Pengalaman Religius

Rina Gunawan (2): Aku dan Teddy Syach

Written by Asih Arimurti

Rabu, 3/3/2021, Teddy Syach mengantarkan  istrinya, Rina Gunawan, ke tempat peristirahatannya yang  terakhir di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Pemakaman dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan. Usai sang istri dikebumikan, Teddy, yang mengenakan APD, menyampaikan testimoninya. Kata  Teddy, dia dan kedua anaknya mendampingi Rina Gunawan pada detik-detik sebelum wafat. Saat itu Rina berada di ICU Rumah Sakit Pusat Pertamina. “Setelah menunaikan ibadah salat magrib, saya putra saya dan putri saya itu menyaksikan secara langsung kepulangan dari Bunda Rina Gunawan, sahabat, teman, kerabat kita. Saya membimbing beliau sampai akhir hayat,” kata Teddy, seraya menahan tangis. Ia juga menyatakan  bahwa dia telah merelakan kepergian sang istri tercinta. “Juga disaksikan oleh kedua putra putri saya, saya menyatakan sebagai seorang suami, saya ikhlas, saya rida  demi Allah. Allah sebagai saksi yang engkau lakukan selama ini baik, baik,” Berikut ini adalah cerita Rina Gunawan tentang perubahan pola hidupnya setelah menikah dengan Theodorio “Teddy” Syach.

Banyak orang melihat perubahan telah terjadi pada diriku setelah apa yang aku inginkan tercapai. Padahal itu suatu bagian dari proses kehidupan yang dialami setiap manusia. Di satu sisi memang, alhamdulillah, karena, sejak masa kanak-kanak sampai remaja, aku belum mengerti tentang arti hidup yang sesungguhnya.

Setelah saya berkeluarga–mungkin karena usia dan belajar dari pengalaman hidup secara berangsur-angsur aku mulai memahami akan makna hidup. Di samping belajar sendiri, bimbingan suami saya. Teddy, sangat besar peranannya. Tanpa pernah merasa lelah, ia selalu “mengajari”, hingga aku merasakan terjadi perbedaan yang besar sekali saat ini. Ketika masih remaja, aku sering ke disko, ke cafe bersama teman-teman, aku juga pernah membuka warung tenda sampai pagi, hura-hura. Apa yang aku alami mungkin dirasakan juga oleh sebagian besar orang saat memasuki fase remaja.

Masa seperti itu, berubah ketika aku memasuki jenjang pernikahan. Apalagi setelah mengetahui makna ijab kabul, tujuan menikah itu untuk apa, dan memahami kehidupan menikah itu seperti apa. Dulu, aku sempat berpikir, kita seharusnya jangan berubah, tetap saja seperti dulu. Ternyata nggak bisa, tuh. Proses pendewasaan dalam diri saya berjalan sendiri. Dan sepertinya, hal-hal menuju kepada kebaikan terlihat saja dengan sendirinya.

Setelah mengalami perubahan kehidupan, aku semakin sadar tentang perlunya hidup yang seimbang. Artinya kehidupan tidak hanya memikirkan masalah duniawi,  tapi ukhrawi. Oleh karena itulah aku sudah bertekad dalam diri sendiri, insya Allah, 50 persen  waktu saya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dan sisanya barulah urusan duniawi.

Mungkin saat usiaku 35-an, kadar ini akan berbeda. Aku rencanakan, untuk akhirat menjadi 70 persen dan untuk duniawinya menjadi 30 persen saja. Bagiku, semua itu, ya mengalir saja seperti air. Make it flows

Peranan Teddy sebagai sahabat sekaligus suami, banyak mengajarkan aku tentang sikap seorang manusia sebagai makhluk sosial, juga bagaimana hubunganku dengan Allah. Ia acap kali mengingatkanku untuk tidak membicarakan orang, tidak bergosip di mana lingkungan tempat aku bekerja. Maklumlah, lingkungan orang-orang seniman kan sarat dengan gosip. Siapa pun yang ada di dalamnya mau tidak mau bisa terbawa. Nah, Teddy- lah yang selalu mengerem aku. Dia juga bilang. “Janganlah kita bergosip. Kalau mau membicarakan orang atau hal-hal lainnya, cukup bicarakan yang bagus-bagusnya”.

Saya banyak banget belajar dari Teddy. Dia selalu  tahu, selain, dia juga mempunyai guru sendiri. Jadi kami belajar bersama-sama. Seperti kita menaiki tangga. Tidak turun, tapi kadang juga kita naik. Pinginnya sih naik terus.

Selain dari Teddi, aku belajar dari pengalaman hidup, juga dari tokoh panutan. Misalnya, aku suka sekali dengan tokoh Aa  Gym , K.H. Abdullah Gymnastiar, Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Bandung. Ke mana-mana biasanya  dari tempat kerja ke rumah. aku putar kaset-kasetnya. Buku-bukunya juga aku baca. Aku pernah menyempatkan diri main ke pondok virtual Daarut Tauhid-nya. Khutbahnya sangat menyentuh hati, yang membuat hati kita bening. Bahasanya mudah dimengerti semua lapisan. Jadi, enak sekali. Kadang-kadang aku suka tertawa sendiri, terkadang berpikir sendiri. “Oh, iya ya, benar juga.”

Untuk memperbaiki diri, aku ingin berusaha selalu mencari yang terbaik. Aku mengenal sosok Aa Gym sudah lama, jauh sebelum dia terkenal seperti sekarang. Buku pemberiannya pun sampai sekarang masih terus aku baca. Kalau aku dalam keadaan stuck, mandek, ya aku dzikir saja. Dzikir dalam artian, minta maaf saja kepada Allah. Ini sering banget aku lakukan, istigfar sampai beberapa kali sambil mengingat kesalahan-kesalahan dan perbuatan-perbuatan yang telah aku lakukan, baik masa lalu maupun sekarang.

Bersambung.

Ditulis bersama Aam Masroni. Sumber: Majalah Panjimas, 02-15 Oktober 2002.

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda