Adab Rasul

Agar Tak Mudah Ghibah

“Ketika Tuhanku mengangkatku (mi’raj), aku melewati sekelompok orang yang memiliki kuku-kuku dari kuningan, yang mencakar muka dan dada mereka sendiri, “ kata Rasulullah s.a.w sembari bertanya kepada malaikat Jibril.  “Siapa mereka itu, Jibril?”  Jibril pun menjawab, “Mereka adalah orang yang memakan daging sesama manusia dan menjelek-jelekkan kehormatan mereka.”

Sepenggal cuplikan yang diriwayatkan Anas r.a seperti termaktub dalam Kitab Musnad Ahmad itu menjadi sangat relevan saat ini. Bagaimana menggunjing (ghibah) menjadi bagian dari kehidupan yang kerap tidak disadari keberadaannya. Ghibah adalah menggunjing orang lain dengan sesuatu yang ia tidak suka meski yang dibicarakan itu benar adanya. Rasulullah s.a.w menjelaskan. “”Tahukah kalian, apakah ghibah itu?” Orang-orang menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu'” Nabi menjelaskan, “Pembicaraanmu tentang saudaramu yang ia tidak suka.” Seseorang bertanya, “Bagaimana pendapatmu jika yang aku bicarakan itu benar-benar ada dalam diri saudaraku?” Nabi menyatakan, “Jika padanya ada sesuatu seperti yang engkau bicarakan itu maka engkau telah menggunjingnya. Namun bila tidak ada, maka engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

Betapa berat konsekuensi dari ghibah ini telah Allah firmankan dalam Q.S Al Hujurat ayat 12 “Apakah ada di antara kamu yang suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” Terlebih ketika sosial media merebak seperti saat ini, cukup dari genggaman tangan saja kita dapat berkontribusi menggunjing sesuatu. Meski tak lewat mulut, tetap saja gunjingan dengan teks atau gambar tetaplah ghibah. Tentu itu hasil karya bujukan setan dan menjerumuskan orang agar terus senang melakukannya. Ghibah menjadi perbuatan buruk terlebih bila yang dibicarakan adalah sesama muslim, sehingga berhati-hatilah jangan sampai menjelekkan kehormatan saudaranya. “(Yang disebut) orang muslim itu ialah yang tidak mengganggu orang muslim lainnya dengan lisan dan tangannya,” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perilaku ghibah menjadi begitu melekat dalam kehidupan karena membombardir kita dari segala arah. Tayangan televisi, gosip, infotainment ataupun yang lain, banyak menyajikan ghibah yang dikemas halus hingga terang-terangan. Tentang hal seperti itu, Mustafa Al’adawy dalam Fikih Akhlak menyatakan bahkan ada kata-kata yang tidak secara tegas berarti menggunjing tapi pada dasarnya menggunjing. Ia mencontohkan seperti kalimat “Semoga Allah memberinya petunjuk”, itu bermaksud menyinggung yang bersangkutan. Atau kalimat  “semoga Allah menyehatkan kita”, “Kita memohon keselamatan kepada Allah”, atau “semoga Allah memudahkannya.” Tapi maksudnya untuk menyakiti perasaan orang lain. Kalimat-kalimat ini akan menyebabkan dosa bila dimaksudkan untuk menyinggung orang yang bersangkutan.

Jadi, berhati-hati menggunakan lisan atau jemari kita karena kalau sudah ghibah, berat urusannya di hadapan Allah SWT.

About the author

Ahmad Lukman A.

Berpengalaman menjadi wartawan sejak tahun 2000 dimulai dengan bergabung di Majalah Panji Masyarakat. Lalu, melanjutkan karir di media berbasis teknologi mobile. Lulus dari S2 Ilmu Komunikasi UI dan memiliki antusiasme pada bidang teknologi dan komunikasi.

Tinggalkan Komentar Anda