Cakrawala

Peran Luhur Ulama, Antara Kemaslahatan dan Resiko

Written by Arfendi Arif

Ulama merupakan figur yang selalu menarik perhatian di negara kita. Sejak awal  negara ini hadir  sampai sekarang ulama tidak pernah absen memberikan kontribusinya bagi bangsa dan negara. Karena itu jika ada ulama yang meninggal dunia keprihatinan dan rasa duka dirasakan masyarakat Indonesia.

Jika kita buka lembaran sejarah, ulama adalah figur yang sesungguhnya banyak jasa dan amal baktinya buat bangsa dan negara, namun itu tidak berarti ulama dalam perjalanan hidup tidak mengalami kesulitan dan kepahitan.

Dalam masa kolonial ulama menjadi penggerak utama perjuangan melawan penjajah, menyuarakan jihad dan terjun langsung memimpin peperangan. Tokoh-tokoh ulama yang berlaga di medan perang bisa kita sebut antara lain Syekh Yusuf. Ulama yang juga sufi dari Kerajaan Gowa Tallo Makasar. Ia  sempat menjadi mufti dan menantu  Sultan Ageng  Tirtayasa, Banten. Sempat berperang melawan Belanda bersama mertuanya, ia ditangkap dan dibuang ke Ceylon dan  Afrika Selatan. Begitulah resiko dari perjuangan ulama, ia diasingkan ke tempat  yang jauh, yang kalau iman tidak kuat akan merasa kesepian dan frustrasi. Tapi, bagi seorang ulama yang shaleh dimanapun ia berada tidak akan membuatnya patah hati, malah mendorong untuk berbuat baik dan mensyiarkan Islam. Syekh Yusuf,  di Afrika Selatan memiliki banyak.murid dan bahkan  sekarang dianggap sebagai Oliver Tambo atau pahlawan  nasional oleh pemerintahan Nelson Mandela.

Banten , tempat Syekh Yusuf mengabdi pertama, memang salah satu pusat perlawanan terhadap kolonial Belanda yang digerakkan oleh ulama. Penelitian beberapa ilmuan Indonesia di antaranya oleh Dr. Sartono Kartodirdjo menunjukkan peran ulama amat besar menggerakkan rakyat, di antaranya dalam peristiwa yang terkenal Geger Cilegon 1888 dengan tokoh perlawanan adalah para ulama , KH Abdul Karim, KH Tubagus Ismail, Haji Wasid dan lainnya. Disini Sartono mencoba mengungkapkan kompilasi kekecewaan rakyat Banten yang ditekan melalui pajak, pembunuhan   ternak yang sewenang-wenang karena wabah penyakit, menimbulkan kekecewaan,  yang itu kemudian memicu pula semangat anti penjajahan pada kaum kafir Belanda, akhirnya meletuskan pemberontakan rakyat yang dipimpin ulama ( lihat Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, Berkunjung ke Banten satu Abad yang lalu 1879-1888, dalam Hasan Muarif Ambary, dkk, editor, Kabupaten Serang Menyongsong Masa Depan, Pemda Tingkat II Kabupaten Serang, 1994 hal 286-302).

Ulama lain yang juga berjuang di zaman kolonial seperti Tuanku Imam Bonjol, Kiyai Madja –seperti juga dialami Syekh Yusuf–dibuang dari tanah kelahirannya, meski tidak sampai ke negara lain. Tuanku Imam Bonjol dan Kiyai Madja harus disemayamkan di Minahasa, Sulawesi Utara, jauh dari kampung halamannya. Dan, masih banyak di daerah lain ulama berperan penting dalam perjuangan bangsa.

Di zaman Orde Lama Buya Hamka pernah difitnah melakukan makar, dan dipenjara selama 2 tahun lebih tanpa persidangan. Namun, dalam masa tahanan itu ia menuntaskan penulisan Tafsir Al -Azhar yang monumental itu.

Di zaman pergerakan dan kebangkitan Indonesia,  ulama ikut berperan membangun umat dan bangsa melalui organisasi, seperti Sarikat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Sarikat Islam ; melalui pendidikan seperti Muhammadiyah yang membangun sekolah,  dan NU yang mendirikan pesantren.

Menurut Prof. Dr.Rachmat Djatnika , bukan saja ulama turut berjuang secara fisik, tetapi banyak organisasi keagamaan dan pendidikan yang didirikan para ulama di awal abad 20 atau antara tahun 1905-1939, masih zaman penjajahan. Di antaranya adalah Sarikat Dagang Islam (kemudian berubah jadi Sarikat Islam), Al-Jam’iyat Khairiyah, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Mathla’ul Anwar, Persatuan Islam (Persis), Nahdlatul Ulama, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Al-Jam’atul Washliyah dan  Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) (Lihat dalam Kabupaten Serang Menyongsong Masa Depan, Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Serang, 1994, hal  305).

Dalam hubungannya dengan kemerdekaan Indonesia, menurut KH Saifuddin Zuhri, para Ulama tampil menjadi pionir perintis kemerdekaan dan pendiri Republik Indonesia, diantaranya KH Hasyim Asy’ari, KH Abdulwahab Hasbullah, KH Mas Mansur, Haji Agus Salim, KH Abdul Wahid Hasyim, Abikusno  Cokrosuyoso, Ki Bagus Hadikusumo,  KH Abdulkahsr Muzakkir,  Haji Zainul Abidin dan KH Masykur ( KH Saifuddin Zuhri, Kaleidoskop Politik di  Indonesia jilid 2, Gunung Agung, Jakarta, 1981 hal. 36-47).

Kiprah ulama di tiap zaman tentu berbeda, namun ia  tetap hadir dan berkiprah berkontribusi untuk bangsa, baik era Orde Baru maupun era reformasi sekarang ini. Memang ada ulama yang terjun ke dunia politik, tetapi itu hanya sebagian kecil saja. Ulama,  habitat dan komitmen utamanya adalah membina umat, ada yang terjun dengan mendirikan  lembaga  pendidikan, baik itu sekolah umum maupun pesantren, namun cukup banyak yang berdakwah secara perorangan, menjadi pencerah umat, menjelaskan dan memberikan pemahaman beragama dan beribadah yang benar. Ulama mengabdi secara langsung dengan terjun ke masyarakat dengan tidak mengenal lelah.

Kita tidak bisa membayangkan jika dalam masyarakat tidak ada ulama. Banyak peran sosial, edukatif, konsultatif, membangun akhlak, yang mengandung  nilai-nilai kemanusiaan, amat besar maslahatnya bagi kehidupan dilakukan oleh ulama. Mulai dari membimbing masyarakat di tingkat bawah, mengajarkan Al-Quran, berdakwah, memberikan nasehat pada masyarakat, mengurus jenazah, menjadi ustadz, guru, mengurus masjid, mengurus  anak yatim, menikahkan calon pasangan suami – isteri dan lainnya. Itu dilakukan oleh ulama.

Dan, tentu pernah terjadi, ketika ada orang yang meninggal, atau ada masjid  masyarakat bingung karena  ulama tidak ada untuk menjadi imam. Itu artinya kehadiran ulama sangat penting dan tidak bisa diingkari.

Rasanya wajar kalau ulama dengan peran luhurnya itu mendapat kehormatan dalam masyarakat. Kehormatan jangan diartikan pemberian secara materi saja, tetapi sebuah sikap respek dan hormat karena peran luhur dan sucinya itu. Kalau guru dianggap sebagai pahlawan tanpa jasa, maka ulama sesungguhnya juga layak mendapat predikat tersebut.

Dalam situasi sekarang ini sesungguhnya kita membutuhkan peran ulama. Multi  krisis yang kita hadapi saat ini mulai dari krisis ekonomi, wabah penyakit, kerusakan moral akibat perilaku  korupsi, perbuatan asusila, kriminalitas, disintegrasi dalam masyarakat, saling hujat dan hina, sesungguhnya dalam konteks kegoncangan masyarakat itu peran ulama sangat penting dan dibutuhkan.

Ternyata, tidak semua masalah dalam masyarakat bisa diselesaikan secara hukum. Hukum ternyata tidak selamanya mampu membuat orang jera dan takut. Buktinya kejahatan tetap terjadi dan berulang.

Karena itu disamping pendekatan hukum, pendekatan agama dengan melibatkan ulama memberikan pencerahan dan kesadaran hukum penting juga dilakukan. Itu sebabnya ulama karena jasa dan peran strategisnya itu harus dihormati bukan saja oleh pejabat pemerintah, masyarakat luas  dan bahkan di antara ulama sendiri,  harus saling menghargai dan menghormati.

Tidak mudah melahirkan ulama, apalagi kalau ulama itu sudah dikenal luas di  masyarakat. Ia membangun pengabdian dengan susah payah membina jamaah, membina masyarakat dan membangun pengajian. Kalau ulama meninggal dunia maka sulit mencari penggantinya. Betapa banyak ulama yang meninggal dan memiliki kekhasan dan kualifikasi tertentu, memiliki jamaah yang luas, ketika meninggal  tidak ada yang mampu menggantikannya dengan prestasi yang sama.

Sekarang ini yang memprihatinkan kita adalah munculnya budaya memperkarakan orang ke polisi. Jika ada kritik yang tidak disukai dengan mudah orang menilai melakukan pelanggaran UU ITE dan melaporkan ke penegak hukum. Sehingga jika terbukti, bisa mendekam dalam bui.

Hal di atas juga bisa menimpa ulama. Ulama sebagian pengabdiannya adalah berdakwah. Dalam dakwah ada amal makruf nahi munkar. Yaitu nenyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan  mungkar atau jahat. Artinya, concern ulama  adalah perbaikan moral  atau akhlak. Karena itu ulama sesungguhnya adalah penjaga moral masyarakat  (moral guardian). Dalam hal ini ulama tentu akan banyak berbicara,  baik yang sifatnya memberikan pencerahan,  penyadaran maupun kritik atau nahi mungkar. Dalam kritik nahi mungkar inilah peran ulama memiliki resiko dan perlu kehati-hatian, yang jika ada orang tidak menyukai bisa berpotensi untuk dipolisikan. Sementara ulama menganggap perintah nahi mungkar itu adalah tugasnya sebagaimana diperintahkan hadist Nabi, ” Jika melihat kejahatan cegahlah dengan tanganmu, kalau tidak bisa dengan lisan, dan kalau tidak mampu dengan hati. Itulah selemah-lemahnya iman”.

Agaknya yang perlu dijelaskan adalah bahwa keprihatinan dan kepedulian  ulama dalam tugas dakwahnya adalah niat karena Allah , ikhlas dan sebagai ibadah. Karena itu kritik dan peran nahi munkarnya tidak punya muatan politis dan kekuasaan. Sebab itu kritik  ulama selayaknya dipercaya dan tidak perlu dicurigai, dan tidak perlu pula dipolisikan . Minimal ada dialog, saling informasi, silaturahim dan saling mengingatkan kalau ada hal yang janggal  , sehingga muncul saling pengertian. Allahu’alam 

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda