Tasawuf

Menonton Film Sambil Mati

Written by Panji Masyarakat

Kematian, sejak dulu, sudah menjadi salah satu topik yang cukup sentral di kalangan agamawan, termasuk para sufi. Ternyata, orangorang modern pun menaruh perhatian yang besar pada soal ini. Di negaranegara maju banyak sudah buku yang ditulis untuk menyingkap rahasianya. Mengingat pentingnya masalah ini, kami menayangkan serial tulisan tentang kematian dalam perspektif tasawuf. Pada bagian kedua ini kami sajikan tanya jawab guru tasawuf Muhammad Raheem Bawa Muhaiyyaddeen dengan seorang muridnya di Philadelphia, Amerika Serikat.

Tidak diketahui kapan dia dilahirkan. Juga oleh siapa dan di mana. Dia sendiri tak pernah mau bicara masa lalunya. Yang orang tahu, pada 1914 Muhammad Raheem Bawa Muhaiyyaddeen keluar dari sebuah hutan di Srilanka. Dan pada 1971 oleh murid-murid bule-nya dari AS ia diboyong ke Philadelphia. Di sana tiap akhir pekan berdatangan banyak orang. Bahkan pendeta Nasrani dan rabbi Yahudi pun hadir untuk bertanya. Salah satu topik yang banyak ditanyakan adalah soal kematian, dan berikut ini salah satunya.

Apa yang terjadi pada ruh dan jasad di kala mati?

Ada tiga periode dalam kehidupan seseorang yang memunculkan keelokan khas pada wajahnya: ketika ia masih kecil, selama masa remaja, dan saat kematiannya.

Bagaimana mungkin ada keelokan padahal ruh sudah meninggalkan jasad?

Bagaimana kamu tahu bahwa ruh telah meninggalkan jasad? Apa kamu melihatnya ketika masih ada dalam tubuh?

Tidak pernah.

Ruh akan ada di tempat ia seharusnya bersemayam. Sekarang ia melakukan tugasnya dan masih bekerja, tapi setelah kematian ruh akan beristirahat—–sampai jasad dibawa ke kuburnya. Orang yang dijemput ajal keadaannya seperti orang yang mati rasa, seperti orang yang habis menghirup obat bius—sampai ia dikuburkan. Mata bisa melihat benda apa pun, telinga dapat mendengar suara apa saja, mulut tahu apa yang hendak diucapkan, tapi lidah tak sanggup bicara. Segala hal bisa dia pahami dan mengerti. Semua rahasia diketahuinya, tapi napas telah berhenti. Kamu bisa melihat semua orang disekitarmu, mereka yang menangis, mereka yang tertawa, dan mereka yang makan dan minum. Kamu bisa melihat tiap-tiap orang yang berteriak, orang-orang yang minum dan menari.

Kamu tahu semua ini karena kesadaranmu, intelektualitasmu, dan kebijakanmu masih berfungsi. Kamu tahu semua hal yang berlangsung, tapi jasadmu tidak dapat berbicara atau bergerak, bahkan mata pun tidak dapat berkedip.

“Ah, sungguh bodoh aku. Sekarang, lihatlah semua ini. Setan-setan telah mengelabuiku,” begitu kesadaranmu mendorongmu berkata, sembari berbaring tak berdaya. Dan kebijakan akan berbicara, “Betapa bodohnya kamu. Kamu tinggalkan Allah demi kerabat dan hubungan darahmu. Lihat, coba tatap keadaan jasad yang sudah mati ini, berbaring tak ubahnya seonggok kayu. Lihatlah keadaan yang kamu alami. Pandanglah monyet-monyet ini. Lihatlah bagaimana mereka semua yang makan dan minum. Lihatlah bagaimana jasadmu berbaring, lalu perhatikan cara monyet-monyet itu menari. Inilah yang kamu percayai, kan?” Kebijakan akan datang dan berbicara padamu seperti itu.

Sejak maut menjemput hingga jasad dibawa ke kuburan, kebijakan akan menuding semua benda, satu per satu, sambil terus berkata, “Lihat itu!” Dia akan memperlihatkan kepadamu semua yang telah terjadi sejak kamu dilahirkan hingga maut menjemputmu. Rekaman seluruh kehidupanmu akan diperlihatkan kepadamu: kesalahan apa yang kamu lakukan, keadilan apa yang telah kamu perlihatkan, apa-apa yang kamu timbun, apa-apa yang pernah kamu lihat, apa-apa yang kamu curi, semua pergerakanmu ke sana ke mari, bagaiamana kamu memarahi seseorang tanpa alasan, dan setiap kata yang kamu ucapkan. Bahkan pada saat-saat kamu mengatakan sesuatu di luar sembari menyembunyikan maksud lain di hati—–semua itu telah direkam. Setiap ekspresi, setiap seringai di wajahmu, perputaran bola matamu, tolehan kepalamu untuk memandang seseorang, dudukmu, bisikanmu mengenai hal-hal tertentu, dan bagaimana kamu mencari muka—-semua telah direkam di atas gulungan film kehidupanmu. Tak ada yang tercecer.

Kamu sendiri akan terbaring tanpa bisa bergerak, hanya memandang ke atas, menonton “film-film” kehidupanmu. Tapi  di dalam  dirimu, hujan air mata mengalir deras.

Kamu juga tidak akan bisa mengatakan satu patah kata pun untuk menanggapi atau protes karena mulutmu sudah ditutup dan nafas serta suaramu sudah dihentikan. Sepanjang mati rasa itu masih berlangsung. Setiap hal yang dicatat dua malaikat yang bertugas di kedua pundakmu (Raqib dan Atib, Red) dibeberkan. Kamu tidak akan sanggup menolaknya karena semua bukti dihadirkan di depan matamu.

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 15 September 1999.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda