Adab Rasul

Jujur Refleksi Cermin Diri

Saat ini jujur menjadi barang langka. Di zaman now saat digitalisasi merebak di mana-mana, kejujuran menampilkan apa adanya menjadi sesuatu yang aneh. Efek beautifikasi kamera ponsel merebak, mengubah wajah yang biasa-biasa saja menjadi cantik dan ganteng dalam sekejap. Padahal aslinya jauh dari tampilan aslinya. Tak hanya itu, orang juga banyak menampilkan diri sebagai orang sukses dan banyak duit dengan tampilan crazy rich. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Jujur selalu terkait dengan hati. Sikap ini adalah lurus hati, tidak berbohong, dan berkata apa adanya. Jujur juga berarti tulus dan ikhlas, jauh dari kata dibuat-buat atau ingin memperoleh pamrih. Dapat dibayangkan bila semua orang, mulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan semua menerapkan kejujuran, dunia bakal menjadi lebih indah dan damai. Dengan jujur, hidup lebih teratur dan tenang. Risiko hidup siap ditelan asal tetap istiqomah di jalur kejujuran. Betapa banyak orang kerap berbohong karena takut dipecat dari pekerjaan, takut pada atasan, takut ketahuan, takut tidak diterima lingkungan dan sebagainya. Padahal tidak ada satupun yang dapat lepas dari pantauan Allah SWT.

Rasullah SAW sudah mengingatkan bahwa kejujuran sebanding dengan kebaikan yang kita lakukan. Rasulullah bersabda, “Ucapkanlah perkataan jujur, sesungguhnya kejujuran itu menuntun seseorang kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menuntun kepada surga “ (HR Bukhari dan Muslim). Jelas, jujur adalah refleksi cermin diri dari seseorang. Orang bisa bohong pada tampilan luarnya, tetapi tidak dapat berbohong dengan hati nuraninya yang paling dalam. Hadits nabi lainnya adalah dari Abi Hurairah, ia berkata “ Rasulullah bersabda : Orang mukmin itu jujur dan juga mulia sedang orang faajir (orang yang hanyut dalam kemaksiatan) itu penipu dan juga hina.”

Jujur adalah refleksi dari keimanan seseorang. Sejatinya,ketika seorang muslim menjadi hamba yang beriman, sikap jujur adalah bagian tak terpisahkan darinya. Sungguh aneh ketika seseorang merasa beriman lalu banyak berkata atau berbuat tidak jujur. Selain tidak klop, perlu ditanyakan kadar keimanannya. Apakah sekadar pemanis bibir belaka, atau sesungguhnya ia telah berbohong, menipu dirinya sendiri, dan tidak jujur dengan menyatakan beriman?

Kita juga tidak perlu silau dengan pernyataan atau omongan yang mengaku-aku sebagai sebuah kejujuran. Karena sejak jaman baheula, ukuran kejujuran itu berlaku terus yakni tidak mengingkari nurani terdalam manusia. Kalau sudah nurani diabaikan, kata jujur pun laksana pemulas bibir belaka.

About the author

Ahmad Lukman A.

Berpengalaman menjadi wartawan sejak tahun 2000 dimulai dengan bergabung di Majalah Panji Masyarakat. Lalu, melanjutkan karir di media berbasis teknologi mobile. Lulus dari S2 Ilmu Komunikasi UI dan memiliki antusiasme pada bidang teknologi dan komunikasi.

Tinggalkan Komentar Anda