Mutiara

Terpaksa Jadi Pejabat

Written by A.Suryana Sudrajat

Keberanian moral tidak mungkin dimiliki orang-orang yang suka mengambil muka para penguasa, terlebih bagi para penegak hukum.

“Sudahlah, Abu Ishak, turuti saja maunya,” kata Abu Hanifah, “Dia akan menjadi orang ternama. Insya Allah”.

Abu Ishak, alias Ibrahim, memang ingin putranya, Yakub, berhenti belajar. Sebab, tenaganya amat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bagi keluarga Ibrahim yang miskin, cukuplah si Yakub bisa ngaji dan tahu pokok-pokok agama. Namun, anak itu ingin menyelam lebih dalam. Setelah belajar kepada Abdurrahman bin Abi Laila, Yakub ingin melanjutkan belajarnya ke Abu Hanifah. Imam kaum rasionalis ini berharap besar kepada murid barunya ini. Karena itu, pengrajin batu bata yang selalu menolak diangkat jadi hakim ini bukan saja mau mengongkosi hidup sang murid, melainkan juga rela menjamin hidup keluarga Abu Ishak. “Setiap kantong kami menipis, Abu Hanifah segera mengirim uang tambahan,” kata Yakub, “Seakan ada yang memberitahunya.”

Imam Abu Hanifah benar. Murid terbesarnya itu benar-benar menjadi orang ternama. Dialah sang hakim agung (qadhil qudhah) Imam Abu Yusuf . “Ia salah satu murid saya yang paling luas wawasan ilmunya,” komentar Abu Hanifah tentang Abu Yusuf.

Tahun 150 H Abu Hanifah wafat. Abu Yusuf meneruskan pengajarannya. Selain itu, ia juga mengompilasi ucapan-ucapan sang guru serta hukum-hukum yang pernah disimpulkan dalam majelisnya dulu. Kompilasi itu pun dituliskan dalam berbagai buku. Kelak, buku-buku itu tidak saja tersebar di lingkungan keilmuan, tetapi juga menjadi acuan dikalangan peradilan dan lembaga-lembaga resmi lainnya. Belakangan memang beredar pula Muwaththa’. Tapi, karya Imam Malik ini belum sebanding, lantaran pencatatannya belum menyeluruh. Lebih kurang 16 tahun Abu Yusuf, kelahiran Kufah 113 H/731 M, berkutat di bidang pengajaran dan penulisan. Selama kurun waktu itu pula, ia setia menempuh jalan gurunya-menjadi orang partikelir. Sampai akhirnya Abu Yusuf tidak kuasa mengelak. Sepeninggal Abu Hanifah kehidupan ekonominya terus memburuk. Puncaknya ketika ia terpaksa harus menjual bagian atas rumah istrinya. Akibatnya sungguh di luar dugaan: Abu dicerca habis mertuanya. Merasa harga dirinya direndahkan, tahun 166 H/ 782 M Abu meninggalkan Khurasan. Ia lalu menemui Khalifah Al-Mahdi di Bagdad, yang kemudian menawarinya jadi hakim di bagian timur ibu kota Kerajaan Abbasiyah itu. Jabatan ini didudukinya hingga masa kekhalifahan Al-Hadi.

Harun Ar-Rasyid naik takhta tahun 786 M. Abu Yusuf yang sedang naik pamor dipromosikan menjadi hakim agung (gådhil qudhåh), yang mengepalai para hakim diseluruh kerajaan. Ini jabatan yang dikenal, baik pada masa Khulafa’ Rasyidin belum maupun Dinasti Umaiyah. Tanggung jawabnya tidak terbatas pada memutuskan berbagai perkara, tetapi juga meliputi berbagai urusan hukum seperti pada Departemen Kehakiman sekarang. Tak urung, muncul pula berbagai tuduhan miring kepada Abu Yusuf. Misalnya, ia dituduh memanipulasi hukum untuk mencari muka kepada para penguasa demi kepentingan pribadinya. Begitulah, menurut gosip, cara Abu Yusuf mendekati penguasa hingga beroleh jabatan tinggi. Tapi, seperti diungkapkan Abul A’la Al-Maududi dalam karyanya Khilafah wal Mulk, “Siapa pun yang memperoleh kedudukan tinggi dengan cara mengikuti kegemaran para penguasa, atau membuat perincian hukum yang sesuai dengan kecenderungan hawa nafsu mereka,  pasti tidak akan memiliki pengaruh moral atas mereka.

Catatan yang dikumpulkan Al-Maududi memang menunjukkan keberanian Abu Yusuf dalam menyelesaikan berbagai kasus yang melibatkan para penguasa, termasuk Harun Ar-Rasyid. Ini jelas keberanian moral yang tidak mungkin dimiliki seorang pencari muka di hadapan penguasa. Namun, mengapa sampai muncul tuduhan tidak sedap itu? Terutama pada Ar-Rasyid, Abu Yusuf sepertinya mendapati tokoh wataknya saling bertentangan. Dalam waktu bersamaan Ar-Rasyid adalah tentara yang keras, raja yang hidup bermewah-mewah, dan seorang yang berpegang teguh pada agama. Kesan bahwa Abu Yusuf hanya menyenangkan khalifah muncul karena ia hanya berusaha mempengaruhi segi keagamaannya, tanpa menyentuh kelemahan dan kekurangannya. Bobot amar makruf ini pula yang dulu ditonjolkan para ulama semasa Orde Baru.

Akhirnya, Abu Yusuf memperoleh momentum untuk melakukan reformasi di bidang pemerintahan ketika menyusun kitab Al-Kharaj atas permintaan khalifah. Dari judulnya yang memang mengesankan tentang pendapatan negara, karya monumental ini membahas hampir seluruh hal mengenai dan pemerintahan. Di situ antara lain negara,  disebutkan bahwa seorang penguasa harus sabar dan menahan diri setiap kali mendengar ucapan-ucapan yang faktual. Sebab, tidak ada yang lebih buruk dan lebih besar gangguannya  ketimbang rendahnya moral seorang pemimpin dan kekurangsabarannya. Abu Yusuf juga mengingatkan bahwa kaum Muslimin berhak meminta pertanggungjawaban si penguasa mengenai hak-hak mereka dan harta-harta yang mereka amanatkan kepada penguasa. Abu Yusuf dibolehkan menaiki yang keledainya ketika memasuki istana ini wafat tahun 182 H/798 M. Khalifah sendiri yang mengimami salat atas jenazahnya dan memimpin penguburannya.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda