Jejak Islam

Makam-makam Sultan Aceh dan Taman Sari Gunongan

Makam Sulthanah Nahrisyah di Aceh Utara sangat penting untuk merunut perkembangan raja-raja dan sekaligus silsilah raja-raja pasai. Dari makam Nahrisyah ini kita dapat mencatat paling tidak tujuh nama raja, yang dimuat dalam makam itu, yang pernah memerintah Kerajaan Samudra-Pasai.

Dari sekian wilayah Negara Kesatuan RI, barangkali Nangro Aceh Darussalam yang sebagian besar peninggalan arkeologinya berasal dari masa Islam. Tapi kalau kita runut dari data arkeologisnya, kebudayaan Aceh sebenarnya  telah mewariskan jejak-jejak manusia dari zaman prasejarah, yakni dari data-data tinggalan prasejarah di Bukit Kerang di Aceh Timur (10.000 SM-6.000 SM), khususnya di wilayah Tamiang. Selain itu, ada juga peninggalan arca Buddha dari abad ke-5 M yang kini artefaknya menjadi koleksi Museum Nasional.

Data tertua tentang kehadiran peninggalan Islam ada di wilayah Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara. Yakni makam Sultan Malikush Shaleh yang, dari data pertanggalnya, wafat pada 696 Hijrah atau 1297 M. Dari data ini dapat dipastikan bahwa Kerajaan Samudra Pasai dengan rajanya yang pertama Sultan Malikush Shaleh adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia.

A.H. Hill, yang menyunting buku Hikayat Raja-Raja Pasai, menyebutkan bahwa paling tidak Kerajaan Samudra Pasai telah berdiri pada tahun 1275 M. Hal ini dibuktikan dengan data dari berita Cina yang menyebutkan bahwa pada taun 1275 M Kerajaan Sriwijaya (Che-li –Fo-Tsi) tidak lagi mengirim duta besarnya ke Cina karena sudah digantikan oleh kerajaan Sa-wen-ta-la (Samudra).

Ini berarti bahwa Kerajaan Samudra Pasai telah memegang hegemoni kekuasaan sejak akhir abad ke-13 M yang dibuktikan dengan penggantian utusan ke Cina tadi.

Ada yang menarik dari sumber data sejarah maupun data arkeologi tentang Kerajaan Samudra-Pasai. Yakni sebuah makam kuno yang terbuat dari marmar indah yang terletak di Kutakarang, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara (Pasai). Itulah makam Sulthanah Nahrisyah.  

Makam Sulthanah Nahrisyah ternyata sangat penting untuk merunut perkembangan raja-raja dan sekaligus silsilah raja-raja Pasai. Dari makam Nahrisyah ini kita dapat mencatat paling tidak tujuh nama raja, yang dimuat dalam makam itu, yang pernah memerintah Kerajaan Samudra-Pasai.

Nama-nama raja Samudra Pasai itu adalah:

Sultan Malikush Shaleh, raja Pasai Pertama, wafat 1297 M; Sultan Mansur Malik Az-Zahir wafat 1326 M; Sultaan Muhammad Malik Az-Zahir wafat 1345 M; Sultan Muhammad Zainal Abidin; Sultan Ahmad Malik Al-Adil; Sultan Ahmad Zainal Abidin; Sultanah Nahrisyah, wafat 831 Hijriah atau 1428 M.

Data penting lainnya adalah mata uang Kerajaan Pasai. Di situs Pasai ini telah ditemukan sejumlah mata uang yang terbuat dari emas yang dikeluarkan oleh raja-raja (sultan) Pasai. Pada umumnya yang tercantum pada mata uang itu adalah nama raja (sultan). Meski yang disebut hanya Malik Al-Adil, kadang-kadang pada mata uang itu disebutkan juga angka tahun pembuatannya sehingga memudahkan untuk mengidentifikasi  oleh Sultan siapa mata uang dikeluarkan.

Abad ke-16 M adalah masa surut peran kerjaan Samudra-Pasai karena kedudukannya sudah disaingi oleh Kerajaan Aceh Darussalam yang berkedudukan di Bandar Aceh.

Sekitar awal abad ke-6 M peranan kekuasaan politik dan ekonomi kawasan Selat Malaka telah bergeser ke Bandar Malaka, pada di tahun 1511 M ditaklukkan Portugis, ke Pasai dan Banda Aceh.

Hal ini dimungkinkan karena posisi strategis geografi Banda Aceh yang berada di ujung paling utara Sumatra sehingga, mau tidak mau, wilayah itu menjadi alternatif tempat singgah pedagang-pedagang asing yang kebanyakan adalah pedagang muslim. Mereka telah mengubah pola dagangnya karena Malaka telah dikuasai oleh. Para pedagang Muslim dengan berhubungan dengan Portugis.

Akibatnya adalah beberapa bandar kerajaan muslim sekitar Malaka, seperti Banten dan kemudian Pasai dan Banda Aceh, menjadi ramai oleh kehadiran para pedagang muslim karena mereka sengaja menghindari bandar Malaka yang telah dikuasai Portugis.

Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary (1939-2006).  Semasa hidupnya dikenal sebagai arkeolog, pakar kepurbakalaan Islam. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini pernah menjabat kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Sumber: Majalah Panjimas, 30 Oktober-12 Novemberr 2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda