Tafsir

Tafsir Tematik: Umat Terbaik dan Tafsiran Baru (1)

Written by Panji Masyarakat

Adalah kamu umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah. (Q. 3: 110)

Mungkin menarik, tafsir paling baru, untuk ayat ini, justru datang dari seorang sejarawan yang sosiolog. Itulah Kuntowijoyo. Pernahkah Anda mendengar pemahaman “memerintahkan yang makruf (al-amr bil-ma’ruf) sebagai ‘humanisasi’? Sementara itu “mencegah dari yang mungkar” (an-nahy ‘anil munkar) menemukan bentuknya yang relevan dengan konteks kita sebagai ‘liberasi’ alias pembebasan. Sedangkan “beriman kepada Allah” (al-iman billah) tak lain tugas ‘transendensi’, menghubungkan hidup dengan Dzat.

Mula-mula Kunto merespons gagasan yang banyak terdengar mengenai pembaruan teologi. Ini istilah lain, agaknya, dari “pembaruan pemahaman agama”. Maka dikatakannya, “Jika gagasan pembaruan teologi adalah agar agama diberi tafsir baru dalam rangka memahami realitas (huruf miring dari kami; pen},” maka metode yang efektif adalah “mengelaborasi  ajaran agama ke dalam suatu bentuk teori sosial.”

Tapi sementara itu, tentang Ilmu Sosial sendiri Kunto menyatakannya sebagai sedang mandek. Karena itulah di bidang ini ada gagasan pengembangan Ilmu Sosial Transformatif – “yang tidak berhenti hanya dengan menjelaskan fenomena sosial, melainkan juga berupaya mentransformasikannya.” Tapi ini, katanya, tidak memberi jawaban: ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa, dan oleh siapa.

Di situlah ia mengetengahkan perlunya sesuatu yang lain: Ilmu Sosial Profetik {prophecy: kenabian). Yakni, yang “tidak sekadar mengubah demi perubahan, tapi mengubah berdasarkan cita-cita etik dan profetik tertentu.” Dan itu berarti perubahan selaras dengan cita-cita “humanisasi/emansipasi, liberasi, dan transendensi”. Di sinilah lalu Kunto menunjuk ayat di atas sebagai rujukannya. Ia menjadi mufasir, dan untuk jurusan ini mufasir yang cocok.

Nah. Humanisasi adalah amar makruf itu. Tujuan humanisasi: memanusiakan manusia. “Kita tahu bahwa kita sekarang mengalami proses dehumanisasi, karena masyarakat industrial kita menjadikan kita sebagai bagian dari masyarakat abstrak tanpa wajah kemanusiaan,” demikian sejarawan yang saleh ini. “Kita mengalami objektivasi (hanya menjadi sasaran; pen) ketika berada di tengah-tengah mesin-mesin politik dan mesin-mesin pasar. Ilmu (sains; pen) dan teknologi juga telah membantu kecenderungan reduksionistik yang melihat manusia dengan cara parsial (bagian per bagian, tidak seutuhnya; pen).” Demikian Kuntowijoyo (Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Interpretasi untuk Akasi, 288, 289). Maka amar makruf di situ berarti, tentunya, mengajak menciptakan kondisi sebaliknya dari yang disebut.

Termasuk ke dalam kondisi itu adalah, kalau kita lanjutkan sendiri, penghargaan kepada manusia berdasarkan prinsip kesetaraan. Itulah emansipasi, hal yang sudah disebut tapi barangkali terlupakan penjelasannya oleh Kunto, yang dalam istilah teknis Islam disebut al-musawaah.

Dengan emansipasi diteguhkan segala tindakan yang mampu menghindarkan baik diskriminasi maupun penganakemasan, dari seluruh sudut kehidupan – dari peran sosial dan hak-hak politik, peluang usaha di bidang ekonomi, perlakuan hukum, bahkan pelahiran budaya, misalnya dari kelompok-kelompok minoritas tertentu – apalagi mayoritas – yang mungkin tertindas. Juga termasuk di dalamnya peneguhan tindakan yang melawan monopoli, oligopoli, trust, kartel, dengan sarana-sarananya: kolusi dan nepotisme, dua pohon terpenting yang menyebabkan dahan-dahan dan ranting-ranting korupsi.

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 2 Desember 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda