Tasawuf

Misteri Kematian (1)

Written by Panji Masyarakat

“Setiap jiwa (pasti) merasakan kematian.” (Q. 3:185). Banyak darikita yang takut mati. Tapi tidak sedikit pula yang mengharapkan kehadirannya, segera. Sejak dulu kematian memang menjadi salah satu topiknya cukup sentral di kalangan agamawan. Termasuk para sufi. Bagian ketiga dari seri tulisan tentang kematian dari sudut pandang tasawuf.

Kematian menyimpan banyak misteri bagi kebanyakan manusia. Akal kita hanya dapat melihatnya sebagai satu-satunya kemungkinan yang kehadirannya akan merampas semua kemungkinan yang ada. Kaum agamawan menanggapinya dengan memanfaatkannya sebagai nasihat yang ampuh untuk memperbaiki kualitas kehidupan dan menempatkannnya sebagai masalah paling sentral dalam ajarannya.

Secara substansial kematian hanyalah sisi lain dari kehidupan. Bila sisi yang satu tiada, sisi yang lain tak akan muncul. Setiap makhluk hidup sejak semula telah mendukung kematiannya sendiri. Meskipun demikian kematian tetap merupakan sesuatu yang ditakuti orang.

Pertanyaan yang muncul adalah siapa sebenarnya yang menyimpan misteri: kematian atau manusianya? Menurut ajaran tasawuf, insanlah rahasia Allah, sedang kematian hanya the milestone of human life (tonggak dari kehidupan manusia) yang segera akan disusul oleh perjalanan hidup selanjutnya.

Momen Penobatan

Kaum sufi memberi makna pada kematian sebagai momen penobatan seseorang untuk menjadi raja yang sebenarnya. Dengan demikian “kematian” tak lain adalah saat ketika seseorang mulai melaksanakan peran ketuhanannya di muka bumi.

Kematian jasmaniah tidak dianggap sebagai kematian karena tidak menawarkan perubahan yang bermakna. Seorang penjahat tidak akan berubah menjadi baik dengan datangnya kematian jasmaniah . “Dan siapa yang buta di dunia ini, ia akan buta pula di akhirat, dan bahkan lebih sesat lagi jalannya.” (Qs 17:72).

Tawaran makna kematian yang lebih bermakna bagi kehidupan manusia oleh ahli tasawuf akan menjadi semakin jelas dengan pernyataan berikut ini: “Bila kita ‘hidup’, Allah akan ‘mati’. Bila kita ‘mati’, Allah akan ‘hidup’. ”

Bagi para sufi, apa yang disebut “kenyataan” adalah medan tempat Yang Mahanyata menyatakan diri. Ia menyatakan Diri dalam rangka memberikan pelayanan, pengembangan, dan perlindungan kepada makhluk-Nya (Rabbul Alamin). Kenyataan yang berwujud benda-benda, manusia, dan berbagai peristiwa memiliki dua wajah: ciptaan dan amar. Ketika seseorang menghadapi kenyataan dan yang tampak olehnya sisi “ciptaan”-nya, ia akan bersemangat untuk hidup, dengan berupaya mengungkapkan segala fasilitas yang tersimpan di dalamnya. Apabila yang tampak olehnya sisi amarnya (amrullah), ia akan kehilangan hak untuk menyentuhnya menurut kemauan sendiri. “Sungguh, milik Allahlah ciptaan dan amar itu. Maha berkah Allah, Pengurus semesta alam”  (QS 7:54). Menyaksikan “amar” yang melatarbelakangi setiap “ciptaan” itulah yang disebut menyaksikan (musyahadah) Wajah Allah, yang oleh para sufi dipandang sebagai sebuah kematian agung yang bernuansa abadi.

Ke mana saja engkau menghadap, di sana terdapat Wajah Allah” (QS 2:115).

Keadaan seseorang yang telah menyaksikan Wajah Allah (Wajhullah) memang persis seperti keadaan orang yang telah meninggal. Ia akan tampil tanpa mempertahankan martabat dan harga dirinya dan tidak pula bersandar pada apa yang telah dimilikinya. Baik itu harta, ilmu pengetahuan, amal dan perbuatan, maupun prestasi-prestasinya. Ia tak lagi terpesona oleh apa pun, tidak pula meminta sesuatu pun. Bahkan tidak pernah mengadu perihal apa pun. Sehingga ia tak lagi jinak kepada apa dan siapa pun karena ia telah mendapatkan Allah yang tak tertandingi oleh apa dan siapa pun. Saat itulah seruan Allah dapat dipahami. “Hamba-Ku, taatlah kepada-Ku dalam apa yang Kuperintahkan kepadamu. Jangan mengajari-Ku dengan apa Aku memperbaikimu (Hadis Qudsi). 

Penulis: Muhammad Zuhri (1939-2011), guru sufi dan sekaligus pelukis; terakhir menetap di Pati, Jawa Tengah.[Lihat “Pak Muh alias Mad Gambar” https://panjimasyarakat.com/2020/01/07/pak-muh-alias-mad-gambar/]. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 8 September 1999.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda