Hamka

Sikap Bijak Hamka dan Heboh Sastra

Written by Arfendi Arif

Kalau dicermati dengan baik nama Buya Hamka menjadi populer di masyarakat diawali dengan karya sastranya. Buya mengatakan, di masa muda daya khayal dan imajinasi sangat kuat sehingga memengaruhi suburnya kemampuan menulis dan mengarang.

Karya sastra Hamka yang membuat namanya moncer di masyarakat antara lain  novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, dan Angkatan Baru. Namun, di antara novel itu Tenggelamnya Kapal Van der Wijk yang sempat  mengharubirukan polemik sastra waktu itu, dengan melibatkan para pentolan dan nama besar dunia sastra. Peristiwa yang panas terjadi tahun 1962 itu  dibawah atmosfer politik yang dikuasai kelompok komunis yang dekat dengan pemerintahan Sukarno.

Tudingannya adalah karya Hamka Tenggelamnya Kapal Van der Wijk merupakan karya jiplakan atau plagiat dari karya Al Manfhaluti yang berjudul Al Majdulin atau Magdalena. Al Majdulin merupakan karya saduran dari aslinya Sous Les Tilleuls atau di Bawah Pohon Tilla buah karya novelis Perancis Alphonse Karr.

Memang terasa sulit untuk melihat objektifitas penilaian terhadap karya Hamka  tersebut secara ilmiah karena pengaruh ketegangan politik yang  menonjol. Seperti diketahui, kelompok komunis yang sedang di atas angin menginginkan semua kekuatan yang ada di masyarakat mengikuti atau sejalan dengan semangat revolusi yang dicanangkan pemerintah.

Seperti ditulis Irfan Teguh, situasi politik di sekeliling kasus plagiarisme Hamka memang sedang memanas. Kekuatan politik condong ke kiri. Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas terafiliasi sedang di atas angin. Kebudayaan mereka kuasai. Pihak yang berseberangan disebut kontra revolusioner. Polarisasi amat tegas antara kawan atau lawan (Irfan Teguh, Hamka, dalam Gelombang Sastra dan Politik,  (Kumparan.com, diakses 13 Februari 2021).

Lebih jelas hal ini dipertegas oleh Arief Budiman, ” Pada akhir tahun 1963, kehidupan di Indonesia menjadi berpusat di sekitar politik. Segala aktivitas manusia, diukur dengan pengabdiannya kepada ” revolusi”, suatu slogan politik yang tidak jelas apa arti sebenarnya. Ilmu harus revolusioner, ekonomi harus ekonomi revolusi, kebudayaan adalah untuk revolusi dan sebagainya. Semua organisasi massa harus di bawah naungan partai politik. Koran-koran harus merupakan koran partai politik, koran yang tidak berpartai dianggap sebagai koran iseng. Demikian juga organisasi-organisasi kebudayaan harus dibawah partai politik. Dan partai politik sendiri harus mengabdi kepada “revolusi” , kepada Manipol dan banyak lagi slogan-slogan lainnya yang pada waktu itu bertaburan bagai bintang-bintang di langit”.

Selanjutnya tentang Hamka, Arief Budiman menyinggung, ” sejalan dengan ofensif di bidang politik, maka kaum komunis lalu membuka front di bidang lainnya, antara lain di bidang kebudayaan. Di bidang kesusastraan dilakukan serangan kepada tokoh-tokoh sastra di luar Lekra, yang mempunyai pengaruh besar di kalangan masyarakat seperti HB Jassin dan Hamka”.

“Jelas sekali bila HB Jassin dapat disingkirkan, maka jalan untuk menguasai kesusasteraan Indonesia, khususnya angkatan mudanya terbuka lebar  Sedangkan Hamka adalah salah seorang tokoh berpengaruh di kalangan umat Islam dan dia juga pengarang . Menyingkirkan Hamka dengan menyerangnya dari sudut agama adalah tidak mungkin, karena sikap umat Islam Indonesia yang fanatis. Karena itulah Hamka diserang dari sudut kepengarangannya, yakni dengan menuduhnya melakukan plagiat” ( Arief Budiman, Kekuatan Politik dalam Kesusastraan Indonesia, dalam Keyakinan dan Perjuangan, Buku kenangan untuk Letnan Jenderal Dr. TB. Simatupang, BPK Gunung Mulia, Jakarta,  1972, hal. 162, 167).

Pengarang pertama yang menyerang Hamka adalah Abdullah Sp. Ia menulis di lembaran minggu Bintang Timur yang bernama Lentera di bawah asuhan Pramudya Ananta Toer. Tulisannya berjudul “Hamka, benarkah dia Manfaluthi Indonesia”. Tulisan ini dilanjutkan tiga tulisan berikutnya, intinya menyimpulkan Tenggelamnya Kapal Van der Wijk merupakan plagiat,  sebab menurut penilaiannya, tema, isinya, nafasnya sama, hanya tempat kejadian dan tokohnya yang berbeda dengan menggunakan warna setempat

Namun, tulisan itu ternyata tidak ada tanggapan, meskipun kemudian Lentera yang menjadi corong Lekra mengerahkan  berbagai surat pembaca yang mendukung    tulisan tersebut dan menyesali Hamka. Novel Hamka ini bahkan cepat habis di pasaran. Cetakan pertama langsung ludes, pada cetakan ke 10 sudah mencapai tiras 80 ribu. Padahal, novel ini sebenarnya sudah pernah di publish di Majalah Pedoman Masyarakat dalam bentuk cerita bersambung.

Memang kritik Abdullah SP ditanggapi beberapa seniman terkenal. Bahkan pembelaan datang dari HB Jassin, tokoh yang disegani dalam dunia sastra. Jassin mengatakan, karya Hamka bukanlah plagiat. Plagiat itu adalah pengambilan karangan orang lain sebagian atau seluruhnya dan membubuhkan nama sendiri seolah-olah kepunyaannya.  Dalam hal roman Hamka, Jassin mengatakan, karya itu bukan plagiat atau jiplakan, karena Hamka tidak hanya  menterjemahkan  dan membubuhkan nama  sendiri dalam terjemahan itu, melainkan ia menciptakan karya  dengan seluruh kepribadiannya ( Asep Samboja, Buya Hamka dan Tuduhan Plagiat itu, Kumparan.com, 9 Oktober 2009).

Dalam sebuah wawancara kritikus sastra HB Jassin mengatakan,  tudingan terhadap Hamka lebih bersifat politik. Hamka sebagai seorang  tokoh agama, yang punya pengaruh waktu itu, haruslah disingkirkan. Dan, Jassin nenambahkan, kriteria-kriteria plagiat kaum Lekra itu amat tidak meyakinkan (Majalah Horison, Juli 1987 hal  222.).

Tidak hanya Jassin, seniman lain yang membela Hamka adalah Goenawan Mohammad, Ali Audah dan lainnya. Namun, bagaimanakah tanggapan Hamka yang menjadi sasaran fitnahan tersebut?

Hamka memang lebih banyak diam dan tidak menanggapi kecaman terhadap dirinya dari kelompok Lekra. Ia mengatakan, caci maki dan kecaman itu tidak akan berpengaruh dan menjatuhkannya. Hamka mengaku kalau ia terpengaruh dengan Al Manfaluthi.

Tapi, ia berharap soal tudingan karyanya yang  dinilai plagiat harus dibicarakan dengan jernih dan pikiran tenang. Ia berharap romannya Tenggelamnya Kapal Van der Wijk agar diteliti secara ilmiah oleh para ahli sastra untuk menentukan apakah itu plagiat atau bukan. Ia malah mengusulkan dibentuk Panitia Kesusasteraan yang bersifat ilmiah di bawah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan ia bersedia memberikan keterangan dan penjelasan.

Sikap Hamka ini sungguh bijak dan objektif. Situasi politik waktu itu yang amat kental dengan perseteruan antara kelompok kiri komunis yang diwakili sastrawan Lekra dengan kelompok Manifes Kebudayaan dan umat Islam tidak mungkin membicarakan karya Hamka dengan objektif. Hanya jika persoalan ini diserahkan kepada pihak kampus dan perguruan tinggi yang mempunyai otoritas ilmiah,  maka hasilnya bisa dipertanggungjawabkan. Rupanya, Hamka cukup cerdas dan jeli waktu itu membaca situasi, dan Hamka juga memiliki karakter berpikir akademis dan ilmiah.

Sayangnya, usul Hamka itu tidak terjadi dan tidak diwujudkan. Yang muncul adalah karya Hamka dan beberapa pengarang lainnya diancam untuk tidak  dilakukan cetak ulang. Dan, malah muncul tuduhan makar terhadap Hamka sehingga ia mendekam di penjara selama 2 tahun 4 bulan tanpa persidangan. Allahu’alam 

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda