Tasawuf

Misteri Kematian (3)

Written by Panji Masyarakat

Setiap jiwa (pasti) merasakan kematian.” (Q. 3:185). Banyak dari kita yang takut mati. Tapi tidak sedikit pula yang mengharapkan kehadirannya, segera. Sejak dulu kematian memang menjadi salah satu topik yang cukup sentral di kalangan agamawan. Termasuk para sufi. Bagian ke-3  dari seri tulisan tentang kematian dari sudut pandang tasawuf.

Masuk Surga

Ketika seseorang sudah tidak lagi jinak kepada apa dan siapa pun, sifatnya akan berubah menjadi penyantun dan penuh kasih sayang kepada sesamanya. Revolusi dirinya telah selesai, kini saatnya untuk memulai peran “rabbaniyah”-nya, peran ketuhanannya di muka bumi.

Saat itu dirinya sudah bukan dirinya lagi.  Ia sudah menjadi orangnya Tuhan (ahlullah) yang dipandu dan dilindungi oleh-Nya. Di mana dan kapan pun saja. Di dalam melaksanakan amar-Nya, dia tidak lagi mengharap apa pun kecuali ridha Allah. Ridha allah di dalam Alquran selalu disimbolkan dengan surga. Padahal surga tidak akan dapat dimasuki selain oleh rahim, orang yang bersifat penyantun dan penuh kasih sayang di dalam mengembangkan semesta kehidupan. “Laa yadkhulul jannah illa rahiim (Tidak akan masuk ke surga kecuali rahim),” kata Nabi.

Setiap individu memiliki caranya sendiri  di dalam bermusyahadah dengan Allah Rabbul Alamin (Pengasuh Alam). Sesuai dengan peran rububiyah (kepengasuhan) yang diamanatkan Allah kepadanya. Ratu Bilqis yang “lumpuh” di depan kehebatan Nabi Sulaiman a.s. mengucapkan “Aslamtu ma’a sulaimaana lillaahi rabbil ‘aalamin (Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah Rabbul Alamin)” Para penyihir Fir’aun yang terpesona dengan mukjizat Nabi Musa a.s. mengucapkan, “Aamannaa birabbil ‘aalamiin (Kami beriman kepada Rabbul Alamin).” Fir’aun ketika ditelan Laut Merah juga bersaksi, “Aaamantu birabbhi muusa wa haarun (Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun).”

Sayang, Fir’aun tidak memiliki kesempatan untuk mengabdikan perolehannya karena maut segera menjemputnya. Maka rebutlah kematian sedini mungkin. Ya, sebelum ajal kita tiba.***            

Penulis: Muhammad Zuhri (1939-2011), guru sufi dan sekaligus pelukis; terakhir menetap di Pati, Jawa Tengah.[Lihat “Pak Muh alias Mad Gambar”https://panjimasyarakat.com/2020/01/07/pak-muh-alias-mad-gambar]. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 8 September-Oktober 1999.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda