Cakrawala

STA, tentang Islam, Obsesi Kemajuan Ilmu dan Kekecewaan Kebudayaan Moderen

Written by Arfendi Arif

STA atau Sutan Takdir Alisjahbana adalah salah seorang putera terbaik bangsa Indonesia yang memiliki kontribusi besar di bidang pemikiran dan pendidikan. Dalam bidang keilmuan ia dikenal sebagai tokoh filsafat,  ahli kebudayaan,  penulis dan sastrawan. Sebagai tokoh pendidikan ia seorang pengajar dan guru besar di beberapa perguruan tinggi. Ia juga pendiri Universitas Nasional, sebuah perguruan tinggi swasta  tertua dan terkenal.

Sutan Takdir dikenal seorang pemikir yang gigih memperjuangkan agar Indonesia menguasai ilmu dan teknologi. Concern dan perhatiannya sejak dulu agar Indonesia merebut ilmu pengetahuan yang bersumber dari Barat. Menurut Takdir, kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan yang kalah, sebab jika kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan unggul tidak mungkin Indonesia dijajah oleh negara kecil dan jauh yaitu Belanda selama 3 1/2 abad .

Menurut penulis novel Anak Perawan di Sarang Penyamun ini, kebudayaan yang unggul itu adalah yang didasarkan pada rasio, akal pikiran dan ilmu pengetahuan. Kebudayaan dengan pondasi seperti inilah yang bisa menguasai alam semesta dan memproduksinya bagi kemajuan dan kemudahan hidup manusia. Salah satu contoh adalah kebudayaan moderen saat ini yang dikuasai oleh nilai ilmu dan teknologi dalam kebudayaan progresif yang telah membawa banyak perubahan besar dalam hidup manusia.

Karena itu bagi Sutan Takdir jika Indonesia ingin maju maka tidak ada jalan lain yaitu mengambil kebudayaan Barat yang dinamis dengan merebut ilmu, kemajuan ekonomi, dan teknologi.

Seperti diketahui Sutan Takdir oleh sebagian orang dinilai kurang memberikan apresiasi terhadap kebudayaan  Indonesia. Bagi Sutan Takdir, kebudayaan Indonesia yang dikuasai nilai estetika melahirkan kebudayaan ekspresif yang banyak dikuasai oleh perasaan, adat istiadat dan agama.

Dalam sebuah wawancara dengan Majalah Prisma ia mengatakan.” Pada masyarakat kita, kebudayaan estetika terlalu kuat . Semua soal selalu dihubungkan dengan nilai estetika atau kehalusan. Ia tidak dihubungkan dengan rasio. Karena demikian halusnya, kita tidak dapat bergerak lagi. Kita tidak bisa melangkahi adat istiadat. Itulah kelemahan kita yang membuat kita tertinggal dibandingkan dengan bangsa lain, walaupun sudah melakukan kontak dengan kebudayaan Barat tersebut” (Majalah Prisma No. 11 1984 hal 53).

Bagi mantan Ketua Akademi Jakarta ini, dalam budaya ekspresif nilai ekonomi rendah, ilmu pengetahuan rendah, sedangkan  nilai agama tinggi, nilai seni juga tinggi. Sebaliknya dalam  budaya progresif– kebalikan dari budaya ekspresif–  budaya yang berkembang di Barat– yang dikuasai nilai ilmu dan teknologi justru membawa kemajuan (Majalah Ilmu dan Budaya No.7 April 1987 hal.527).

Pertanyaan yang menarik adalah bagaimana pemikiran Sutan Takdir mengenai agama Islam. Apakah ia juga menimbulkan stagnasi karena masuk dalam kategori nilai estetik dan melahirkan budaya ekspresif yang statis?

Dalam membicarakan masalah agama Islam sejauh yang saya baca   Sutan Takdir menjelaskan  secara historis dan filosofis. Secara historis yaitu proses perkembangan Islam–terutama sisi kebudayaannya–dimulai dari zaman Rasulullah hingga dinasti-dinasti yang memerintah pasca khulafaur rasyidin.

Hal ini dengan panjang lebar ditulisnya dalam artikel yang berjudul Sumbangan Islam Kepada Kebudayaan Dunia (Pustaka Biru, 1980, yang diterbitkan untuk Lembaga Kajian Islam Samanhudi,LKIS). Disini tersirat apresiasi yang tinggi dari Sutan Takdir terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam pemerintahan dinasti Abbasyiah dan Umayyah di Cardova, Spanyol, dan juga pada dinasti Fatimiyah di Mesir.

Sutan Takdir menulis ” Sejak zaman Rasul Allah Nabi Muhammsd  SAW, kebudayaan Islam berkembang terus-menerus sejalan dengan perkembangan pikiran dan meluasnya kekuasaan politik dan daerah penganut Islam. Terbentuk bermacam-macam struktur, ide dan lembaga-lembaga dalam.lapangan politik, lapangan ibadat, lapangan hukum, lapangan seni, lapangan ekonomi, lapangan sosial dan bermacam-macam lapangan kebudayaan yang lain. Kebudayaan yang baru berkembang dengan berpokok kepada Qur’an dan contoh-contoh perbuatan dan pikiran Nabi Nuhammad SAW, dilanjutkan oleh Khalifah Rasidun dan Khalifah raja-raja. Agama dan kebudayaan Islam yang berbahasa Arab itu meluas dari pantai Atlantik sampai ke batas kerajaan Cina.

Dalam perkembangan agama dan kebudayaan Islam itu, dengan berani ahli-ahli pikir dan pemimpin Islam mengambil kejayaan dan unsur-unsur dari berbagai-bagai kebudayaan tua yang telah beribu-ribu tahun usianya seperti kebudayaan Parsi, kebudayaan Yunani dan Roma, kebudayaan India, malahan sampai-sampai kebudayaan Cina”.

Sutan Takdir yang merupakan figur pecinta ilmu mengungkapkan kekagumannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Tulisnya, ” Yang sangat menarik dalam perkembangan kebudayaan Islam dari abad ketujuh sampai ketigabelas adalah bagaimana kebudayaan dan agama yang berasal pada bangsa Arab di gurun pasir yang miskin dan terpencil itu dengan pimpinan Nabi Muhammad SAW dan khalifah-khalifah rasidun dan khalifah raja-raja seolah-olah tahu sekali, bahwa yang pertama harus direbutnya dari kebudayaan-kebudayaan dunia dewasa itu adalah ilmu.

Dalam sejarah perkembangan Islam dan kebudayaannya   dalam lima-enam abad itu sangatlah kentara kegiatan pembesar-pembesar dan ahli-ahlinya mengumpulkan bermacam-macam ilmu dan pengetahuan dari negeri yang sejauh-jauhnya maupun dari zaman yang telah lama silam, dari ilmu kimia sampai ke ilmu kedokteran, dari ilmu matematika sampai ke ilmu astronomi, dari ilmu bercocok tanam sampai ke ilmu membuat bermacam-macam benda seperti kertas”.

Pertanyaan yang menarik bagi Sutan Takdir adalah mengapa watak dinamis begitu kuat berkembang dalam kebudayaan Islam. Mukjizat apa yang terjadi pada bangsa Arab yang kebudayaannya terkebelakang, hidup miskin, tinggal di gurun yang kering dan tandus dibanding kebudayaan Parsi, Yunani, India dan Romawi, mampu mencapai kejayaan yang gilang gemilang dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang mengagumkan.

Dalam penelitian Sutan Takdir Alisyahbana, terkait kemajuan sebuah kebudayaan menyangkut masalah kejiwaan, soal spirit, soal sifat budi yang menjadi dasar fenomena turun naiknya kebudayaan.

Untuk mengetahui hal ini Sutan Takdir menggali dari sumber kebudayaan Islam itu sendiri yaitu Qur’an. Menurutnya, Qur’an memberikan kepada manusia tempat yang setinggi-tingginya, sekuasa-kuasanya kepada manusia. Menurut Qur’an, Tuhan menciptakan manusia dan memasukkan rohNya sendiri ke dalam manusia, memberinya akal dan bahasa sehingga manusia dikatakan lebih tinggi dari pada malaikat.

Akal dan bahasa sebagai ciri manusia dan sebagai pokok dari kehidupan kebudayaan yang berbeda dari pada kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan dengan jelas sekali dibuktikan oleh ayat-ayat Qur’an”.

Mantan Ketua Himpunan Filsafat Indonesia ini  melihat, dengan akal dan bahasa yang menjadi pokok dan hakekat manusia ia dapat mengaji, mempelajari dan menilai alam semesta dari batu, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia sampai kepada matahari dan bintang isi cakrawala, yang sekaliannya tak lain menjelmakan hukum-hukum yang dimasukkan oleh Allah ke dalamnya. Malahan dalam beberapa ayat ditambahkan suruhan kepada manusia untuk mengetahui hukum-hukum Tuhan yang di zaman sekarang biasa disebut hukum alam . Dengan demikian kemahakuasaanNya, kemahamengetahuiNya, kekreatifanNya yang tiada terhingga untuk kehidupan di bumi ini dicurahkanNya sebagian kepada manusia.

Dari uraian Sutan Takdir Alisyahbana di atas tampak jelas bahwa kemajuan dan kecemerlangan Islam di bidang kebudayaan dimotivasi, disemangati dan dipicu  spirit Al -Quran untuk menggunakan rasio, akal.pikiran, dan untuk memahami hukum-hukum alam, yang hakikatnya adalah hukum Allah yang mengatur kehidupan alam semesta ini.

Tetapi sayangnya, menurut Sutan Takdir, kejayaan kebudayaan Islam tidak berkembang menjadi kebudayaan dunia seperti Renaissance di Eropa. Manusia Islam yang tangkas dan dinamis itu telah kehilangan semangat atau spirit of Islam itu menjadi mati. Hal ini menurut Sutan Takdir, akibat dari pertukaran pikiran antara Al-Ghazali dengan Ibnu Rushd yang menjadi puncak pertentangan antara Ahli Sunnah dan kaum Mu’tazilah. Dimana dalam pertentangan itu pemikiran Al-Ghazali lebih besar pengaruhnya terhadap umat Islam. Al-Ghazali pemikir besar di bidang teologi dan tasauf, sedangkan Ibnu Rushd mewakili kaum filosof.  Menurut Sutan  Takdir, kejatuhan dan kemunduran kejayaan Islam karena berkurang dan hilangnya kecakapan berfikir, kegelisahan mencari dan menyelidiki karena perubahan sikap hidup, pandangan dunia dan cara bekerja orang Islam. Mengutip pidato Presiden Pakistan Ayub Khan  di Al Azhar, Sutan Takdir menyebutkan, kita tidak usah meratapi kejatuhan kerajaan-kerajaan Islam, tetapi yang harus diratapi ialah kejatuhan kebebasan berfikir umat Islam dan kemunduran mengadakan penyelidikan.

Sutan Takdir dan Islam

Dalam membahas Islam, Sutan Takdir masuk ke inti masalah yaitu aspek Tauhid, yaitu memahami sifat ketuhanan. Dalam hal ini Sutan Takdir merujuk semua pada Al-Quran. Misalnya, dalam memahami kekuasaan Allah ia menjelaskan, alam semesta ini diciptakanNya dan diaturNya menurut rancanganNya dan hukumNya. DiciptakaNya matahari dan bintang-bintang, diaturNya perputaran siang dan malam, jalan matahari dan bulan. DiturunkanNya hujan membasahi tanah, disuburkanNya bumi dan ditumbuhkanNya tumbuh-tumbuhan di atasnya (Prof.Sutan Takdir Alisyahbana, SH, Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat dari Jurusan Nilai-nilai, Idayu Press, Jakarta, 1977 hal. 25).

Menurut Sutan  Takdir, Tuhan bukan hanya mencipta tetapi juga pemelihara, pelindung, pemimpin dan penghibur umatnya dengan penuh kasih sayang. Tuhan menciptakan dunia ini punya tujuan menurut rancanganNya untuk waktu tertentu. DiberikanNya manusia pimpinan dan petunjuk dalam menjalani kehidupan.

Dua sifat Allah yang penting, menurut Sutan Takdir, adalah maha adil, pengasih dan penyayang. Keadilan itu bukan hanya dalam kehidupan di dunia, tetapi juga dalam memberi hukuman dan rahmat di akhirat.

Sutan Takdir juga menjelaskan, manusia diberikan kemauan dan  kebebasan. Namun, untuk itu manusia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Allah memberikan kepada manusia budi, pikiran serta kecakapan untuk memeriksa, memilih dan mengambil keputusan. Juga diberikan perasaan dan kecenderungan untuk yang baik dan yang benar. Manusia diberikan wahyu, ilham dan diberi nasehat untuk membalas kejahatan dengan kebaikan.

Merancang masjid unik

Sutan Takdir Alusyahbana lahir pada 11 Pebruari 1908 dan meninggal 17 Juli 1994. Pada tahun 1988 sastrawan dan filosof kelahiran Mandailing Natal, Sumatera Utara ini merancang pembangunan masjid di Kampus Universitas Nasional  dengan  arsitek yang unik. Ia membangun menara masjid dalam bentuk bunga kembang dengan lima kelopak. Menurut Sutan Takdir, bunga kembang yang ada di puncak masjid tersebut  melambangkan  Tauhid.

Sedangkan bunga yang kembang tersebut, jelas Takdir,  melambangkan  pikiran yang sampai ke tingkat Tauhid, yaitu penyerahan  penuh kepada Tuhan. Ia hidup lebih bergairah untuk berbuat dan mencipta serta bertanggung jawab, solidaritas dan penuh kasih sayang sesama manusia dan makhluk lainnya.

Takdir melanjutkan, dalam bunga yang kembang itulah pada waktunya diucapkan azan menghimbau umat melakukan salat menghadap Tuhannya. Kelima kelopak bunga itu melambangkan perpaduan antara kesadaran dan sikap keagamaan dengan kehidupan sekuler di dunia yang berpokok pada nilai ilmu dan ekonomi yang bersama-sama melahirkan teknologi seperti menjelma dalam kebudayaan moderen sekarang  ini.

Penutup

Kita tidak bisa membayangkan jika Sutan Takdir Alisyahbana hidup dalam era kemajuan digital sekarang ini. Sebagaimana sebelumnya ia pernah mengatakan bahwa kebudayaan moderen mengalami krisis yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia.

Dengan terjadinya pensekuleran dalam  kehidupan kebudayaan moderen, pengaruh agama makin berkurang  . Yang berkuasa adalah rasio dan pikiran, serta hidup hanya mengejar kekayaan duniawi dalam suasana mass pruduction  dan mass consumption. Hidup manusia menjadi dangkal,kehilangan arti dan tujuan. Berbagai bentuk frustrasi terjadi seperti rasa putus asa, kesepian,  neurosis dan kadang berakhir dengan bunuh diri.

Bisa saja Sutan Takdir kecewa bila melihat situasi sekarang, karena kemajuan teknologi yang berkembang tidak mencerahkan dan memajukan, tapi dijadikan  alat permusuhan, saling hujat  dan merusak nilai-nilai kebudayaan dan budi budaya manusia. Obsesi Sutan Takdir untuk membangun kebudayaan Indonesia yang moderen dan dinamis, jauh dari harapan yang diidamkannya. Sedih memang.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda