Tafsir

Tafsir Tematik: Siapakah Umat Terbaik? (2)

Adalah kamu umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah…….. (Q. 3: 110).

Sedikit Intelektualitas

Itu poin pertama. Yang kedua, bisa dipertanyakan: mengapa amar makruf dan nahi mungkar disebut di dalam ayat sebelum iman kepada Allah, sementara iman mestinya didahulukan sebelum segala bentuk ketaatan.

Jawaban pertama boleh datang dari Fakhruddin Razi. Iman kepada Allah, katanya, adalah hal yang dimiliki bersama di antara segala umat yang berada di sekitar kebenaran. Karena itu pembedaan umat Muhammad sebagai umat terbaik bukan dengan iman. Melainkan pelaksanaan amar-nahi tersebut, yang memang “paling kuat pada umat ini dibandingkan pada yang lain-lain.”

Itu diteruskannya dengan pertanyaan: mengapa hanya disebut iman kepada Allah dan bukan juga kepada kenabian (sementara poros yang membedakan agama dengan agama adalah nabi atau sang penganjur; pen.). Lalu diberikannya jawaban sedikit intelektualistis. Iman kepada Allah, katanya, tidak akan mewujud kecuali kalau iman itu benar, dan iman yang benar tidak mewujud kecuali jika figur yang melahirkan daya yang mengalahkan orang bersangkutan bagi dakwahnya adalah figur yang benar. “Maka ketika kita menyaksikan munculnya daya mengalahkan itu, bagi kebenaran pengakuan Muhammad s.a.w., menjadi termasuk tuntutan darurat Iman untuk mengimani kenabian Muhammad s.a.w.” (Razi, VII: 197).

Enam puluhan tahun sebelum Razi, Zamakhsyari (w. 538 H) sudah menerangkan butir itu—yang kedua—dengan cara lain. Katanya, dengan hanya menyebut iman kepada Allah, Dia “menjadikan iman kepada semua yang wajib diimani sebagai iman kepada Allah”. Alasan pengarang Kasysyaf ini: siapa yang beriman hanya kepada sebagian—rasul saja, atau kitab saja, atau hanya kebangkitan, perhitungan, hukuman, atau pahala, atau yang lain—tidak dihitung imannya, dan seakan tidak beriman kepada Allah. “Sesungguhnya mereka yang… berkata, ‘Kamu mengimani yang sebagian dan mengingkari yang sebagian,’ dan berkehendak mengambil sebuah jalan di antaranya, mereka itulah orang-orang kafir sejati” (Q. 4: 150). Jadi, gampangnya, iman kepada Allah mewakili iman kepada yang lain-lain. (lih. Zamakhsyari, loc. cit.).

Sedangkan terhadap butir pertama, Rasyid Ridha menanggapi Razi dengan mengedepankan Muhammad Abduh. Menurut Abduh, hikmah pengemukaan amar-nahi sebelum diktum iman itu karena amar-nahi pekerti terpuji dalam pandangan semua orang. Karena pembicaraan di sini mengenai kebaikan umat ini dibandingkan semua umat, dikemukakan penyifatan yang diakui bagusnya di kalangan baik mukmin maupun kafir. Hikmah lain: amar makruf dan nahi munkar itu pagar iman dan penjaganya (dan dengan demikian iman adalah isinya; pen.). Maka penyebutannya lebih dahulu sesuai dengan kesepakatan orang-orang yang selalu mendahulukan pagar (sisi luar; pen.).

Seperti Sebuah Pesan

“Itu bagus”, komentar Rasyid. “Adapun yang segera terlintas pada saya,” katanya, “pendahuluan amar dan nahi itu adalah dalam rangka pengemukaan kepada para ahlul kitab, yang memanggil kepada iman sementara tidak mampu mengklaim pelaksanaan amar makruf nahi munkar—karena masyarakat mereka ‘tidak saling mencegah kemungkaran yang mereka perbuat’ (Q. 5:79)” (Rasyid Ridha, IV: 64).

Disebut-sebutnya ahlul kitab di situ ada alasannya: kelanjutan ayat yang kita bicarakan ini adalah, “Sekiranya ahlul kitab beriman, itu baik bagi mereka. Sebagian mereka orang yang beriman dan kebanyakan dari mereka para pendosa.” Thabthaba’i, mufasir Syiah kontemporer, menyamakan iman yang disebut untuk ahlul kitab itu dengan yang dalam kalimat di atasnya.

Katanya, iman (kepada Allah) dalam ayat ini adalah “iman kepada seruan berhimpun untuk berpegangan pada Tali Allah dan menghindari perpecahan di situ (Q. 3: 103), di hadapan sikap yang mengkafirinya.” Dari situ bisa dipahami bahwa status umat terbaik didapat karena umat Muhammad “memerintahkan yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan berpegang pada Tali Allah, bersepakat dan manunggal seperti diri yang satu. Kalau saja ahlul kitab berada dalam gambaran ini, itu baik bagi mereka…” (Thabathaba’i, III: 416).

Adapun jawaban yang sederhana, dan jernih, datang dari Baidhawi (w. 685 H). Baginya, peletakan iman sesudah amar-nahi itu “petunjuk bahwa mereka (umat terbaik) melaksanakan amar makruf dan nahi munkar karena iman kepada Allah, pembenaran kepada-Nya, dan pemunculan agama-Nya”. (Baidhawi, II: 36). Beriman kepada Allah tidak sama dengan mengajak orang beriman—hal yang dalam Q. 3: 103 diberi istilah ‘dakwah’ (“memanggil kepada kebaikan”), sebagai tugas pertama sebelum amar dan nahi. Peletakan ‘beriman kepada Allah’ sesudah amar makruf dan nahi munkar dengan demikian seperti sebuah pesan—agar tidak pernah melupakan motivasi. Sebab, mungkin saja, setidaknya dalam teori, orang beramar makruf dan nahi munkar bukan sejatinya karena iman. Melainkan, misalnya, karena profesi. Wallahul Musta’an.

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  25 November  1998.      

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda