Cakrawala

Hakikat Al-Fikri

Written by Panji Masyarakat

Dilihat dari kacamata ad-din, keberadaan manusia di dunia dibagi menjadi tiga golongan, yakni  (1) golongan beriman, (2) golongan munafik, dan (3) golongan ingkar. Mereka yang masuk golongan beriman, apa pun yang dilakukannya didasarkan pada aturan agama (dinul islam). Golongan munafik, dalam berperilaku mendasarkan pada aturan agama bercampur aturan yang dibuat manusia sendiri. Sedangkan golongan ingkar, mereka tidak berpijak pada aturan agama, hanya berpegang pada aturan buatan manusia.

Orang yang tidak berpatokan pada ad-din, dan hanya berpikir untuk kepentingan dunia,  berperilaku dengan cara tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Tidak berpikir bahkan tak percaya, bahwa apa yang diperbuat di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Karena hanya fokus pada urusan keduniaan, mereka sering menganggap bahwa waktu adalah uang. Prinsipnya “waktu adalah uang” (time is money) sehingga semua aktivitas diupayakan agar membuahkan hasil berupa uang atau materi. Memang, pada realitanya banyak sekali yang sukses secara materi dari golongan ini.

Golongan munafik boleh jadi lebih banyak jumlahnya dibanding golongan beriman. Golongan ini bisa dikatakan terombang-ambing dalam menentukan prinsip hidup dan meraih hakikat kehidupan. Masih mendasarkan pada ajaran ad-din dan percaya akan adanya hari pembalasan di akhirat kelak. Namun demikian, dalam perilaku hidupnya kerap tidak mempertimbangkan ajaran ad-din itu secara penuh. Ketika ada angin bertiup ke barat ikut pula ke barat, tanpa mengetahui kalau ke arah barat itu bisa jadi mudarat. Sering kali berkaitan dengan kepentingan atau keuntungan tertentu. Dan keuntungan tersebut lazimnya bersifat duniawi atau materi. Masalah itu haq atau batil, halal atau haram, dipikir kemudian atau mungkin sama sekali tak terpikirkan.

Sebuah kasus korupsi penggerogotan atau penggelapan uang negara, yang berarti uang milik seluruh rakyat yang taat pajak, jamak dilakukan oleh orang yang paham nilai-nilai agama. Namun, pemahaman akan nilai-nilai tersebut bukan atas nama iman, tapi justru munafik dan ingkar. Jika orang dalam posisi beriman, jangankan melakukan kejahatan korupsi, menyakiti orang lain saja walau secuwil atau dengan sepotong kata yang menyinggung perasaan, pasti tidak dilakukannya. Lain soal orang yang dalam posisi munafik atau ingkar, sesuatu yang terlihat menggiurkan berupa uang yang menggunung itu diembatnya. Dilahap seolah tak kenal puas untuk memenuhi hasrat nafsunya, tanpa berpikir bahwa itu uang negara (rakyat). Perkara itu dosa melanggar aturan, urusan belakangan. Juga kejahatan kecil seperti melontarkan kata-kata tak senonoh, orang munafik atau ingkar tak berpikir bahwa itu berdosa. Mereka tak berpikir seperti orang beriman yang senantiasa menggunakan al-fikri.

Pikiran atau al-fikri merupakan anugerah yang nilainya tak terhingga. Dan anugerah tersebut hanya diberikan kepada makhluk yang bernama manusia. Namun demikian, banyak manusia yang tidak menggunakan pikirannya itu dengan semestinya. Manusia sering lalai akan anugerah terhebat tersebut. Al-fikri yang tidak digunakan dengan baik, menjadikan manusia tergelincir dalam nafsu syaitoniyah yang mengantarkannya dalam tindak kejahatan, sekecil apa pun kadar kejahatan itu. Jadi, pada hakikatnya al-fikri itu dimiliki dan melekat pada orang beriman, bukan orang munafik ataupun ingkar. Orang beriman  senantiasa menggunakan anugerah al-fikri-nya itu sehingga tak tergelincir dalam nafsu kejahatan.

Jelaslah perbedaan antara orang beriman dan orang munafik, juga orang ingkar. Berkontradiksi dengan mereka yang bergelimang urusan keduniaan sehingga berprinsip ‘waktu adalah uang’, orang beriman justru berprinsip ‘waktu adalah amal’. Sebisa mungkin, mereka bertindak dalam koridor yang bernilai amal (khasanah), baik perilaku lisan, badan fisik, maupun hati (batin). Membatin saja, mereka menjaga diri hanya membatin yang baik-baik (khusnudzon) sehingga tak terlarut dalam lembah dosa. Al-fikri-nya berimbas pada keterjagaan lisan, badan, dan hati dari berbuat dosa dan kesalahan. Waktu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk beramal kebajikan.

Godaan apa pun menuju jalan menjadi orang beriman, mesti disingkirkan berangsur-angsur mulai dari hal-hal kecil, dan waktunya mulai dari sekarang. Taruhlah kebiasaan lisan mengucap kejelekan orang lain atau mengumpat dan menggunjing, harus mulai dihindari. Ganti dengan hal positif sesuai minat atau passion yang bersemayam dalam benak, yang boleh jadi selama ini belum dibangkitkan. Setali tiga uang, sentuhan jari-jemari pada layar telepon pintar (smartphone)  melalui media sosial (medsos) kerap terlarut konten yang bernuansa umpatan, gunjingan, hardikan, ejekan, hinaan, bahkan fitnahan. Artinya sama saja dengan perilaku munafik, meskipun bukan lisan yang bertindak tapi terwakili ulah jemari. Hal seperti ini mesti disiasati agar tak terlarut arus negatif medsos. Ber-medsos boleh saja sebatas hal-hal positif dan bermanfaat, serta tak terjebak dalam ujaran kejelekan sehingga terpeleset dalam kemudaratan.

Orang golongan beriman, saat bermedsos diniatkan untuk bersilaturahim dan menebar kebaikan seperti menginformasikan konten pengetahuan, pencerahan, kiat perikehidupan, amal kebajikan, kisah teladan, dan semacamnya. Konten sampah bernada hujatan, makian, gunjingan, fitnahan, kepornografian, kepornoaksian, pengadudombaan, dan sederet lainnya itu dihindarinya dengan tetap memegang prinsip ‘waktu adalah amal’.

Namun, menjadi orang beriman bukan sesuatu yang gampang. Butuh perjuangan ekstrakeras untuk mewujudkannya, baik secara lahiriah kasatmata maupun batiniah tak kasatmata. Kuncinya adalah senantiasa membangkitkan al-fikri dalam kondisi apa pun, bukan menonjolkan emosi. Emosi yang bersifat negatif, betapapun seolah-olah dirasakan tepat dalam berbuat sesuatu, akan berakibat buruk jika tidak menyertakan aspek al-fikri. Maka, jangan larut dalam emosi tapi tonjolkanlah al-fikri tersebut.

 Al-fikri letaknya di pikiran atau secara organik ada di otak. Di dalamnya terdapat miliaran saraf yang bekerja amat rapi terorganisasi sedemikian rupa sehingga mampu mencerap informasi (input), mengolah atau mengeksplorasinya, dan mengeluarkan kembali atau menginformasikan kepada sesuatu di luar dirinya (output). Jadi, al-fikri kalau dikelola atau dieksplorasi secara maksimal, hasilnya sungguh luar biasa. Namun, eksplorasi yang belebihan atau melampaui batas dapat mengantarkan pada kecongkakan. Maka, perlu pengendalian as-syukri yang letaknya di hati (batin). As-syukri ini akan mengontrol al-fikri, sehingga terjadi keseimbangan.            

Orang beriman tak pernah meninggalkan karunia al-fikri, takkan pernah berlaku sombong merasa dirinya jemawa atau hebat karena senantiasa didampingi secara baik oleh aspek as-syukri-nya yang rajin diasah juga. Aspek ini selalu mengingatkan ke arah kebaikan (pahala) dan menolak kejelekan (dosa), sehingga orang beriman yang memanfaatkan aspek ini akan selamat dalam setiap perilaku atau perbuatannya.

Penulis : Imron Samsuharto Editor Online, pemerhati religi alumnus FS (kini FIB) Undip Semarang

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda