Bintang Zaman

Washil ibn Atha’ (1): Pendiri Aliran Mu’tazilah

Written by Panji Masyarakat

Bersama sejumlah pengikut, murid Hasan Al-Bashri ini menyempal dari halaqah gurunya, menyusul perbedaan pendapat dengan sang guru besar. Yakni tentang status seorang muslim yang melakukan dosa besar.

Khazanah keilmuan Islam, dalam rentang sejarah, mengenal banyak tokoh yang tampil mandiri dari gurunya. Tapi, justru dari kemandirian itu – dari protes atau perbedaan pendapat dengan guru mereka itu – terlahir banyak mazhab atau aliran, yang kemudian memperkaya khazanah keilmuan Islam.

Di bidang fikih, misalnya, kita kenal Imam Syafi’i, yang merupakan murid kesyangan Imam Malik, pendiri mazhab Maliki. Imam Syafi’i pun punya murid kesayangan yang kemudian mendirikan mazhab  Hambali. Yakni  Imam Ahmad ibn Hanbal.

Di bidang ilmu kalam, teologi Islam, ada Abul Hasan Al-Asy’ari, murid Al-Juba’i, seorang tokoh aliran Mu’tazilah. Sang murid konon merasa tidak cocok dengan pandangan gurunya itu, lalu membentuk aliran sendiri yang kita kenal sekarang dengan nama Asy’ariah, yang menjadi panutan warga NU, di samping  Al-Maturidi. Pendiri Mu’tazilah sendiri adalah Atha’ ibn Washil, yang dulunya terlibat perbedaan pendapat dengan gurunya. Yakni Hasan Al-Bashri, ulama terkemuka dan sufi besar di Bashrah, Irak.

Syahdan, dalam suatu majelis, bertanyalah seorang murid kepada Hasan Al-Bashri mengenai status muslim yang melakukan dosa besar. Belum lagi sang guru menjawab, tiba-tiba muridnya yang lain, ya Washil tadi,  menjawab bahwa orang itu tidak bisa disebut kafir karena syahadatnya, tapi juga tidak disebut mukmin lantaran perbuatannya itu. Tak ayal, dengan pendapatnya ini Washil dianggap sudah menarik diri dari lingkaran (khalaqah) sang guru, yang berpendapat bahwa pendosa besar itu masih seorang mukmin, meski fasik alias pendurhaka. “I’tazala ‘anna (dia menarik diri dari kita),” kata Hasan. Dari ucapan itulah (“i’tazala”), para pengikut disebut mu’tazialah (bentuk ajektif dari i’tazala).   

Mantan Budak

Tokoh kita ini bernama lengkap Abu Huzaifah Wahil ibn Atha’ Al-Ghazzl al-Atsagh. Ia lahir di Madinah pda 80 H/699 M dan wafat di Bashrah pada 131 H/748 M. Ada pula yang menyebut tahun meninggalnya 180 H. Tidak banyak diketahui mengenai sejarah masa kecil dan riwayat pendidikannya. Hanya ada riwayat menyebutkan dia terlahir sebagai seorang budak yang kemudian dimerdekakan tuannya. Tentang siapa maula alias sang tuan terdapat tiga pendapat,  yaitu dari Bani Dhabah, Bani Makhzum, atau Bani Hasyim. Yang terakhir dianggap paling mendekati kebenaran.

Washil lalu pindah ke Bashrah, tempat yang dia rasa sangat tepat untuk belajar akidah dan pengetahuan Islam lainnya. Inilah kota yang penduduknya akrab dengan pikiran rasional dan ilmu pengetahuan sejak zaman pra-Islam. Di sana ia menjadi murid Abu Hasyim Abdullah ibn Muhammad ibn Al-Hanafiyah (Mhammad ibn Al-Hanafiyah adalah putra Ali ibn Abi Thalib. Ibunya bernama Khaulah binti Ja’far dari Bani Hanafiyah, red). Dan tentu saja, Hasan Al-Bashri, yang juga lahir di Madinah pada 21 H, pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Khattab. Sang guru juga berasal dari keluarga budak yang kemudian dimerdekakan. Hasan banyak bergaul dengan para sahabat Nabi, belajar, dan meriwayatkan hadis dari mereka. Dia dikenal sebagai ulama wara’ yang melakukan oposisi moral kepada penguasa (Dinasti Umaiyah).

Bersambung       

Penulis: Dr KH Hodri Ariev, kini pengasuh Pondok Pesantren  Mambaul Ulum, Jember, dan dosen UIN Sunan Ampel,Surabaya. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 8 Desember 1997

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda