Bintang Zaman

Washil ibn Atha’ (4): Pengaruh dan Karyanya

Setelah terkubur oleh sejarah, Mu’tazilah mengalami masa kebangkitan kembali. Aliran ini   kembali dikaji dan dipelajari secara ilmiah di banyak perguruan tinggi serta pada forum-forum seminar. Di Indonesia aliran ini kini memberikan pengaruh  yang cukup kuat dalam pola pikir sebagian kalangan akademis walaupun dalam intensitas yang berbeda-beda.

Corak pandangan Washil yang rasional ini mendapatkan lahannya yang subur di Irak. Juga Persia. Segera saja, begitu ia membuka halaqah sendiri, banyak murid yang berdatangan sehingga, melalui murid-murid yang menyebarkan pandangannya di berbagai tempat, Washil memiliki basis pengikut yang cukup luas.

Orang pertama yang secara serius mengikuti pemikiran Washil adalah Amr ibn Ubaid. Ia semula menolak pemikiran Washil. Tapi, setelah berdiskusi panjang, dia mulai berubah pikiran dan akhirnya menjadi penyebar sekaligus pembela pemikiran Washil sepenuhnya.

Selain dia, masih ada sederet panjang ulama pengikut Washil. Di antaranya Abu Ishaq Ibrahim ibn Sayyar An-Nazzam, Bishr ibn Ali Al-Mu’tamir, Mu’ammar ibn Abbad As-Sulami, Thamamah ibn Ashras An-Numairi, Amr ibn Bahr Al-Jahiz, dan Abul Ali Al-Jubba’i, murid Abu Ya’qub ibn Abdillah Asy-Syhham, pemimpin Mu’tazilah di Baghdad.

Mereka merupakan ulama-ulama yang sangat berjasa dalam memelihara dan mengembangkan pemikiran Washil ibn Atha’, yang karya-karyanya dapat ditemui hingga saat ini. Atas jasa mereka pula, serangan-serangan pemikiran nonmuslim yang menggunakan pendekatan rasional (filsafat Yunani) dapat diatasi dengan baik. Lebih dari itu, pengikut Mu’tazilah dikenal kelompok cendekiawan yang sangat gandrung pada ilmu pengetahuan.

Di samping meninggalkan para pengikut yang cukup banyak, Washil juga mewariskan banyak karya. Di antaranya, yang masih dapat dibaca sampai sekarang, Kitabul Manzilah bainal Manzilatain, Kitabul Futya, dan Kitabut Tauhid. Menurut Ibnu Khallikan, semua buku-buku yang pertama kali dalam ilmu kalam.

Mu’tazilah memiliki catatan buruk dalam penyebaran ajarannya. Yaitu ketika umat ditekan secara paksa untuk mengakui kebenaran pendapat mereka, yang didukung penuh oleh khalifah. Peristiwa tersebut dikenal dengan nama mihnah (penyelidikan tentang akidah atau keyakinan), dan di antara korbannya adalah Ahmad ibn Hanbal. Gara-gara tidak mengakui kemakhlukan Alquran, ia dijebloskan ke dalam penjara.

Washil dan para pengikutnya ikut berjasa mendongkel kekuasaan Dinasti Umaiyah. Karena itu ketika Dinasti Abbasiyah berdiri, Mu’tazilah dikukuhkan sebagai aliran resmi negara. Dan mihnah pun diterapkan. Kedudukan terhormat ini baru berakhir ketika Khalifah Al-Mutawakkil naik tahta pada tahun 232 H/847 M. Sejak itu, aliran Mu’tazilah mulai surut dan tenggelam oleh paham Sunni, terutama arus pemikiran Asy’ariyah dan Maturidiyah. Pada abad ke-12 M aliran ini masih melahirkan tokoh setaraf Az-Zamakhsyari , penyusun tafsir Al-Kasysyaf, namun kemudian Mu’tazilah seakan tenggelam dalam sejarah.

Akhir-akhir ini Mu’tazilah mengalami masa kebangkitan kembali. Kecenderungan pola pikir aliran ini muncul lagi walaupun tidak dalam bentuk aliran formal yang terlembagakan. Mu’tazilah kembali dikaji dan dipelajari secara ilmiah di banyak perguruan tinggi serta pada forum-forum seminar. Di Indonesia aliran ini kini memberikan pengaruh  yang cukup kuat dalam pola pikir sebagian kalangan akademis walaupun dalam intensitas yang berbeda-beda. [Kalangan akademis yang kerap dihubungkan dengan dan dianggap berjasa dalam perkembangan  paham Mu’tazilah di Tanah Air adalah mendiang Harun Nasution dari IAIN (UIN) Jakarta, red].

Bagi kalangan terdidik, Mu’tazilah memang punya daya tarik tersendiri, yang dianggap memberi kepuasan intelektual dalam meyakini dan memperkuat iman mereka dengan pendekatan rasional terhadap doktrin-doktrin Islam. Walaupun di sana-sini masih kental adanya pengaruh pemikiran aliran ilmu kalam lain lebih dulu diterima dan telah mapan.

Penulis: Dr. KH Hodri Ariev, kini pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Jember, dan dosen UIN Sunan Ampel, Surabaya. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 8 Desember 1997.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda