Bintang Zaman

Washil ibn Atha’ (3): Keyakinan dan Ikrar Saja Tidak Cukup

Karya utama dari pemikiran Mu’tazilah dapat dilihat dalam doktrin kebebasan manusia. Sebab, jika manusia menganggap perbuatan mereka mutlak dan absolut (terpaksa), maka keseluruhan bangunan syariah dan etika tidak ada artinya sama sekali.

Dalam masalah tauhid, Washil melakukan pengawalan yang sangat ketat untuk mewujudkan kemurnian keesaan Tuhan. Untuk ini, ia menganut pemikiran Helenistik yang menafikan segala atribut dan entitas yang dapat merusak keesaan itu. Bagi dia, “sifat” adalah entitas lain di luar dzat Allah, karena itu tidak boleh ada bagi Allah SWT. Jika sifat-sifat qudrah (kemahakuasaan), iradah (kehendak), dan lain-lain diakui ada pada Alah, maka akan muncul beberapa entitas yang qadim. Dus tidak hanya Allah.

Pada hematnya, semua itu tidak lain adalah dzat Allah sendiri. Dia berkuasa, berkehendak, mengetahui, hidup, dan mendengar dengan dzat-Nya, bukan dengan sifat-Nya. Washil mendefinisikan klausul qadim sebagai sesuatu yang eksistensinya tanpa kausa (ma la    (ma la’illah [sabab] li wujudihi), dan kualitas-kualitas yang selama ini dianggap sebagai sifat Allah SWT, menurutnya, adalah substansi Allah itu sendiri.

Dari sini muncul doktrinnya tentang kemakhlukan Alquran: bahwa kalam Allah ini, kitab suci ini, diciptakan. Menyebut “Alquran itu qadim”, menurut Wahsil, sama saja dengan mengatakan, yang qadim itu berbilang, tidak cuma satu. Pandangan seperti ini, sebenarnya, dimiliki pula — atau dicangkok dari — aliran Jabariyah dan Qadariyah.

Dalam hal perbuatan manusia, Washil menolak tegas paham Jabariyah. Manusia, katanya, punya kebebasan mutlak dalam setiap tindakannya. Dalam hal ini diduga  ia terpengaruh pemikiran Ma’bad Al-Juhani dan Ghilan Ad-Dimasyqi. Namun, lebih dari itu, ia menjelaskan kebebasan manusia ini melalui konsep “keadilan Tuhan”.  Manusia tidak mungkin dituntut bertanggung jawab atas perbuatannya bila itu bukan hasil pilihan dan kemampuannya sendiri. Dan lagi, tanyanya, bagaimana mungkin Dia yang memerintahkan hamba-hamba-Nya beriman dan berbuat baik justru menciptakan perbuatan yang berlawanan dengan perintah-Nya itu? Yang benar adalah, Dia memberikan kemampuan kepada manusia untuk memilih-baik atau buruk, iman atau kafir, taat atau melanggar, dan sebagainya. Dan kemampuan itu dianugerahkan sejak awal sekali, sebelum ada tindakan (qablal fi’l), bukan ketika tindakan dilakukan (‘indal fi’l), seperti pemahaman Al-Asy’ari. Menurutnya, hanya dalam konteks demikian sajalah keadilan Állah SWT teraplikasi secara sempurna sesuai dengan hukum-hukum logika (manthiqi).

Menurut Ibn Hazm, karya utama dari pemikiran Mu’tazilah dapat dilihat dalam doktrin kebebasan manusia. Sębab, jika manusia menganggap perbuatan mereka mutlak dan absolut (terpaksa), maka keseluruhan bangunan syariah dan etika tidak ada artinya sama sekali. Mengenai pelaku dosa besar, ia mencomot pandangan ketat kaum Khawarij: bahwa dosa besar dapat menghapus status kemukminan. Namun, lebih lanjut, ia mengembangkan apa yang kemudian dikenal sebagai doktrin al-manzilah bainal manzilatain (posisi di antara dua posisi). Washil menempatkan pendosa besar dalam posisi mengambang antara kafir dan mukmin. Dan jika mati sebelum sempat bertobat, maka pendosa ini kekal di neraka, karena di akhirat kelak hanya ada dua golongan; mukmin dan kafir. Hanya saja dia akan menerima siksa lebih ringan dibanding orang kafir.

Mu’tazilah (baca: Washil) memang memiliki pandangan tentang iman yang berbeda dengan kalangan Sunni. Kalau yang kedua memahami iman sebagai “pembenaran dengan hati dan ikrar dengan lisan”, maka yang pertama mendefinisikannya sebagai “pembenaran dengan hati dan ikrar dengan lisan serta melaksanakan dengan anggota badan”. Jadi, keyakinan dan ikrar saja tidak cukup, harus diejawantahkan dalam perbuatan, baru bisa disebut iman.

Imam Al-Ghazali dalam buku Ihya’u Ulumiddin mengeritik Mu’tazilah telah keliru dalam memahami beberapa ayat-ayat Al-Quran (Q. 103:1-3;72:23; 20:82; 4:48; 18:30; dan 11:115). Katanya, ayat-ayat itu secara jelas menunjukkan bahwa perbuatan dosa seseorang tidak akan membuat Allah mengabaikan keimanan seseorang dan menghilangkan semua pahala atas perbuatan baiknya. Karena itu, seorang mukmin yang melakukan dosa besar tetap seorang mukmin. Dan bila mati sebelum bertobat sekalipun, dia tetap akan masuk surga setelah terlebih dahulu dicuci di neraka.

Sedangkan menyangkut orang-orang yang terlibat Perang Jamal dan Perang Shiffin, Washil berpendapat, diantara mereka pasti ada yang salah. Hanya saja tidak dapat diketahui, pihak mana yang salah, dan pihak mana yang benar

Dari keempat butir pandangan Washil tersebut, hanya tiga pertama yang secara langsung merupakan pemikiran dalam ilmu kalam. Al-Juba’i, seorang ulama Mu’tazili abad ke-10 M., kemudian mengembangkan ketiga doktrin itu menjadi lima ajaran pokok yang meliputi tauhid, (nafyu shifatillah, penafian sifat-sifat Allah), keadilan Tuhan, Al-manzilah bainal manzilatain, al-wa’d wal-wa’id (janji dan ancaman), dan amar makruf nahi mungkar. Jika diperhatikan dengan cermat, prinsip al-wa’d wal-wa’id yang dirumuskạn Al-Juba’i lebih merupakan taudhih (penjelasan) terhadap konsep keadilan Tuhan. Dan memang dari doktrin kebebasan kehendak manusia itulah janji-janji dan ancaman Allah SWT memiliki makna logis dan manusiawi sesuai dengan sunnah-Nya yang berlaku. Bagaimanapun, di kalangan ahli kalam, Al-Juba’i dikenal sudah berjasa membakukan ajaran Mu’tazilah. Dan berkat dia pula konsep aliran itu terus dikenal hingga saat ini.

Bersambung      

Penulis: Dr KH Hodri Ariev, kini pengasuh Pondo Pesantren  Mambaul Ulum, Jember, dan dosen UIN Sunan Ampel, Surabaya. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 8 Desember 1997

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda