Bintang Zaman

Washil ibn Atha’ (2): Mempertahankan Kemurnian Tauhid dan Keadilan Tuhan

Written by Panji Masyarakat

Disintegrasi politik yang mulai meruyak pada masa kekhaliahan Utsman ibn Affan, lalu berlanjut hingga masa Ali ibn Abi Thalib dan Muawiah ibn Abi Sufyan, membuahkan beberapa pemikiran menyangkut masalah keimanan. Pasalnya, banyak sahabat Rasulullah s.a.w. yang terlibat dalam konflik tersebut. padahal di antara mereka ada yang dijamin masuk surga. Di tengah situasi semacam inilah diskursus teologis Washil tumbuh dan kemudian mengembangkan pemikirannya sendiri.

Washil ternyata tidak hanya menjadi murid yang pandai. Ia juga kritis dan tidak segan-segan  berbeda pendapat dengan kedua gurunya itu (Abu Hasyim dan Hasan Al-Bashri). Dengan yang pertama, ia hanya sepaham mengenai masalah imamah (kepemimpinan). Sedangkan dengan yang kedua ia berbeda pendapat mengenai “pelaku dosa besar” dalam perspektif ilmu kalam sebagaimana telah disebutkan.

Sejak kasus perdebatan dengan Hasan Al-Bashri itu, Washil membentuk halaqah, kelompok pengajian, sendiri dan mengembangkan pemikiran kalamnya sehingga menjadi mazhab tersendiri. Washil sendiri tidak menyebut atau menamai halaqah dan kelompoknya Mu’tazilah. Ia menyebutnya Ahlut Tauhid wal-‘Adl, yakni golongan yang mempertahankan kemurnian tauhid dan keadilan.     

Washil ibn Atha’ adalah sosok pencinta ilmu sejati. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya semata untuk menggali pengetahuan dan mengembangkan pemikiran. Waktu siang ia gunakan untuk berdiskusi, dan malam hari untuk mempelajari dalil-dalil serta menguji kebenaran pendapat-pendapat yang berkembang waktu itu. Sedang sisa malamnya untuk ber-taqarrub, beribadah kepada Allah SWT. Maka, tidak mengherankan, jika dalam urusan materi Washil banyak kedodoran. Tidak diperhatikan benar. Ini masih ditambah lagi dengan sikapnya yang sangat dermawan.

Washil dikenal tokoh pemikir yang cukup berani sekalipun harus berlawanan dengan pendapat jumhur, sebagian besar, ulama. Dia hanya merasa takut kepada Allah. Keberaniannya ini menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat sezaman dan sesudahnya. Ada yang menyebutnya fasiq, dan tentu saja tidak bisa dikategorikan mujtahid. Bahkan ada yang memvonis dia kafir.

Kelahiran dan Pengembangan Mu’tazilah

Seperti yang lain-lain, pemikiran Washil tidaklah lahir dari conditio exnihilo. Ia merupakan respons terhadap diskursus soal keimanan dan berbagai pertanyaan nonmuslim yang sebetulnya hendak menyudutkan akidah Islam pada waktu itu.

Disintegrasi politik yang mulai meruyak pada masa kekhalifahan Utsman ibn Affan, lalu berlanjut hingga masa Ali ibn Abi Thalib dan Muawiah ibn Abi Sufyan, membuahkan beberapa pemikiran menyangkut masalah keimanan. Pasalnya, banyak sahabat Rasulullah s.a.w. yang terlibat dalam konflik tersebut. padahal di antara mereka ada yang dijamin masuk surga. Dari sini muncul pembicaraan tentang perbuatan manusia, yang kemudian melahirkan dua aliran: Jabariah (determinisme) dan Qadariah (paham kebebasan manusia). Menrut aliran pertama, manusia berada pada posisi terpaksa dalam segala perbuatannya. Sedang yang kedua berpendapat sebaliknya: manusia punya kebebasan memilih.

Di pentas politik muncul aliran khawarij dan Syi’ah. Keduanya semula sama-sama pendukung kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib. Namun, karena kekecewaan melihat ketidaktegasan idola mereka itu sekelompok orang lantas ramai-ramai keluar dari barisan Ali. Mereka yang kemudian disebut Khawarij ini belakangan mengembangkan pemikiran teologis yang sangat ketat dalam soal agama. Antara lain mereka berpendapat, orang yang berbuat dosa besar tidak dapat disebut mukmin, dan halal darahnya.

Lain pula yang disebut Murji’ah yang disebut-sebut aliran pertengahan, dan bersikap toleran terhadap Syi’ah dan Khawarij. Sesuai dengan namanya, aliran ini punya paham “menunda” (Arab: murji’ah) segala keputusan hingga di akhirat nanti. Dalam sal pertentangan antara kelompok Ali dan lawannya, mereka menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. Dialah yang kelak akan memutuskan di akhirat tentang siapa yang benar di antara mereka. dan berbeda dengan Khawarij, mereka berpendapat, kemaksiatan tidak dapat menghapus kemukminan seseorang.

Di tengah diskursus teologis semacam itulah, di tengah berkembangnya aliran-aliran itu, Washil tumbuh dan kemudian mengembangkan pemikirannya sendiri. Menurut para ahli, pemikiran Washil yang paling menonjol dan banyak mengilhami pemikiran pengikut, meliputi empat hal: tauhid, perbuatan manusia, pelaku dosa besar, dan konflik politik antarsahabat.    

Bersambung      

Penulis: Dr KH Hodri Ariev, kini pengasuh Pondo Pesantren  Mambaul Ulum, Jember, dan dosen UIN Sunan Ampel,Surabaya. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 8 Desember 1997

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda