Tafsir

Tafsir Tematik: Siapakah Umat Terbaik? (4)

Written by Panji Masyarakat

Adalah kamu umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah…….. (Q. 3: 110).

Wasit yang Tengah-tengah

Tapi itu juga pendapat Thabatahaba’i. Mufasir Syi’ah kontemporer ini memaknai ayat di atas, berbeda dengan riwayat yang sudah dikutipnya, yang mengartikan ‘umat terbaik’ dengan Ahlul Bait, sebagai : “Kamu, wahai gelombang besar muslimin, adalah umat terbaik yang dimunculkan Allah untuk manusia…” Tapi di sisi lain, dikatakannya, ayat itu memuji keadaan para mukmin di awal kemunculan Islam, yakni ‘Para Pendahulu Pertama’ dari Muhajirin dan Anshar. (Thabathaba’i, loc.cit.). Berbeda, memang, dengan misalnya penggambaran dalam Kasyful Asrar Ayatollah Khomeini tentang para sahabat Nabi,di luar lingkaran Ali ibn Abi Thalib r.a.,  yang penuh permusuhan dan buruk sangka.

Ketujuh, barangali juga identik dengan pendapat keenam. “Secara lahir,” kata Az-Zajjaj, “firman  ‘Adalah kamu umat terbaik’ memang dialamatkan pembicaraannya kepada para sahabat Nabi s.a.w.  Tetapi itu sebenarnya umum untuk keseluruhan umat.” Dalilnya: firman-firman “dituliskan atas kamu puasa” (Q. 2: 183( dan “dituliskan atas kamu kisas dalam kasus orang dibunuh” (Q. 2: 178), kedua-duanya berbicara kepada para hadirin (para sahabat – bahkan walau didahului dengan”wahai orang-orang beriman”; pen.) “tetapi itu umum untuk semua.” (Razi, VIII: 195). Ini termasuk pendapat keenam kalau diasumsikan adanya elaborasi pengertian ‘sahabat” dan “seleksi” para anggota umat, seperti pada Rasyid dan Abduh.

Bahwa ‘umat terbaik’ adalah seluruh umat Muhammad, alasannya – dari segi lain – juga bisa diberikan Ar-Rabi’ r.a. Kata sahabat Nabi ini, “Tidak ada umat yang lebih banyak istijabah-nya (Tindakan menjawab seruan, atau anugerah penabulan doa) di dalam Islam (sebagai agama seluruh nabi) dibanding umat Muhammad.” (Thusi, II: 557-558). Sehingga kalimat dalam ayat tersebut, seperti menurut pendapat yang diantarkan Razi, bisa ditafsirkan sebagai: “Kamu sejak saat beriman, merupakan umat terbaik.” Sementara itu, ungkapan “yang dilahirkan untuk manusia” berarti, menurut pendapat ini, “dimunculkan secara khas, sehingga dikenal dan bisa dibedakan dari yang lain.” (Razi, VIII: 196).

Juga Ibn Katsir. Mufasir yang ahli hadis ini,  mendaftarkan pendapat Ibn Abbas yang termasuk membatasi pengertian ‘umat terbaik’ hanya pada kaum Muhajirin, tidak memberikan persetujuannya. “Yang benar,” katanya, “ayat ini umum untuk keseluruhan umat. Setiap generasi sesuai dengan keadaannya. Sedangkan yang paling bagus adalah generasi yang menerima pengutusan Nabi Muhammad s.a.w. ke tengah mereka, lalu yang sesudah mereka, lalu yang sesudah mereka.” Lalu ia menyitir Q. 2: 143: “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang tengah-tengah”, yakni umat pilihan, “agar kamu menjadi saksi-saksi atas manusia.” (Ibn Katsir, loc.cit.).

‘Umat yang tengah-tengah’ adalah predikat pertama, di antara kedua predikat, yang diberikan kepada umat Islam. Umat yang tengah-tengah adalah umat terbaik, dan ia terbaik karena ia tengah-tengah. Kata asli tengah-tengah: wasath. Dari sini kita pakai istilah ‘wasit’ (waasith). Seorang wasit sangat tahu pihak-pihak yang diwasitinya. Yang paling penting: ia adil. 

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  25 November  1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda