Tafsir

Tafsir Tematik: Siapakah Umat Terbaik? (3)

Written by Panji Masyarakat

Adalah kamu umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah…….. (Q. 3: 110).

Kamulah Umat Terbaik

Tapi benarkah ‘umat terbaik’ di dalam ayat memang seluruh umat Muhammad? Jangan heran kalau tidak semua jawabannya langsung menunjuk kepada kedirian umat Islam, melainkan berpijak pada data di sekitar turunnya wahyu ayat ini.

Pertama, Ikrimah r.a. memulangkan pengertian ‘umat terbaik’ kepada peristiwa yang dinilainya menjadi sababun nuzul ayat. Yakni yang menyangkut Ibn Mas’ud, Salim manatan budak Abu Hudzaifah, Ubay ibn Ka’b, dan Mu’adz ibn Jabal. Dua orang Yahudi, Malik anak Ash-Shaif dan Wahb anak Yahuda, berkata kepada mereka, “Kami lebih mulia dari kalian. Agama kami juga lebih baik dari kalian punya.” Maka Alah menurunkan ayat ini. (Khazin, I: 270). Betapapun “lugunya” alasan itu, dengan demikian ‘kamu’ di dalam ayat adalah keempat orang tersebut.

Kedua, ‘umat terbaik’ adalah Ahlul Bait. Ini riwayat adalam Durrul Mantsur, penuturan Abu Hatim dari kata-kata Abu Ja’far/ (lih. Thabathaba’i, III: 415). Kaum Syi’ah menganggap Ahlul Bait (keluarga Nabi) hanya para junjungan mereka: Ali, Fathimah, Hasan, Husain, r.a., dan keturunan Husain.

Ketiga, seperti diriwayatkan Ahmad, Nasa’i dan Al-Hakim, Ibn Abbas r.a. berpendapat bahwa umat yang dimaksudkan dalam ayat adalah “mereka yang berhijrah bersama Rasulullah s.a.w. dari Mekah ke Madinah”, alias Muhajirin (Ibn Katsir, I: 391). Begitu juga menurut Umar ibn Khattab dan As-Suddi, r.a. (Thusi, II: 557).

Keempat, Razi mengantarkan pendapat lebih luas, dari orang lain: mereka itu ‘Para Pendahulu Pertama alias As-Saabiquunal Awwalauun. (Q. 9: 100): “Para pendahulu pertama dari kalangan imigran dan para penolong, serta yang mengikut mereka dalam kebaikan, Allah meridai mereka dan mereka rida kepada-Nya…”). Kaum imigran adalah Muhajirin, kaum penolong , disebut Anshar. Lebih lagi, pendapat itu juga memasukkan  ke dalam ‘umat terbaik’,  ”siapa saja yang berbuat seperti yang diperbuat para pendahulu pertama itu.” (Razi, VIII: 194).

Kelima adalah pendapat Adh-Dhahhak, yang meluaskan pengertian ‘umat terbaik’ kepada para (seluruh) sahabat Rasulullah s.a.w.” (Thusi, loc.cit.).

Keenam, hanya berbeda tekanan dengan pendapat keempat, boleh diwakili Rasyid Ridha. Katanya, pengungkapan ‘umat terbaik’ itu merupakan “kesaksian Allah untuk Nabi s.a.w. dan para mukmin yang mengikuti beliau dengan benar, sampai ke masa turunnya ayat ini – yakni bahwa mereka umat terbaik dengan tiga nilai itu (amar, nahi, dan iman).’

Seperti dikatakan Muhammad Abduh,  ”Yang disebutkan dalam ayat itu mencocoki mereka yang pertama kali diajak bicara (oleh wahyu), yakni Nabi dan para ‘sahabat yang bersama beliau’, r.a.” – yakni para sahabat yang “benar sahabat”, bukan sahabat seperti yang dipahami para ahli hadis – yang juga memasukkan seorang badui yang baru memeluk Islam dan pernah sekali melihat Nabi. Sedangkan mereka yang mengikuti beliau-beliau itu (di antara seluruh umat muslimin), menurut Rasyid, “tak ayal lagi berada dalam hukum yang sama.” (Rasyid Ridha, IV: 58,59).      

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  25 November  1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda