Pengalaman Religius

Dewi Hughes (6): Yang Berbau Kemenyan Semua Hilang

Written by Asih Arimurti

Doa-doa yang dimohonkan Dewi Hughes ketika menjalankan ibadah umrah, rupanya dikabulkan Allah. Selain terbebas dari pengaruh ilmu hitam, diberikan suami yang penyayang, dan diangkat derajatnya, dia memohon agar bisa cepat bisa baca Alquran. Yang terakhir ini hampir  terlupakan oleh kegiatan rutin, sebelum akhirnya Allah mengingatkan.    

DI Tanah Suci ada tiga permintaanku kepada Allah. Pertama, aku memohon agar Allah menjauhkan aku dari pengaruh ilmu hitam. Sebab seringkali aku mengalami kehilangan lipstick, jepitan rambut, pulpen, pendeknya semua yang penting-penting bisa berubah tempat sehingga bisa membuat aku marah. Di dalam rumah ada bau kemenyan di mana-mana. Aku tak tahu apakah si pemilik ilmu hitam itu hanya iseng atau berusaha menakut-nakuti agar aku berobat padanya. “Ya Allah, berikan aku kekuatan cukup dengan doa saja, agar yag seperti itu cepat pergi.”

Begitu pulang umrah, di rumah yang biasanya berbau kemenyan semuanya lalu hilang setelah saya membaca ayat Kursi.

Doa kedua, aku meminta kepada Allah agar menaikkan derajatku, supaya aku bisa mengangkat derajat keluargaku. Karena kami sekeluarga seluruhnya perempuan. Ayah sudah tidak ada, sehingga orang-orang suka meremehkan kami.

Selama menjalankan ibadah umrah, dapat dikatakan semua jajanan tidak pernah aku beli. Seluruhnya diber oleh Tante Mince. Kegembiraan lain juga diberikan saat aku akan kembali ke Tanah Air. Tanpa kuduga saat berdesakan memasuki bandara Jeddah, seorang laki-laki tiba-tiba memanggil … Uges… Uges. Eh. Teryata dia teman kakakku. Dia heran kok aku pergi umrah sendirian. Yang tidak aku duga, tiba-tiba dia menyodorkan uang sebanyak 500 real.

Waktu aku bertemu lagi dengan beliau, aku ditanya apakah aku sudah membeli oleh-oleh. Aku jawab belum, sambil memperlihatkan uang yang diberinya masih utuh. Dia heran, kemudian menyarankan agar aku tidak membawa pulang uangnya tapi membelanjakannya di sini (Jeddah). Lalu aku pun belanja macam-macam minyak wangi serta oleh-oleh lainnya.

Nah, doa yang ketiga, Hughes minta diberi jodoh. Diberi laki-laki yang benar-benar sayang sama Hughes sekaligus menjadi pembimbing untuk  masalah agama. Dan alhamdulillah terkabulkan. [Hughes menikah dengan Achmad Hestiafin Tachtiar Arifin (Avin), kelahiran Palembang, 28 Desember 1970, pada 2001, red].

Juga, aku sempat berdoa di sana, memohon, “Ya Allah, sungguh bodohnya saya, saya buta huruf. Kalau saya pulang nanti, saya mau belajar tulisan Arab, bahasa Arab. Dan jika aku kembali lagi ke Tanah Suci ini, saya akan baca tulisan-tulisan yang ada di sini.” Jadi, waktu saya umrah itu, saya belum bisa bca-tulis Arab. Benar-benar buta huruf. Malu-maluin deh. Setiap jalan, terbengong-bengong sendiri, ini bacaannya apa, bunyinya bagaimana. Apalagi kalau janjian di sebuah jalan. Jalannya yang bagaimana tulisannya? Wah, pokoknya seru deh. Aku sampai berpikir, iya ya, katanya orang Islam, kok nggak bisa baca tulisan Arab. Katanya, kitab sucinya Alquran yang pakai bahasa Arab, kok nggak bisa baca?

Tapi, waktu pulang, lupa. Nnggak ingat lagi. Serasa kembali ke dunia nyata. Nah, suatu ketika, siang hari, di daerah Jalan Fatmawati (Jakarta Selatan), tepat di belokan, aku membaca plang yang bertuliskan: “Belajar Membaca Alquran 8 jam langsung bisa”. Gila kan, di daerah yang padat begitu tiba-tiba pandanganku langsung ke plang itu. Wah, kayak-nya aku diingatkan pada janjiku dulu di Tanah Suci. 

Ya, sudah, aku pun langsung telepon. Gurunya datang ke rumah, langsung privat. Jadi, saat menikah aku sudah bisa baca Arab dan tinggal dilanjutkan sama Kakak (suami, red). Kami belajar bareng.***          

Ditulis bersama Akmal Stanzah (almarhum). Sumber: Panjimas, 16-29 Oktober  2002    

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda