Cakrawala

Harapan Terwujudnya Persatuan Islam

Written by Arfendi Arif

Indonesia sebagai negara mayoritas muslim sejak dulu mendambakan terwujudnya  persatuan. Namun, dalam sejarahnya persatuan itu belum pernah menjadi kenyataan, baik pada masa penjajahan maupun pada masa awal kemerdekaan. Namun, persatuan sebagai negara nasional sejak proklamasi kemerdekaan hingga sekarang telah terwujud dan eksis.

Persatuan Islam dalam hal ini tidak dimaksudkan  untuk mendirikan negara, karena NKRI sebagai negara Pancasila dianggap sudah final, tetapi persatuan umat dalam rangka mengembangkan nilai-nilai Islam yang positif untuk mengembangkan amal shaleh, amar makruf, nahi munkar dan  kemanusiaan bagi bangsa.

Problem persatuan umat Islam  sesungguhnya sangat kompleks, terutama kalau dilihat dari segi politik, sosial, pandangan budaya dan organisasi yang merumuskan tentang umat Islam.

Dalam hal ini analisa seorang ilmuan menunjuk tiga varian yang dimaksudkan umat itu. Pertama, umat atas dasar keagamaan dan keimanan. Menurut sensus tahun l980 jumlahnya 85 sampai 90 persen. Kedua, atas dasar kegiatan dan kemasyarakatan, yakni yang mencakup semua organisasi dan pemeluk agama Islam yang aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan di bidang agama. Jumlahnya sekitar 60 sampai 65 persen dari semua penduduk. Ketiga, atas dasar politik dan pandangan kebudayaan (world view). Ini mencakup semua organisasi dan individu yang secara sosial politik membentuk umat Islam di Indonesia sebagai kekuatan politik yang besar. Golongan ini terbagi dua. 1). Kaum determinalis, yang melihat partai berasaskan Islam sebagai satu-satunya partai, yang mewakili aspirasi ideologinya. 2). Kaum gradualis, yang menganggap bahwa tanpa melalui partai Islam pun, aspirasi politik atas dasar ke -Islaman dapat dilakukan (Lihat Dr.Burhan Magenda, Pokok-Pokok Pikiran  Tentang Pola Kepemimpinan Umat Islam di Indonesia, dalam Kepemimpinan Umat Islam, Suatu Telaah Dari Segi Ketahanan Nasional, Badan Litbang Agama Dep Agama RI Proyek Penelitian Keagamaan 1983-1984 hal.79).

Kemudian ada telaah dari aspek interen  ke-Islaman yang melihat juga terpecahnya umat. Pertama, adanya kenyataan kelompok yang membenci Islam  (Islam phobia). Golongan ini memusuhi agama Islam karena takut akan membawa masyarakat keadaan terkebelakang dan kekolotan. Mereka malu menampilkan diri sebagai orang Islam dan menjauhi segala hal-hal yang berbau Islam, seperti berpakaian secara Islam, berucap, bertingkah laku dan sebagainya.

Kedua, penganut sekularisme, yaitu yang memisahkan urusan keagamaan dengan urusan keduniaan. Golongan ini  melaksanakan ajaran agama yang bersangkutan dengan ibadat atau hubungannya langsung dengan Tuhan, seperti shalat, puasa dan sebagainya. Tetapi dalam masalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan -tegasnya masalah urusan duniawi–mereka pisahkan sejauh-sejauhnya dari persoalan agama.

Ketiga, konversi agama, yaitu karena pandangan yang keliru itu mereka meninggalkan agamanya semula, berubah menjadi penganut agama lain yang mereka pandang berkemajuan dan progresif. Keempat, kelompok yang menyesuaikan diri dan merasa puas dan senang dengan agama Islam. Mereka beranggapan bahwa agama Islam bukanlah untuk mendapatkan kesenangan dan kemegahan hidup di  dunia, tetapi untuk kesenangan hidup di akhirat ( Drs.N.A. Rasyid DT Mangkudun, Peranan al-Quran dalam Membangun Dunia Baru, Jakarta, CV Karya Indah, hal. 11-12).

Analisa yang mencoba melihat perbedaan  dalam hal strategi gerakan umat dicoba diulas oleh Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Analisa ini walaupun diulas dalam masa sistem politik  Orde Baru, namun masih bisa diadaptasi dalam situasi saat ini. Menurut Gus Dur , dalam merespon kebijakan politik dan negara kecenderungan gerakan Islam itu, pertama, tidak menampilkan diri dalam bentuk ekslusif. Islam tidak menampilkan warna ke-islamannya, melainkan mengintegrasikan kegiatannya dalam kegiatan bangsa secara keseluruhan. Pada kelompok ini tema-tema dan pilihan masalahnya dangan jelas, yaitu masalah yang dihadapi bangsa. Paradigma yang digunakan, berangkat dari agama untuk memecahkan masalah-masalah bangsa. Kedua, pandangan yang ingin mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui pranata negara (state). Mereka ingin agar agama menjadi pemecah (solusi) masalah. Paradigmanya, berangkat dengan agama untuk memecahkan masalah bangsa ( Lihat, Abdurrahman Wahid, NU, Pluralisme dan Demokratisasi Jangka Panjang, dalam M. Imam Azis, dkk,penyunting, Agama,Demokrasi dan Keadilan, PT Gramedia, Jakarta,hal. 217).

Menurut Gus Dur, disamping kecenderungan gerakan seperti di atas ada juga gerakan Islam tergantung tujuan dan agendanya. Misalnya, dalam bentuk LSM yang memberikan pelayanan pada masyarakat. Dan gerakan Islam yang berkiprah di bidang pendidikan, baik tingkat lokal maupun yang nasional seperti Muhammadiyah yang memilih bidang pendidikan, dan NU yang memilih membangun jalur pesantren.

Dalam pandangan Gus Dur, gerakan Islam penting dilihat  hubungannya  dalam konteks kekuasaan. Menurutnya, ada gerakan Islam yang memandang tujuan dan sasaran masing-masing akan lebih berhasil diraih melalui hubungan yang dekat dengan pemerintah., bahkan bilamana dianggap perlu dengan memasuki kekuasaan itu  sendiri. Mereka menganggap sangat penting untuk masuk ke dalam sistem kekuasaan, baik sebagai pelaku langsung maupun hanya sebagai perumus kebijakan atau jalur penetapan ( king makers) bagi personalia yang bergerak dalam pemerintah.  Sementara, ada juga gerakan Islam yang menganggap keikutsertaan dan kedekatan kepada pemerintah sebagai hal yang harus dijauhi. Dan mengutamakan pengembangan kemampuan melakukan perubahan, tanpa harus masuk ke dalam sistem kekuasaan. Selama hubungan baik  dengan pemerintah dijaga, dianggap sudah memadai (Abdurrahman Wahid, hal-220-221).

Kini di era reformasi dan era internet dengan medsosnya problema persatuan umat makin rumit. Secara politik meski partai politik Islam cukup banyak, namun belum mampu membangun persatuan yang kokoh. Bahkan, untuk memenangkan pemilu saja partai Islam tidak ada yang mampu dan kalah dari partai-partai  nasional. Dengan demikian persatuan dari segi partai politik sudah gagal.

Kedua, hadirnya dunia medsos saat ini makin memperparah persatuan. Kemajuan teknologi  digital ini ternyata tidak semuanya digunakan untuk mempermudah kehidupan dan menciptakan keharmonisan sosial, tetapi tidak terlepas dipakai  untuk kepentingan politik, menjatuhkan dan mengangkat seseorang. Bahkan, muncul profesi para buzzer yang dibayar untuk tugas tersebut.

Ketiga, Islam selalu dalam posisi dipojokkan dengan berbagai isu seperti teroris, radikal, intoleransi dan lainnya. Terkadang isu ini tidak selamanya benar dan obyektif,  namun selalu diulang-ulang dan dijadikan bahan pembicaraan dalam discourse publik.

Keempat, ada kalanya kalangan Islam yang bisa disebut phobia islam yang jalan pikirannya kadang merugikan umat Islam, dengan kritik dan tudingan terhadap umat Islam dengan tidak memiliki alasan kuat dan lebih menunjukkan sifat antipati dan tidak punya kepedulian terhadap Islam.

Menghadapi situasi kini dan masa depan  sudah saatnya umat Islam berfikir strategis untuk membangun persatuan umat.  Pertama, membangun kekuatan ekonomi. Kelemahan umat Islam adalah karena lemah dan terkebelakang di bidang ekonomi, dan kelemahan ini akhirnya umat memiliki daya tawar yang rendah  di bidang politik dan kehidupan strategis dan vital lainnya. Sudah saatnya umat Islam membangun kekuatan bisnis, kewiraswastaan  dan enterpreunership. Kekuatan ekonomi bisa berpengaruh besar dalam kehidupan politik dan bernegara, melebihi kekuatan politik. Karena itu ada baiknya umat Islam digerakkan aktif di dunia bisnis dan kewiraswastaan, jika 20 persen  saja  umat aktif di dunia bisnis maka ke depan sektor ekonomi menjadi lahan yang bukan hanya dikuasai satu golongan saja, tetapi juga menjadi ajang penguasaan wirausahawan muslim.

Kedua, umat Islam harus banyak melahirkan sumber daya manusia bermutu. Di era kemajuan teknologi tinggi sekarang ini maka manusia yang punya pendidikan yang baik ( well educated) akan mengisi posisi -posisi penting baik di birokrasi pemerintah, sektor swasta, dan perusahaan strategis asing maupun nasional.

Ketiga, ada baiknya umat Islam memiliki media informasi yang kuat, karena dunia medsos sekarang ini dan juga termasuk media mainstream tidak lagi independen. Mereka menunjukkan keberpihakan dan membangun opini  terhadap berbagai peristiwa termasuk dalam bidang politik dan figur-figur yang mereka dukung. Selain itu kalau umat memiliki media yang besar bisa menetralisir berita berita yang distorsi dan merugikan umat. Demikian juga dunia cyber harus dikuasai umat untuk mengimbangi berita berita hoax yang merusak di dunia maya.

Terakhir yang terkait dengan perpecahan atau perbedaan  di bidang pemahaman keislaman tentu saja harus diintensifkan sosialisasi, pendidikan dan  pencerahan Islam. Kalau Islam yang benar, utuh dan paripurna telah dipahami dengan baik maka apa yang disebut islamphobia, islam sekuler dan perasaan rendah diri (minder) terhadap Islam Insya Allah akan hilang dan lenyap. Dan, persatuan Islam akan menjadi kenyataan. Dan, apa yang disebut Nabi al -Islam ya’lu wala yu’la alaih bisa terbukti kebenarannya. Semoga harapan ini terkabul . Aamiin Yaa Mujibas Saailiin.  Allahu ‘alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda