memelopori?” bisiknya suatu kali ke telinga Kiai Mahrusi dari Pondok Lirboyo, Kediri.

Ada contoh lain. Pada Sidang Umum MPR 1978 berlangsung perdebatan yang keras antara FPP di satu pihak dan FKP serta FPDI di pihak lain mengenai rancangan ketetapan MPR menyangkut pemberian status aliran kepercayaan. Pihak pertama menolak, pihak kedua mendukung. Begitu tajam perbedaan mereka sehingga sidang mengalami jalan buntu alias deadlock. Di luar, polarisasi pun terjadi. Ada gelombang protes dari umat Islam, yang dalam ukuran zaman itu terhitung besar. Sudah tentu kalau diadakan voting, FPP bakal kalah dari FKP yang jauh lebih besar. Adalah Bisri, pada SU MPR itu, yang memelopori aksi walk out orang-orang NU di FPP Ketika FKP yang lebih besar memaksakan pengambilan secara voting. Itulah aksi walk out yang pertama dan ternyata kemudian satu-satunya, sepanjang Orde Baru.

Bersambung

Penulis: Iqbal Setyarso. Mantan wartawan Panji Masyarakat ini kini aktif di Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jakarta. Sumber Majalah Panji Masyarakat,  28 Juli 1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda