Jejak Islam

Ziarah Kepada Leluhur Penyebar Islam di Nusantara (4)

Written by Panji Masyarakat

Seni rancang bangun dan seni hias makam adalah produk seni yang bersifat elitis dan  terbatas karena  produk seni tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan harkat, martabat, kesaktian, dan magi serta kharisma raja. Sebab, raja sekaligus menjadi  pengatur dan pelindung agama, khalifah  Allah untuk urusan dunia dan agama, serta sekaligus menjadi sandaran harapan serta penyambung rahmat. Karena itu pula makam mereka menjadi pusat peziarahan.

Melompat dari Prasejarah ke Zaman Sultan

Terdapat dugaan, gejala simbiosis tersebut merupakan rendahnya pengaruh anasir budaya yang yang bercorak Hinduistis. Sehingga, dalam perjalanan sejarah kebudayaannya mengalami semacam “lompatan” dari fase prasejarah ke fase Islam, meskipun terdapat “celah” masuknya anasir budaya Hinduistis akibat kontak-kontak yang terjadi. Di samping itu, daerah Sulawesi Selatan mengembangkan kreativitas lokal, baik dalam varian nisan berbentuk “hulu keris” , yang banyak dijumpai di Sumatera Barat, nisan dengan penuh hiasan floralistik dan acapkali bersifat antropomorfik, yang juga dijumpai di Barus, Selaparang, Bima dan Ternate, maupun bingkai nisan dalam bentuk “gunungan” yang juga dijumpai di Madura, Gresik, Selaparang Lombok dan Bima. Tetapi nisan varian “hulu keris” memang amat menonjol di Sulawesi Selatan, yang diperkaya baik dengan hiasan-hiasan floralistik, geometris, maupun kaligrafi.

Kreativitas lainnya di Sulawesi Selatan adalah dipahatkannya aksara lontara dan kadang-kadang bersamaan dengan aksara Arab pada sejumlah nisan. Hal yang sama, meski sedikit lain, tampak di Troloyo (aksara Jawa), Bima dan Ternate (aksara Arab bahasa Melayu). Jadi, bagaimanapun, corak lokal merupakan wujud dari “kebebasan” seniman ataupun “model” yang dikembangkan dalam mengekspresikan cita rasa keseniannya. “Kebebasan” tersebut tentu dipengaruhi otoritas elite yang memesan atau menggunakan karya seni. Seni rancang bangun Islam Nusantara, sebagaimana pendahulunya, merupakan seni istana yang memayungi kebesaran raja beserta sistem yang di bawahnya. Di sini pula dapat dikatakan bahwa permanensi etnologis tetap berlangsung, apa pun intensitas serta tingkat keberagaman anasir asing yang masuk ke dalam tatanan budaya setempat.

Kerajaan Islam lain di wilayah Indonesia Timur adalah Selaparang, Bima, Ternate, dan Tidore.

Di Pulau Ternate terdapat dua kompleks makam kesultanan, yaitu yang terletak di Foramadyahe (Sultan Baabullah serta Sultan Khairun), dan kompleks makam di dekat Masjid Agung Ternate (para sultan yang memerintah pada abad ke-17-20 M). pada kompleks makam pertama, nisan-nisan tak berhias (plain), sementara pada yang kedua terdapat hiasan yang sangat beragam, baik berupa kaligrafi maupun pahatan motif floral, maupun yang berbentuk antropomorfik. Angka tahun tertua di kompleks kedua ini adalah abad  ke-17 M dan yang termuda adalah tahun 1941 (tahun wafat sultan Ternate terakhir). Pola hias floralistik  nisan Ternate adalah khas Ternate, yang memiliki pola persamaan dengan pola hias Poinesia. Salah satu makam tertua Ternate adalah makam Sultan Sirajul Mulk Amiruddin Iskandar Qaulain yang wafat pada hari Sabtu 10 Syawal 1213 atau 13 Maret 1799 M.

Jadi, pada dasarnya, seni rancang bangun dan seni hias makam adalah produk seni yang bersifat elitis, yang diterapkan pada makam kalangan atas dan raja (necropole), terbatas (bukan kemasan), karena produk seni tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan harkat, martabat, kesaktian, dan magi serta kharisma raja. Sebab, raja sekaligus menjadi  pengatur dan pelindung agama (sang panatagama), khalifah Allah untuk urusan dunia dan agama, serta sekaligus menjadi sandaran harapan serta penyambung rahmat. Oleh karena itu, tidak jarang banyak makam sultan Islam di Jawa dan Nusantara umumnya menjadi pusat peziarahan, sekaligus mengharapkan ridha dan keberkahan raja.       

Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary (1939-2006).  Semasa hidupnya dikenal sebagai arkeolog, pakar kepurbakalaan Islam. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini pernah menjabat kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Sumber: Majalah Panjimas, 27 Novemberr- 12 Desember  2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda