Mutiara

Jalan Dakwah Tuan Guru Bengkel

Ulama yang produktif menulis kitab ini berrdakwah di masyarakat Sasak yang masih kental tradisi Hindunya. Tidak secara frontal, tetapi bertahap, melalui pendekatan tasawuf.   

Tuan Guru Haji Muchamad Soleh Chambali alias Guru Bengkel adalah ulama, pendakwah, dan penulis buku keagamaan dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dia berdakwah di kalangan masyarakat, yang pada permulaan abad ke-20 masih sangat dipengaruhi tradisi Hindu, meskipun mereka muslim.  Dalam penyelenggaraan upacara pernikahan (bukan acara pestanya), misalnya,  selalu disertai  dengan musik dan tarian.

Dalam menyikapi tradisi semacam itu, Tuan Guru Bengkel tidak menunjukkan sikap yang frontal. Ia antara lain menempuhnya dengan cara menulis kitab tentang hukum bernyanyi dan menari yang berjudul  Luqṭah al-Jawharah. Pendekatan dakwah Tuan Guru Bengkel  kepada masyarakat Sasak juga dilakukan melalui tasawuf. Sufisme  yang ia ajarkan, bukan hanya mengenalkan doktrin-doktrin atau ajaran yang ada di dalam  kitab, tetapi ia menjalani dan menjadikan ajaran sufistik tersebut sebagai laku kesehariannya.  Dalam mengembangkan dakwahnya, Tuan Guru Bengkel memang  melakukannya secara bertahap. Seperti pembebasan masyarakat Sasak dari kebodohan membaca Alquran. Hal ini direalisasikan dengan membuat Perguruan Darul Qur’an wal Hadis dan membuat kitab panduan belajar Alquran dengan judul Hidāyah al-Aṭfāl fī Tajwīd Kalām Allāh al-Muta‘āl.

Muchamad Soleh lahir pada 21 Februari 1896 di Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Ia sudah menjadi yatim sejak  berada dalam kandungan ibunya. Dua hari setelah kelahirannya seorang tokoh agama di Desa Bengkel,  Haji Ali, memberinya nama Muchammad Soleh. Ia adalah anak terakhir dari pasangan Hambali bin Gore dan  Rahimah (alias Inak Fatimah). Tuan Guru Bengkel merupakan keturunan Raja Selaparang. Soleh  menjadi yatim piatu setelah ditinggal wafat oleh ibunya ketika berusia enam bulan. Ia pun diambil menjadi anak angkat oleh Kepala Desa Bengkel Amak Rajab (H. Abdullah).

Soleh belajar mengaji Alquran dan tajwid kepada Guru Sumbawa di desanya. Selain itu, ia juga belajar kepada TGH  Abdul Hamid Pagutan Lombok, untuk  belajar Alquran, fikih, dan ilmu agama lainnya. Lima tahun kemudian orangtua angkatnya mengajak Soleh menunaikan ibadah haji. Ia kemudian menetap di Tanah Suci sekitar sembilan tahun untuk memperdalam pengetahuan agamanya. Pada pertengahan 1916 ia pulang, dan setelah itu namanya dikenal sebagai Tuan Guru Haji Bengkel atau Tuan Guru Bengkel.

Banyak kitab yang ditulis TGH Muchamad Soleh. Antara lain Syarḥ ad-Daḥlān yang merupakan kitab penjelasan dari kitab Matn al-Ajrūmiyyah dan kitab Syarḥ Ibnu ‘Aqīl yang merupakan penjelasan dari kitab Ibnu ‘Aqī;  Al-Mawā‘iẓ aṣ-Ṣāliḥiyyah yang merupakan terjemah dari kitab al-Mawā‘iẓ al-‘Usfūriyyah;  Hidāyah al-Aṭfāl yang merupakan terjemah dari kitab Hidāyah al-Mustafīd; Luqṭah al-Jawharah ini membahas masalah tasawuf, lagu, dan tarian serta hal-hal yang berkaitan dengannya.

Berikutnya adalah  Talīm aṣ-Ṣibyān bi Gāyah al-Bayān, kitab yang ditulis dengan metode tanya jawab dan membahas masalah tauhid, fikih, dan tasawuf;  Waṣiyyah al-Muṣṭafā li ‘Alī al-Murtaḍā, yang  berisikan nasihat atau petuah yang diberikan oleh Nabi saw. kepada Ali bin Abi Thalib. Lalu  Al-Mawāiẓ aṣ-Ṣāliḥiyyah fī al-Aḥādīṡ an-Nabawiyyah,  yaitu  kitab hadis yang diterjemahkan dari kitab al-Mawāiẓ al-Usfūriyyah fī al-Aḥādīṡ an-Nabawiyyah.

Kitab-kitab lainya adalah Al-Lu’lu’ al-Manṡūr,  tentang kisah Nabi Muhammad, seperti Barjanzi;  Intan Berlian (Perhiasan) Laki Perempuan;  Jamuan Tersaji (pada) Manasik Haji;  Cempaka Mulia Perhiasan Manusia (kitab akhlak); Bintang Perniagaan pada Kelebihan Perusahaan, yang membahas tentang usaha perdagangan atau dapat dikatakan kitab tentang manajeman usaha; Wirid 17 (Rātib al-Barakah); As-Siqāyah al-Marīḍah fī Asmā’ al-Kutub asy-Syāfiiyyah,  merupakan katalog nama-nama kitab Mazbah Syafii yang disertai dengan pengarang, juga sekaligus nasab mereka); ‘Ilm al-Manṭiq;  Dalīl al-Ḥaul (kitab yang memuat dasar dan argumen bolehnya mengadakan haul); Piagem beserta Ajat Qoer’an, penjelasan tentang tafsiran beberapa ayat-ayat Alquran, huruf-huruf dan al-asmā’ al-ḥusnā).

Tuan Guru Bengkel  wafat pada 20 Agustus 1968.

Sumber: Adi Fadli, Pemikiran Islam Lokal, Studi Pemikiran Tuan Guru Haji Muchammad Soleh Chambali Bengkel Al-Ampenani  (2011).

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda