Pengalaman Religius

Rina Gunawan (3): Yang Penting dalam Sebuah Keluarga

Written by Asih Arimurti

Kehidupan selebritis tak selalu seperti dibayangkan orang. Senantiasa bertabur kegembiraan dan canda-tawa. Seringkali justru sebaliknya. Tak hanya karunia yang diterima, terkadang justru malapetaka yang menimpa. Ini pula yang dialami  Rina Gunawan saat menjalani kehidupan sebagai pesohor. Bagi Rina, dalam menjalani pasang-surut kehidupan rasanya tidak ada lain kecuali belajar dari pengalaman kehidupan itu sendiri. “Juga ajaran agama, menjadi   penuntun yang tidak pernah habis,” ujar istri Teddy yang wafat dalam usia 47 ini.

Bagiku, keluarga adalah yang nomor satu. Apalagi setelah lahirnya si buah hati. Menurutku, anak adalah titipan Tuhan untuk dipelihara. Aku merasakan rezeki yang diberikan Allah begitu besar saat aku dianugerahi seorang anak. Inilah yang membuatku tidak boleh berbuat yang macam-macam. Tawaran pekerjaan cukup banyak. Bila semuanya aku terima, mungkin itu bisa membuatku menelantarkan suami dan anak. Karenanya, aktivitas keartisanku cukup menjadi peresenter program hiburan Campur-Campur di sebuah stasiun televisi swasta, selain mengelola wedding party organizer.

Aku tidak mau kerja yang full, dari pagi hingga malam hari. Aku tidak mau, karena aku yakin apa yang kita kerjakan untuk suami, “melayani” suami, keluarga, ya surgalah balasannya. Yang di depan mata kita sekarang, bukan lagi orangtua tapi keluarga. Bila malam hari aku lebih senag beribadah. Selain beribadah langsung kepada Allah SWT, juga beribadah (mengabdi) kepada keluarga. Kayaknya, aneh saja jika suami pulang kerja, aku tidak ada di rumah. Tidak bisa membuatkan minuman, menyediakan air hangat untuk suami.

Yang seperti itu, bagiku harus dilakukan oleh seorang istri yang harus melayani suami. Mama dan Papa kadang bertanya, “Kenapa sih, kok nggak mau main sinetron lagi?” Jawabnya, kita nggak bisa lagi seperti dulu, selalu patuh kepada orangtua. Sekarang patuhnya ya kepada suami. Perkataan suami yang kupegang. Bila ada yang tidak benar menurut logikaku, nggak menjadi beban di pikiran kita. Ya, kita analisa lagi sampai mendekati kebenaran.

Berbicara soal agama, menurutku, itu yang sangat penting dalam sebuah keluarga. Bila satu keluarga dasarnya nggak kuat, ya akan rubuhlah. Jadi, menurutku penerapan agama dalam keluarga harus benar-benar kuat. Agama bisa menjadi pagar untuk menjaga kita agar tidak berlaku semaunya. Agama tidak hanya hubungan ibadah dengan Allah, tetapi merupakan pengetahuan yang benar-benar dapat kita praktekkan.

Memang banyak aku melihat dalam sebuah keluarga menerapkan larangan dan mengharuskan melakukan ini dan itu. Aku sendiri termasuk penganut mazhab yang netral saja. Artinya, tidak macam macam, hubunganku dengan Allah SWT itulah yang paling penting. Kalau dulu, karena mungkin aku tidak melihat peran orangtua, maka aku tidak melihat teladan, apakah mereka lakukan ngaji atau apa. Jadi, kayaknya aku harus mulai lagi dari awal. Ya, itulah, aku harus pandai-pandai berlajar dari pengalaman hidup, harus sering-sering bercermin. Karena ini proses, jadi, ya sudah, aku akan perbaiki. Apa kelemahan dan kekurangan yang dulu tidak mereka (orangtua) bekalkan kepadaku, aku akan bekali kepada anakku.

Bersambung

Ditulis bersama Aam Masroni. Sumber: Majalah Panjimas, 02-15 Oktober 2002.

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda