Cakrawala

Tsa’labah dan Usman bin Affan, Paradoks Kekayaan dan Kemiskinan

Kekayaan dan kemiskinan dua masalah yang selalu menjadi bahan perbincangan dalam hidup manusia. Dan, tampaknya selama hayat masih dikandung badan dua persoalan hidup ini  tidak akan pernah basi dibicarakan.

Ketika Nabi Muhammad masih hidup bersama sahabatnya soal ini pun muncul dan dihadapi oleh Rasul. Adalah Tsa’labah Ibnu Al-Anshari seorang pengikut Nabi yang sangat miskin. Diceritakan, saking miskinnya ia harus bergantian kain untuk shalat bersama isterinya.

Tsa’labah sangat terobsesi untukmenjadi kaya raya. Lalu ia datang kepada Rasul minta didoakan kepada Allah untuk menjadi kaya dan terbebas dari kemiskinan. Nabi memberikan nasehat bahwa rezeki yang sedikit dari Allah, tapi disyukuri, itu lebih baik dari rezeki yang  banyak tapi kufur nikmah.

Sebagaimana sifat manusia mudah berjanji dan menyatakan kesetiaan jika keinginannya dipenuhi. Rasul bersedia mendoakan dengan syarat bahwa Tsa’labah akan tetap istiqomah dengan Islam jika Allah melimpahkan rezeki yang banyak kepadanya.

Tapi, janji hanyalah janji. Harta dan kekayaan bisa mengubah sifat manusia. Tsa’labah begitu kaya raya menjadi saudagar dengan jumlah kambing peliharaannya yang sangat besar, hingga memenuhi kota Madinah, bahkan meluber keluar.

Kini Tsalabah sudah lupa dengan janjinya. Jangankan shalat berjamaah yang tidak lagi dihadirinya, salat fardhu pun sudah lagi tidak  tepat waktu, sering ditunda dan diakhiri waktunya. Yang tragis ketika Nabi meminta mengeluarkan zakat ia menolak dengan mengeluarkan berbagai dalih. Hingga turunlah ayat 75-78 surat at-Taubah yang asbabun nuzulnya tersebab kebakhilan dan ingkar janjinya Tsa’labah.

Namun, disini pulalah timbulnya penyesalan Tsa’labah. Ketika ia tahu turun ayat yang berkaitan dengannya, apalagi disertai ucapan Rasulullah, celakalah engkau Tsa’labah, Ia gemetar ketakutan dan amat terpukul. Kala ia menjumpai Rasul dengan membawa harta zakatnya, Rasul menolak dan menampiknya. Penolakan ini berlangsung hingga khulafah ur rasyidin, mulai dari Abu Bakar, Umar bin Khattab,Usman bin Affan  tidak mau menerima zakat harta Tsa’labah.  Di zaman Usman bin Affan itulah Tsa’labah meninggal dunia dalam penyesalan yang dalam.

Lain dengan Tsa’labah,  seorang sahabat Nabi yang bernama Usman bin Affan selalu menggunakan hartanya untuk kebaikan. Usman seorang saudagar kaya dan dikenal dermawan. Dalam perang Tabuk melawan Romawi, menantu Nabi ini membiayai perang dengan menyumbang 1000 unta, 70 ekor kuda dan uang 1000 dirham. Setiap Jum’at Usman memerdekakan seorang hamba. Ketika Masjid Madinah terasa sempit Usman menambah luasnya dengan membiayai sendiri. Dan,  akhlak Usman yang terpuji lainnya adalah ketika ia membeli telaga Romah di Madinah milik orang Yahudi. Awalnya, telaga Romah ini tempat membeli air bagi keperluan orang muslim, tapi orang Yahudi menjual air tersebut  dengan harga yang mahal. Satu qirbah (2 belek) dengan harga 2 kati kurma. Keadaan ini sangat memberatkan umat Islam. Setelah Usman membeli telaga Romah ia menggratiskan buat kaum muslimin. Sampai sekarang telaga Romah masih ada.

Kisah Usman dan Tsa’labah adalah sebuah paradoks kehidupan. Ada orang yang kelebihan harta dan menumpuknya, tidak berniat untuk berbuat kebajikan, menolong orang miskin dan kesusahan hidup. Harta dipertuannya dan mengendalikan hidupnya. Ia merasa harta itu bisa membahagiakannya. Itulah yang terpikir  ketika miskin dan bercita-cita menjadi orang kaya atau hartawan  dan membayangkan hidup yang nyaman. Dalam dunia moderen pola pikir itupun berlaku sampai sekarang.  Bahkan, meminjam istilah Ruslan Abdulgani, dalam dunia industri sekarang ini telah muncul tuhan baru (The New God) yaitu uang dan kekayaan yang disembah.

Saking besarnya pengaruh uang dan kekayaan ini, termasuk juga kekuasaan maka upaya mendapatkannya dilakukan dengan cara-cara yang tidak terpuji seperti korupsi, penyelewengan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Inilah yang menjadi ironi dan keprihatinan dunia moderen.

Harta yang dicari hanya untuk kebahagiaan diri sendiri, dan tidak membawa Tuhan dalam mencarinya, akan sangat berbahaya. Pemilik harta sesungguhnya adalah Allah. Manusia hanyalah diberikan titipan dan menggunakan untuk kebaikan sesuai kehendak-Nya. Kekayaan yang kita dapatkan bukanlah hasil usaha mutlak manusia. Manusia yang tidak menyertakan Allah dalam kehidupan jika mendapat kesulitan dalam usahanya akan mudah putus asa dan frustrasi.

Sebuah kisah memilukan tentang nasib orang kaya dan pengusaha yang tak kuat menghadapi cobaan diungkapkan oleh Margaretha M.Siahaan dalam bukunya Two World To Be Rich (Bhuana Ilmu Populer, Kelompok Gramedia, Jakarta, 3010, hal. 109-110).

Pada tahun 1923 diadakan pertemuan orang-orang terkaya dunia di Hotel Edgewater Beach Hotel, Chicago, Illionis. Mereka yang hadir adalah tokoh-tokoh terkaya dunia pada abad ke-19 sampai abad ke-20. Saat itu, di antara para peserta hadir delapan orang terkaya di dunia. Mari kita lihat nasibnya pada akhir kehidupan mereka 

Pertama, Charles Schwab, direktur utama perusahaan besi swasta terbesar, meninggal dalam keadaan bangkrut. Kedua, Arthur Cutten, spekulan gandum terbesar meninggal di luar negeri dalam keadaan pailit. Ketiga, Richard Witney Direktur Utama Bursa Saham New York, meninggal tak lama setelah keluar dari penjara Sing Sing. Keempat, Albert Fall anggota lembaga kementerian Presiden Amerika Serikat , dikenakan status tahanan luar negeri supaya dapat meninggal di rumahnya  Kelima, Jess Livermore pialang saham terbesar di Wall Street, tewas bunuh diri. Keenam, Leon Fraser Direktur Utama bank devisa berskala internasional, tewas bunuh diri. Ketujuh, Iver Kreuger, orang terkaya dari Swedia, ketua pemegang monopoli pengendali industri  terbesar di dunia, pemilik perusahaan film Swedia, ia tewas bunuh diri. Kedelapan, Aristode Onasis, milioner Yunani yang meninggal pada masa kejayaannya. Ia menyadari bahwa uang ternyata tidak identik dengan kesuksesan. Katanya, ” Setelah Anda mencapai titik tertentu, uang menjadi tidak penting lagi. Yang penting adalah kesuksesan”.

Kisah di atas menggambarkan bahwa tidak selamanya orang kaya hidup berbahagia. Harta yang seharusnya membuat hidup ini nyaman dan tenang, ternyata berujung tragis dan menyedihkan. Kuncinya adalah ia gagal memaknai harta secara spritual dan digunakan untuk berbagi kebahagiaan antar sesama.

Pada kisah Usman bin Affan menunjukkan ia meyakini harta bukanlah miliknya pribadi. Harta itu adalah milik dan kepunyaan Allah yang harus dipergunakan untuk kebaikan, untuk membantu agama Allah, membesarkan Islam dan amal shaleh. Jika pola pikir dan penghayatan ini telah meresap di hati maka tidak ada pemikiran untuk memberhalakan dan menuhankan harta. Tetapi,harta itu media atau wahana untuk beribadah kepada Allah, berbuat untuk kemanusian dan berbagi untuk sesama.

Di negara dan bangsa kita tampaknya makna harta belum dimaknai secara mendalam  dan spritual. Harta hanya dianggap hasil jerih payah sendiri dan usaha sendiri, terlepas dari campur tangan Allah. Harta pun dianggap segalanya dalam hidup, sehingga nafsu dan naluri ketamakan muncul,  bahkan untuk mendapatkannya tidak peduli etika, hukum, agama dan norma. Sehingga yang muncul adalah korupsi yang menyengsarakan orang banyak. Penjara dan hukuman tidak membuat mereka jera.

Sampai sekarang kita tidak pernah menemukan cara mengatasinya  Entah kapan pelaku penumpuk harta ilegal bisa bertobat?

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda