Jejak Islam

Makam-makam Sultan Aceh dan Taman Sari Gunongan (2)

Written by Panji Masyarakat

Kandang XII

Banda Aceh yang dapat kita lihat sekarang ini sungguh sangat berbeda dengan keadaan kota itu pada tahun 1970-an. Saya berkesempatan mengunjungi kota ini sekitar tahun 1970 ketika saya mengadakan penelitian arkeologi di seluruh wilayah Provinsi Aceh melalui proyek inventarisasi kebudayaan nasional. Bersama Zakaria Ahmad, yang waktu itu menjabat Kepala Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan, kami berkeliling menelusuri jejak-jejak bekas kerajaan Aceh. Mulai dari Banda Aceh, Pidie, Pasai, Tamiang sampai Aceh Timur.

Pada waktu itu Kota Banda Aceh masih sangat sepi. Belum seramai sekarang. Gedung baru belum banyak. Bahkan hotel tempat kami menginap, Hotel Aceh Barat, merupakan bangunan rumah panggung. Demikian juga kendaraan roda empat, belum banyak. Yang banyak berseliweran di Kot Banda Aceh adalah motor becak Yakni becak yang dijalankan dengan mesin sepeda motor. Pada umunya bekas mesin Ducati, Vespa dan sebagainya. Naik becak bermotor jauh lebh nyaman dibanding naik becak biasa yang dikayuh oleh manusia. Ya, karena pengemudi tak perlu berkeringat mengayuh becaknya.

Makam-makan sultan Aceh yang cukup penting di Kota Banda Aceh  adalah makam-makam sultan Aceh yang terletak di Kandang XII, yang tak jauh dari kantor gubernur Aceh.

Di Kandang XII dimakamkan 12 raja dan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Termasuk pendiri Kerajaan Aceh Ali Mughayat Syah yang wafat pada 1530 M.

 Pada saat saya berkunjung ke kompleks makam ini, kondisinya cukup tertata rapi karena telah dipugar oleh Dinas kebudayaan setempat. Bangunannya dikelilingi pagar tembok, dan di atap makam dibuat cungkup yang ditutupi atap yang terbuat dari seng.

Di antara sultan-sultan Aceh yang dimakamkan di Kandang XII antara lain:

Sultan  Ali Mughayat Syah (1514-1530 M); Sultan Salahuddin  (1530-1539 M); Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Kahar (1539-1571 M); Sultan Ali Riayat Syah (1571-1579 M); SultanAlauddin atau Mansyur Syah (11579-1586 M); Sultan Ali Rayat Syah atau Raja Buyung (1586-1589 M); Sultan Aaluddin Riayat Syah Sayyid Al-Mukamil (1589-1604 M); Sultan Ali Riayat Syah atau Sultan Muda (1604-1607 M); Sultan Iskandar Muda (1606-1637 M) – tidak dimakamkan di Kandang XII; Sultan Iskandar Tsani (1637-1641 M) – tidak dimakamkan di Kandang XII, tetapi di Gunongan (?).

Dari daftar sultan-sultan yang memerintah di kerajaan Aceh, seperti yang disebutkan di muka, Sultan Iskandar Muda sampai saat ini belum dapat dipastikan di mana letak makamnya. Hal ini dapat terjadi karena selama perang Aceh-Belanda (1874-1904) telah terjadi kerusakan peninggalan kerajaan Aceh  seperti Masjid Raya terbakar, makam raja rusak dsb.

Namun tentang makam Sultan Iskandar Tsani, mudah diperkirakan bahwa beliau dimakamkan di Gunongan. Hal ini dapat diidentifikasi ketika Pusat Penelitian Arkeologi pada tahun 1976 mengadakan eksvakasi (penggalian arkeologi) di dalam bangunan Gunongan. Pada penggalian itu di tengah bangunan Gunongan tim menemukan makam dengan keranda yang dilapisi emas. Berdasarkan deskripsi yang disebutkan dalam kitab Bustanus Salatin, maka dapat diperkirakan bahwa  keranda tersebut merupakan makan Sultan Iskandar Tsani.

Menurut pendapat kami, keranda berlapis emas murni yang beratnya lebih dari dua kilogram itu tidaklah lazim dalam sistem pemakaman raja Islam. Emas tersebut  kemudian secara permanen dipamerkan di Museum Negeri Aceh.         

Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary (1939-2006).  Semasa hidupnya dikenal sebagai arkeolog, pakar kepurbakalaan Islam. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini pernah menjabat kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Sumber: Majalah Panjimas, 30 Oktober-12 November 2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda