Tafsir

Tafsir Tematik: Siapakah Umat Terbaik? (1)

Written by Panji Masyarakat

Adalah kamu umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah…….. (Q. 3: 110).

Ini pasangan ayat Q. 3: 104: “Hendaklah ada dari kalian suatu umat yang memanggil kepada kebaikan dan memerintahkan yang makruf serta mencegah dari yang mungkar…….” Karena itu, persambungan antara kedua ayat bisa dilihat sebagai semacam hubungan sebab-akibat: pelaksanaan perintah dalam ayat terdahulu itu menyebabkan para pelaksanaannya diberi predikat ‘umat terbaik’. (Thusi, II: 556).

Adapun pemakaian adalah,  dalam ”adalah kamu umat terbaik”, sementara sebenarnya  bisa juga dipakai kata-kata “kamulah umat terbaik”, tak lain (kalau anda setuju, sebab ini subjektif) untuk kemungkinan penggunaan kata tersebut bagi lebih dari satu waktu kejadian (tense). “Adalah kamu umat terbaik” rasanya bisa memberikan kesempatan penunjukan masa lampau (past tense), meski bisa bersambung (continuous) dengan waktu sekarang, dibanding “kamulah umat terbaik” yang lebih menunjuk hanya waktu sekarang (present tense).

Setidak-tidaknya memang dipersoalkan, dalam debat semantik teks aslinya, mengapa pembuka ayat itu bersembunyi kuntum khaira ummah (we were the best community, meski bisa sekaligus we are…. dst.) dan bukan antum khairu ummah (we are the best community). Dan jawabanya memang menunjukkan perbedaan pemahaman sehubungan dengan waktu.

Pertama, dengan pemakaian kuntum (we were) yang menunjuk masa lalu itu, umat  Muhammad dituturkan sebagai umat terbaik sejak awal kejadiannya. Sebagian mufasir lalu menghubungkan masa awal itu dengan Lauh Mahfuzh. (Thusi, II: 557). Misalnya Fakhruddin Ar-Razi (Razi, VIII: 193).  Termasuk menunjuk masa awal (bahkan azal, tanpa awal)  adalah kalimat dari yang menafsirkan ayat itu sebagai “kamu, dalam pengetahuan Allah, umat terbaik” (Zamakhsyari, I : 454).

Kedua, berita tentang umat terbaik ini sudah terselip dalam kitab-kitab lama, sebagai warta-warta gembira, seperti dikatakan Al-Hasan (Thusi, loc, cit.).  Razi bisa memberikan contoh dari pihak Alquran  (48: 29): ”…. Kaulihat mereka (umat Muhammad ) rukuk dan sujud, mencari anugerah dari Allah  dan keridhaan. Tanda mereka ada di wajah mereka: bekas tindakan sujud. Demikianlah amsal mereka di dalam Taurat dan amsal mereka di dalam Injil: bagai tanaman yang mengeluarkan tunasnya……” (Razi, VIII: 194).

Berdasarkan hal itu, “Kitalah umat terakhir dan yang paling mulia dalam pandangan Allah”, kata Al-Hasan. Ini sebenarnya pengulangan sabda Nabi s.a.w. (Ahmad, Turmudzi, Ibn Majah, dan Al-Hakim; pen), “Kamu ini melengkapi jumlah tujuh puluh umat. Kamulah yang terbaik dan paling mulia dalam pandangan Allah”. (Thusi, loc.cit).

Pangeran Hamlet

Ketiga, kuntum (‘adalah kamu’, ye were) berasal dari kaana — kata kerja bentuk lampau. Arti kaana, sebenarnya, dua buah: ‘ada’, dan ‘menjadi’. Untuk yang kedua, ia sinonim shaara. Ini memang seperti kata Inggris to be. Kalimat Pangeran Hamlet dalam Hamlet Wiliam Shakespeare, dramawan klasik Inggris, “To be or not to be, that is question,” bisa diterjemahkan, seperti oleh Rendra atau Trisno Sumardjo, “Ada atau tiada, itulah soalnya.” Tapi bisa juga: “(Menjadi atau tidak (men)jadi, itu persoalannya.”

Nah. Sejauh ini, kaana (yang menjadi kuntum) diartikan sebagai “ada (lah)”. Tapi kuntum  dalam ayat ini, menurut pendapat ini, sebenarnya hanya berstatus penambah (zaaidah), yang boleh saja tak ada. Buktinya bisa didapat dari contoh lain — misalnya, ayat  yang memakai kaana: Waa kaana-llaahu ghafuurun rahiimaa (Q. 4:96). Meski kaana kata kerja bentuk lampau, arti ayat ini bukan “ Dahulu Allah adalah Maha Pengampun Maha Pengasih”, melainkan sama dengan pada Q. 2 : 218: Wallahu ghafuurun rahiim: “Allah adalah Maha Pengampun Maha Pengasih “sejak dulu”, (Lih, Thusi).

Begitu pula mengenai “Adalah kamu umat terbaik”. Sebab, dari jurusan lain, seperti dikatakan Razi, meski kaana dalam kuntum berhubungan (menurut dia) dengan Lauh Mahfuzh, “itu tidak menunjukkan adalah keterputusan yang tiba-tiba (dengan kekinian; pen.)” (Razi, VIII: 194). Sehingga, dilihat dari segala masa, bisa saja “seakan-akan ayat ini mengatakan, ‘Kamu didapati sebagai umat terbaik.” (Zamakhsyari, loc. cit.).

Keempat, kalau kaana diartikan ‘menjadi’ (pendapat paling lemah, menurut Rasyid Ridha, meski bukan implikasi pendapat itu sehubungan dengan ‘umat terbaik’ dan amar-nahi; lih. Rasyid, IV: 58). Maka pemahamannya: umat Muhammad menjadi umat terbaik karena mereka memerintahkan yang makruf, mencegah (orang) dari yang munkar dan beriman kepada Allah. (Razi, IV: 195). Ini sama dengan kata-kata Mujahid jauh sebelumnya : “Kamu umat terbaik kalau kamu melaksanakan kandungan ayat mengenai amar makruf, nahi munkar dan iman kepada Allah, serta beramal menurut yang diwajibkan-Nya.” (Thusi, loc, cit.).       

bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  25 November  1998.      

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda