Adab Rasul

Berbicara Baik Terhindar Neraka

Era informasi seperti saat ini memungkinkan semua orang berbicara sebebas-bebasnya. Atas nama kebebasan, setiap orang dapat mengemukakan pendapat dan opininya. Entah itu, pendapatnya benar atau salah, dapat dipertanggungjawabkan atau tidak, atau menyakiti orang lain, bodo amat. Yang penting mereka dapat eksis.

Salah satu yang jelas di depan mata adalah ketika masyarakat berpandangan di media sosial. Jempol pun mengambil alih peran mulut, bahkan ketika mulut diam jempol masih menari dengan kata-kata serapah, tidak baik, mengintimidasi, bahkan sampai taraf cyberbullying atau perundungan di dunia maya. Menurut UNICEF, perundungan siber adalah perilaku berulang yang ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran menggunakan platform digital. Perilaku tidak berbicara baik di platform digital seperti sosial media menjadi sebuah keniscayaan ketika cyberbullying terjadi.

Padahal, Allah SWT telah memerintahkan semua orang untuk berkata-kata baik karena inilah aturan dasar dalam berbicara dengan orang lain. Tentu saja, termasuk berbicara di media sosial. Allah berfirman, “Katakanlah kepada hamba-hambaku hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” (Q.S. Al-Isra : 53). Kata-kata yang baik akan mengubah kedengkian menjadi kasih sayang. Dengan berkata yang baik maka artinya kita telah meninggalkan bisikan dan arahan setan.

Kata-kata yang baik menjadi indikasi kebaikan hati pengucapnya. Sebaliknya, kata-kata yang buruk dan terhambur ke orang lain memberikan indikasi keburukan pengucapnya. Bahkan kata Rasulullah SAW, kata-kata yang baik akan melindungi kita semua dari siksaan api neraka. Nabi Muhammad SAW berkata, “Hindarilah api neraka, walaupun dengan (mendermakan) sepotong kurma. Jika kalian tidak menemukannya, maka dengan kata-kata baik” (HR Bukhari dan Muslim). Dari Abu Hurairah r.a Rasulullah bersabda. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”

Dari petunjuk dan teladan Rasulullah tersebut semestinya semua orang dapat menjaga diri untuk selalu dapat berbicara baik. Dalam konteks kekinian, ketika sosial media merebak berikut perundungan siber yang mengikutinya, berbicara baik menjadi cermin perilaku akhlak seorang muslim. Apapun yang dibicarakan entah itu di dunia nyata maupun dunia maya seperti media sosial punya pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Kalau tak bisa berkata baik, maka lebih baik diam. Kalau tetap berkata buruk, maka siksa api neraka nan pedih siap-siap menyergap.

About the author

Ahmad Lukman A.

Berpengalaman menjadi wartawan sejak tahun 2000 dimulai dengan bergabung di Majalah Panji Masyarakat. Lalu, melanjutkan karir di media berbasis teknologi mobile. Lulus dari S2 Ilmu Komunikasi UI dan memiliki antusiasme pada bidang teknologi dan komunikasi.

Tinggalkan Komentar Anda