Muzakarah

Imam Salat Menyusun Ayat

Written by Panji Masyarakat

Pekan lalu saya salat Jumat di sebuah masjid dekat rumah. Suara imam cukup merdu, dan bacaannya juga fasih. Tapi, setelah saya perhatikan, ada yang tak lazim. Rupanya, pada rakaat pertama, dia mencomot sejumlah ayat dari surah berbeda, yang temanya sama, tanpa diselingi basmalah (Bismillah) atau ta’awudz (A’udzu billah). Wah, seperti ceramah saja, pikir saya. Eh, pada rakaat berikutnya, dia lagi-lagi memilih ayat-ayatnya yang sama temanya, dari berbagai surah. Kali ini temanya beda dengan rakaat pertama. Apakah mengimami semacam itu dibolehkan? Kalau tidak boleh, apakah salatnya batal?

Sholihin, Cibubur, Jakarta Timur

Jawaban KH Ali Musthofa Yaqub

Kita sebaiknya mengikuti yang dicontohkan Nabi. Nabi kadang-kadang membaca surah-surah pendek, kadang membaca yang agak panjang. Kalau mengambil ayat-ayat tematis semacam yang Anda tanyakan, setahu saya belum pernah dicontohkan Nabi.

Membaca ayat tematis yang panjang — misal mengenai utang-piutang pada akhir Al-Baqarah — kalau itu saja yang dibaca, insya Allah tidak ada masalah. Meskipun begitu, kata ulama, sependek-pendeknya surah masih lebih utama dibanding membaca satu atau beberapa ayat meskipun panjang. Satu surah, meski pendek, secara totalitas maknanya sudah sempurna. Sedangkan kalau membaca sebuah ayat saja, meskipun panjang, itu mungkin belum tuntas pembahasannya karena masih ada kelanjutannya pada ayat berikut atau sebelumnya.

Memilih ayat tematis asal pembahasannya tuntas (dan dari satu surah) saya rasa tidak ada larangan. Boleh-boleh saja. Hanya saja, kalau itu mencomot sekelompok ayat dari beberapa surah, ini mengada-ada. Tak ada contoh dari Nabi.

Jangan salah. Alquran memang tidak seperti buku yang disusun secara sistematis, berdasarkan tema. Ayat-ayat Alquran, kita tahu, turun secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Terkadang, sekali turun satu surah sekaligus, terkadang cuma beberapa ayat, terkadang hanya satu ayat, bahkan kadang cuma sepenggal ayat. Tapi, penempatan ayat-ayat tersebut, seperti yang kita baca sekarang, adalah berdasar petunjuk Nabi sesuai dengan bimbingan wahyu pula — dalam istilah ahli ilmu Alquran itu disebut taufiqi. Dan meski hasilnya kemudian tidak sistematis dilihat dari sisi tema-temanya, justru di situlah terletak kekuatan Alquran, baik dari segi kandungan isi (yang menurut Allah tinta samudera pun tidak cukup untuk mencatatnya) maupun kesusastraannya. Jadi, kita tak bisa seenaknya mengubah susunan ayat-ayat Alquran. Kalau untuk maksud kajian tafsir, pengelompokan ayat-ayat tematis masih boleh dilakukan. Tapi membaca dalam salat itu kan tidak sama dengan mengkaji. Nanti sama dengan diskusi.

Pahami apa tujuan salat. Memilih-milih  ayat berdasarkan temanya lebih baik ditinggalkan karena bisa menyimpang dari tujuan salat.  Sasaran salat kan “Aqimush shalaata li dzikrii”,  dirikanlah salat dalam rangka zikir kepada Allah. Zikir pengertiannya banyak: menyebut nama Allah, meningat Allah, dan salat. Ada lagi yang lebih umum, lebih luas,  zikir adalah mengerjakan perintah-perintah Allah, mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya, meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Itulah tujuan salat.

Tanda-tanda orang yang masuk surga adalah yang khusyuk salatnya. Khusyuk bisa juga diterjemahkan berkonsentrasi dalam rangka menghadap Allah, bukan konsentrasi kepada jamaah salat atau yang lain. Kita memang dianjurkan sekali membaca Alquran sembari merenungkan maknanya, termasuk dalam salat, dalam arti membaca  ayat-ayat dari satu surah secara berurutan, bukan mencari-cari dari beberapa ayat, lalu disatukan.

Anjuran saya, tinggalkan cara salat semacam itu. Anjuran ini lebih karena kekhawatiran akan mengganggu konsentrasi salat. Apalagi, kalau yang demikian menjadi mode, bisa-bisa tujuan salat tak terpenuhi. Kalau yang begitu jadi ngetren, tujuan salat jadi nomor dua. Seharusnya, bacaan dalam salat kan dilakukan secara khusyuk untuk beribadah. Kalau sang imam melakukan pilihan ayat-ayat tematis saat mengimami, tujuannya bisa pindah seakan-akan mau diskusi dengan tema tertentu. Salatnya sendiri tidak batal, tapi perbuatan itu akan memindahkan konsentrasi.

*Prof. Dr. KH Ali Musthofa Yaqub (1952-2016), pengasuh Ma’had Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Jakarta. Guru besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) ini pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, dan anggota Komisi Fatwa MUI Pusat.  Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 13 Oktober 1999.       

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda