Berbagi Cerita Corona

Pejuang PAUD di Dusun Lereng Gunung Merapi

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19. Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com –Pemimpin Redaksi

Sleman, Yogyakarta – Dunia pendidikan di Indonesia kini harus menerima kenyataan baru selama pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Aktivitas belajar dan mengajar harus dilakukan secara virtual untuk semua jenjang pendidikan.

Ketika seluruh siswa harus belajar dirumahnya masing-masing, di sisi lain para guru harus memutar otak agar kegiatan belajar dan mengajar tetap berjalan secara efektif.

Pandemi tidak melulu menghadirkan kisah-kisah pilu, tetapi juga mendatangkan cerita yang unik dan menginspirasi. Seperti cerita yang datang dari Vivi Kusumastuti, seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang terletak di Dusun Ganggong, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Ia membagikan kisah inspiratifnya sebagai seorang pendidik di Pos PAUD Melati. Sebuah sekolah pendidikan PAUD yang terletak di salah satu dusun dekat dengan lereng Gunung Merapi.

Kegiatan belajar dan mengajar secara virtual memiliki tantangan tersendiri bagi pendidik di jenjang pendidikan PAUD. Menurutnya, anak-anak pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi akan lebih mudah untuk ‘diatur’ mengenai tanggung jawabnya sebagai seorang siswa perihal pengerjaan tugas, dan lain-lain.

Berbeda halnya dengan anak pada jenjang pendidikan PAUD. Belajar secara virtual bagi usia PAUD diperlukan pendampingan orang dewasa secara penuh. Mengingat usia mereka yang masih berada pada jenjang di bawah enam tahun.

Namun, tantangan tersebut tidak lantas menyurutkan semangatnya untuk berjuang melahirkan tunas penerus bangsa. Melalui berbagai macam cara dan metode yang dilakukan Vivi dan rekan-rekannya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak didiknya.

Ia berpendapat bahwa BDR (Belajar Secara Daring) bukan berarti memindahkan sekolah ke rumah, karena jika hal ini terjadi maka akan menimbulkan stress pada anak didik dan orang tua.

Berangkat dari opini tersebut, beliau dan pendidik yang lain berusaha untuk menciptakan BDR yang lebih manusiawi, nyaman, dan sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat setempat.

“Belajar Tangguh Bersama”, sebuah program BDR karya pendidik di Pos PAUD Melati yang bukan hanya melibatkan guru dan para siswa saja, tetapi juga melibatkan orang tua murid sebagai elemen paling penting dalam menjembatani antara guru dengan murid.

Orang tua yang menjadi prioritas utama dalam hal ini yang kemudian dibekali dengan penguatan pemahaman tentang karakter anak usia PAUD.

Tidak adanya unsur pemaksaan kepada orang tua menjadikan program ini lebih manusiawi. Karena pada dasarnya tidak semua orang tua memiliki ilmu dalam bidang pendidikan.

Pengorbanan dan kerja keras memang tak pernah mengkhianati hasil. Sebuah program BDR karya pendidik di Pos PAUD Melati yang terletak kaki lereng Gunung Merapi ini mendapatkan apresiasi peringkat kedua se-Yogyakarta sebagai naskah best practice oleh Balai Pengembangan PAUD dan Dikmas Daerah Istimewa Yogyakarta.

Capaian ini merupakan apresiasi yang istimewa bagi mereka. Walaupun terletak di dusun yang jauh dari perkotaan, namun pendidikan anak di usia dini tidak kalah berkualitas dengan masyarakat yang bertempat tinggal di perkotaan di era pandemi saat ini.

About the author

Careylisa Novaldia Permatasari

Anggota magang PM Batch 1 yang juga mahasiswi Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Tinggalkan Komentar Anda