Pengalaman Religius

Rina Gunawan (1): Manusia Hanya Bisa Berusaha Tapi Allah Jua yang Punya Kuasa

Written by Asih Arimurti

Doa disertai ucapan bela sungkawa terus mengalir, mengiringi kepergian Rina Gunawan. Artis dan sekaligus pengusaha ini wafat pada Selasa 2 Maret 2021 setelah dirawat dua pekan di ruang ICU RSPP Jakarta Selatan akibat Covid-19. Kelahiran Bandung 28 Juni 1974 yang punya nama lengkap Rina Mustikana Gumilang ini meniti kariernya sebagai presenter di pelbagai acara televisi. Ia juga sempat main sinetron antara lain dalam “Si Doel Anak Sekolahan”. Setelah menikah dengan pesinetron Teddy Syach pada 1999, Rina meninggalkan gemerlap dunia hiburan, dan fokus pada bisnis dan urusan rumah tangga. Dari pernikahannya dengan Teddy, Rina dikaruniai dua anak: Aqshal Ilham Syafatullah dan Karnisya Rahmasyah. Sebelum wafat, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila ini dikabarkan berhasil menurunkan berat badan 30 kilogram dalam waktu lima bulan. Untuk mengenang kepergiannya yang dirasakan banyak orang sangat mendadak itu, kami hadirkan kembali pengalaman batin dan keagamaan Rina Gunawan. Selamat jalan Rina, semoga Allah menerima amal ibadahmu, mengampuni dosa-dosamu, dan melapangkan kuburmu.

Suatu pagi, sekitar pukul lima di tahun 1985, rumah yang aku tinggali bersama keluarga di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan, dilalap api. Api yang semula berasal dari kompor tetangga yang meledak itu dengan cepat menjalar ke rumah-rumah di sekitarnya. Ya termasuk rumah kami.

Kebakaran itu membuat seluruh milik keluargaku habis. Tak ada barang yang bisa kami selamatkan. Kami sekeluarga tak hanya kaget, tetapi benar-benar shock.  Perasaan sedih bercampur perih  bercampur perih yang menghimpit kami rasanya hampir tak tertahankan. Sampai-sampai aku berlari ke jalanan sambil berteriak, “Ya Allah, tolong dong selamatkan”. Aku juga sempat bergumam, “Ya Allah kok jahat banget sih. Kenapa sih, kok apinya nggak dimatiin. Kok sampai gini”

Habislah semua barang-barang kami. Termasuk pakaian-pakaian dan perlengkapan tari yang sudah bertahun-tahun aku pakai keliling ke berbagai negara bersama kelompok Swara Mahardika-nya Mas Guruh Soekarnoputra. Dan sejak itu, kami benar-benar memulai segalanya dari nol. Aku ingat sekali kata-kata ibuku—beliaulah yang sangat tegar saat itu, “Bila nanti kita meninggal, dikubur, tidak membawa apa-apa, seperti saat lahir dulu. Jadi sekarang ini kita diibaratkan saja begitu. Kita seperti bayi yang baru lahir, dan memulai kehidupan yang baru”. Berangsur-angsur perasaan dan batinku pun mulai kembali tenang. Aku juga mulai menyadari dan kembali berfikir: itulah manusia. Apa daya, Tuhan juga yang menentukan akhirnya.

Perasaan yang hampir sama kembali aku rasakan, ketika aku melahirkan anakku. Sewaktu hamil, aku begitu menginginkan bisa melahirkan secara normal. Untuk itu pula, ketika persalinan aku terus berusaha selama 14 jam, sampai aku menyadari, daya upaya manusia ada batasnya. Dan akhirnya aku cuma berpasrah diri ketika air ketubanku berwarna hijau, dan sampai benar-benar habis. Akibatnya bayiku harus dirawat sampai satu bulan, karena tidak mengeluarkan suara. Aku berpikir: itulah manusia, hanya bisa berusaha, tapi Allah juga yang menentukan.

Kedua musibah itu memberikan hikmah, karena mengingatkanku untuk selalu beramal. Aku intropeksi, selama ini sepertinya aku tidak pernah menyisihkan hasil kuperoleh untuk beramal. Semuanya aku gunakan untuk kesenangan sendiri, membeli barang ini, barang itu, dan lain sebagainya. Kini, setiap mendapatkan hasil, aku selalu berusaha menyisihkan sebagian dari yang kuperoleh. Aku tidak terpaku harus mengeluarkan 2,5% yang harus kukeluarkan. Maunya sih lebih. Aku selalu ingat bahwa bila tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Aku lebih pada niatnya.

Sama halnya seperti ibadah, aku paling anti, “Eh, sholat dong. Eh, amal dong”. Itu kan personal, itu kan pribadi. Apalagi kalau menyinggung soal jilbab. Aku sendiri sih sebenarnya pingin memakainya. Cuma, sekarang lagi berusaha untuk “menjilbabi” hati dulu. Bagaimana kita menjaga mulut agar tidak bergosip, bagaimana kita melihat seseorang tidak dengan nafsu, bagaimana kita menjaga pendengaran kita, dan lain sebagainya. Insya Allah jika itu sudah kujalani, aku siap untuk berjilbab. Karena memang, aku pingin banget dari dulu untuk berjilbab. Sampai ke soal pakaian, saat ini aku jarang banget memakai yang sedikit terbuka. Paling tidak dari itulah aku berusaha untuk menjaga pakaianku.   

Bersambung

Ditulis bersama Aam Masroni. Sumber Majalah Panjimas, 02-15 Oktober 2002

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda